Ena Ena - Sore jam setengah empat, Imron hampir menyelesaikan tugasnya hari itu dan sudah bisa pulang setelah membuang sampah yang sedang diangkutnya dengan troley. Saat itu dia sedang berjalan dengan santainya di basement parkir hendak menuju ke atas ke tempat pembuangan sampah. Tiba-tiba saja sebuah Karimun biru muncul dari tikungan dengan kecepatan cukup tinggi. ‘Niitt…niitt !!’ klakson itu mengenjutkan Imron, mobil itu mengerem mendadak dan menabrak tong sampah yang sedang didorongnya sehingga jatuh dan isinya sebagian tumpah. Pengemudi mobil itu, seorang pemuda tinggi besar berusia akhir 20an turun dengan membanting pintu.
“Heh…apa-apaan sih ini, jalan kok gak liat-liat !?” bentaknya pada Imron.
“Lho situ kan yang ga hati-hati, masa di tempat parkir ngebut gitu sih ?” jawab Imron santai sambil mengangkat tong sampahnya yang jatuh.
“Sialan, bukannya minta maaf malah belagu!” pemuda itu makin marah mendengar respon Imron yang cuek itu, dia menghampirinya dan mendorongnya di dada, “lu jangan macem-macem yah, baru jadi kacung aja udah ga sopan !”
“Ryan ! udah cukup, jangan ribut disini !” terdengar seruan dari belakangnya, seorang wanita muda berparas cantik turun dari mobil dan berjalan ke arah mereka untuk merelai.
“Udah lu kenapa sih, kan gua udah bilang jangan kenceng-kenceng tadi juga !” wanita itu memegangi lengan si pemuda sebelum terjadi keributan lebih lanjut, “maaf yah Pak, Bapak nggak apa-apa kan ?” wanita itu meminta maaf dan membantu memungut tutup tong sampah itu.
TEXAS POKER - LIVE POKER - DOMINOBET - BANDAR CEME - BANDAR CEME KELILING - CAPSA SUSUN (6 games dalam 1 User ID)
“Iyah ga apa-apa Non saya sih, lain kali hati-hati kalau disini jangan kenceng-kenceng, kan bahaya” Imron memperingati.
“Hee…awas lu yah lain kali berani lagi…” ancam pemuda sambil melotot padanya.
“Ayo ah, udah gua bilang, ayo pergi !” si wanita itu membentaknya dan segera menarik lengannya kembali ke mobil sambil beberapa kali meminta maaf pada Imron.
Si pemuda membanting pintu dan langsung tancap gas meninggalkan Imron.
“Mar ngapain sih lu tadi kok malah ngebentak gua buat belain si tua goblok itu !” kata Ryan penuh emosi dalam perjalanan.
“Gua bukan belain dia, tapi gua ga mau sampai harus ribut gara-gara masalah gini aja” balas Marina, “masa lu ga malu sih kalau sampai berkelahi diliatin orang banyak ntar, lu ga mikirin gua juga apa ?”
“Tapi kan dia yang nongol mendadak gitu, gimana gua ga kaget coba, lagian gaya bicaranya itu loh lu liat ga, nyepelein gua gitu !”
“Kan gua juga udah kasih tau sebelumnya jangan cepet-cepet, ngapain sih lu pake ngebut-ngebutan gitu, akhirnya bener kan !”
“Tapi kan Mar…” Ryan masih kukuh pada pendiriannya sambil meraih tangan Marina tapi langsung disentaknya, gadis itu menyandarkan diri pada pintu di sampingnya.
“Ya udah, ya udah, sori yah say…gua emang emosian tadi, sori yah !” Ryan akhirnya mengalah melihat Marina yang mulai naik darah.
Marina diam, masih tetap memalingkan wajah ke jendela tak mau memandang pacarnya itu. Ryan mengela nafas melihat reaksi pacarnya itu kalau sedang ribut. Keduanya berdiam diri selama beberapa menit perjalanan hingga di sebuah perempatan menunggu lampu merah. Ryan kembali meraih tangan Marina, kali ini gadis itu sudah melemaskan tangannya dan menerima. Ryan menggenggam tangan halus itu, mengetahui Marina sudah mulai mendingin, diraihnya bahu gadis itu dan dibawa ke dekapannya. Dielusnya rambut kekasihnya itu dan dikecupnya keningnya.
“Sori yah, gua tau lu sayang gua makannya ngelakuin seperti tadi” katanya.
Marina tersenyum dan mengecup pipinya, Ryan harus menjalankan kembali mobilnya karena lampu sudah hijau.
Marina (25 tahun) adalah seorang dosen muda di Universitas ******, ia telah mengajar di fakultas sastra Inggris selama dua tahun segera setelah kelulusannya dengan predikat Cum Laude. Selain memiliki otak yang cemerlang dan karakter yang lemah lembut, Marina juga dikaruniai kecantikan fisik yang menawan. Wajahnya yang manis dengan rambut pendek kecoklatan mengingatkan pada Sun Shangxiang, salah satu karakter dalam game Dynasty Warriors. Belum lagi tubuhnya yang langsing dan kulitnya yang putih mulus. Tinggi badannya 166 cm, termasuk sedang untuk standar Asia. Yang sering menjadi perhatian adalah payudaranya yang sedang tapi membusung indah dan lekuk pinggulnya yang indah sehingga bila memakai pakaian ketat mencetak lekuk-lekuk indah itu. Perkuliahan di sastra Inggris yang surplus wanita menjadi lebih semarak dengan adanya dosen cantik seperti dirinya, mahasiswa tidak akan ngantuk bila mengikuti kuliahnya, setidaknya begitulah kata beberapa mahasiswa. Pernah suatu ketika ia mengajar dengan rok yang agak pendek sehingga beberapa mahasiswa malah lebih konsen memperhatikan paha mulusnya daripada pelajaran yang disampaikan.
Sebenarnya penampilan Marina di kampus tempatnya mengajar masih tergolong sopan, tapi pikiran ngeres para mahasiswa yang melihatnya membuat Marina jadi perbincangan di antara mereka. Bahkan tak sedikit mahasiswi yang sirik pada kecantikan Marina, tapi mereka tentu saja tak berani menunjukkan secara terang-terangan. Sedangkan mahasiswanya condong mencari perhatian dari dosen baru yang cantik ini. Tapi Marina menanggapi semua itu dengan biasa saja. Ya, sebagai idola di sekolahnya dulu baik ketika SMA maupun kuliah, memang Marina sudah sering menghadapi lelaki iseng yang mencari perhatiannya, mencuri pandang pada dirinya dan bergenit ria ketika terlibat percakapan dengannya.
************************
Jam 19.13 (hari yang sama), mini teater, gedung fakultas sastra
“Aakkhh…aaww…udah Pak, jangan lagi!” rintih Jesslyn merasakan lecutan-lecutan sabuk Imron di punggung dan pantatnya.
Gadis berambut panjang kemerahan itu tergantung berdiri tanpa busana dengan kedua pergelangan tangan terikat jadi satu ke atas. Bekas-bekas lecutan memerah nampak pada beberapa bagian kulitnya yang putih mulus.
“Hihh…nih, mampus lu bangsat huh!” Imron memecut punggung gadis itu dengan sabuknya sambil memaki-maki melampiaskan kekesalannya tadi sore.
Penjaga kampus bejat itu sangat menikmati setiap jerit kesakitan yang keluar dari mulut mahasiswi cantik itu. Puas memecut Jesslyn hingga gadis itu terengah-engah dan air matanya keluar, ia mencampakkan sabuknya ke lantai lalu menghampiri gadis yang tergantung bugil itu sambil membuka celananya, penisnya yang sudah mengeras langsung mengacung dengan gagahnya begitu ia menarik turun celananya. Tangannya yang satu mendekap tubuh gadis itu dari belakang sementara tangan lainnya menggenggam penisnya untuk menuntunnya memasuki vagina gadis itu.
“Och…hhhaahh!” Jesslyn mendesis menahan nikmat yang timbul dari gesekan alat kelamin mereka.
Imron mulai memaju-mundurkan pinggulnya dengan perlahan. Tubuh Jesslyn bergetar saat batang panjang berurat itu menggesek dinding vaginanya. Tangan pria itu yang tadinya memegang kedua sisi pinggulnya merambat naik dan meremas kedua payudaranya.
“Aauuhh…sakit Pak, jangan kasar gitu dong aaah!” erangnya dengan meringis karena Imron meremasi payudaranya dengan keras.
Sementara itu penisnya terus menghujam vaginanya tanpa ampun dengan frekuensi genjotan makin cepat. Amarah dan nafsu membuat Imron menjadi brutal terhadap budaknya ini.
“Ngentot lu…ngehek…uuuhh…huuhh!” ceracau pria itu sambil menyodok-nyodokkan penisnya dengan keras membuat tubuh gadis itu tersentak-sentak.
Jesslyn tak mampu menahan rintihannya apalagi terkadang tangan pria itu menampar pantatnya, untungnya ruang ini dindingnya berlapis kain sehingga suara di ruangan tempat mereka dapat diredam. Sambil terus menggenjot, Imron menyusupkan kepalanya menjilati ketiak Jesslyn menimbulkan sensasi geli pada gadis itu. Gadis itu merasakan otot-otot vaginanya semakin berdenyut-denyut mencengkram kuat penis Imron. Tak lama kemudian pria itu menggeram dan meremas payudaranya lebih keras. Dengan satu hentakan kuat, penis itu melesak sedalam mungkin hingga mentok. Saat itu lah benda itu memuntahkan lahar putihnya di dalam vagina gadis itu. Imron masih terus menggerakkan pinggulnya hingga akhirnya Jesslyn pun menyusul ke puncak tak lama setelahnya. Sebuah erangan panjang keluar dari mulutnya, tubuhnya mengejang seperti tersengat listrik. Akhirnya keduanya sama-sama terdiam lemas tak berdaya, penis Imron mulai menyusut di dalam vagina gadis itu. Jesslyn merasakan cairan hangat itu meleleh ke paha dalamnya. Beberapa saat kemudian Imron baru melepaskan diri, diangkatnya dagu gadis itu yang kepalanya tertunduk lemas.
“Hehe…makasih Non, udah lega Bapak sekarang!” ucapnya lalu mengecup pelan bibir gadis itu sejenak.
“Tolong lepasin saya Pak!” pinta gadis itu lemas, “tangan saya sakit nih tergantung terus”
Imron pun melepaskan ikatan yang mengikat kedua pergelangan tangan Jesslyn. Gadis itu langsung ambruk ke lantai begitu ikatan dilepaskan. Ia mengelus-elus pergelangannya yang terasa panas.
“Sori Non agak kasar hari ini, tadi sore ada yang bikin saya kesal sih” ujarnya seraya melemparkan pakaian gadis itu pada pemiliknya.
“Whatever lah…lu yang BT kok gua yang jadi pelampiasan sih, dasar gila!” omel Jesslyn dalam hati sambil mulai memakai pakaiannya.
Setelah selesai berpakaian ia segera meninggalkan ruangan itu tanpa berkata apapun lagi pada si penjaga kampus bejat itu. Ia masih merasakan nyeri akibat pecutan Imron tadi. Imron segera mematikan lampu ruangan itu dan menguncinya setelah membereskan perabot. Kemarahan di hatinya akibat insiden kecil sore tadi agak berkurang setelah melampiaskannya pada salah satu budak seksnya.
Seminggu kemudian
Hari itu setelah selesai mengajar, beberapa mahasiswa bertanya soal tugas yang baru saja diberikan oleh Marina, yang menjelaskan tugas itu dengan detail walaupun ia menyadari ini cuma akal akalan dari para mahasiswa ini. Setelah selesai menjelaskan semuanya, Marina segera menuju ke parkiran mobil, dimana kekasihnya sedang menanti dengan wajah cemberut. “Kok sampai jam segini sih baru keluar Mar?”, tanya Ryan dengan kesal. “Sori deh”, jawab Marina. “Tadi waktu baru keluar kelas, banyak mahasiswa yang nanya tentang tugas…”
Belum selesai Marina bicara, Ryan memotong dengan bersungut sungut, “Mereka itu harusnya nanya waktu masih di dalam kelas! Sudah waktunya pulang ya pulang, Lu kan gak perlu ngelayanin mereka?”
“Lu kenapa sih Ryan? Lu tahu kan gua ini dosen? Masa pantas kalo ada mahasiswa yang tanya sama dosen, dan dosennya nggak menjawab malah pergi begitu saja?”, dengan sebal Marina pergi meninggalkan Ryan dan mobilnya.
Ryan langsung mengejar dan memegang pergelangan tangan Marina. Sekali ini Marina yang larut dalam emosinya, menyentakkan tangannya dan meninggalkan Ryan. Tanpa perduli pada Ryan yang masih terus memanggil manggil namanya, Marina menyetop taxi dan masuk meninggalkan Ryan. Marina berusaha menenangkan diri di dalam taxi, dan merenung tentang apa yang baru terjadi. Marina agak sedih akan sikap Ryan yang masih kekanak kanakan itu, dan mencoba untuk tak memikirkannya lagi. Tiba tiba handphonenya berbunyi, dan Marina menjawab handphonenya. “Maaf Marina, aku..”, baru Ryan bicara, Marina sudah memotong, “Sudalah Ryan, hari ini biarkan gua sendiri, capek gua ngadepin lu yang kekanak kanakan gitu. Lu coba pikirkan tadi mengapa gua sampai meninggalkan lu”. Marina memutus pembicaraan. Handphonenya kembali berbunyi, dan setelah Marina melihat nomer penelepon yang terpampang di layar handphonenya, Marina tak memperdulikan dan menerawang ke jendela.
Demikian, kadang Marina dan Ryan bertengkar, tapi Marina selalu memaafkan Ryan, karena Marina merasa Ryan mencintainya. Sungguhpun sebenarnya Marina ingin agar Ryan lebih dewasa. Sayangnya sifat Ryan yang kekanak kanakan itu sepertinya sudah mendarah daging. Bahkan Marina tak pernah bermimpi, Ryan yang sudah terbiasa arogan itu suatu saat akan menyeret Marina ke dalam malapetaka hebat. Suatu hari sepulang dari mengajar, Marina berjalan ke parkiran, dan melihat lagi lagi Ryan bermasalah dengan Imron.
“He bopeng! Lu itu goblok atau tolol? Atau lu sengaja ya menabrakkan bak sampahmu ke pintu mobil gue?” bentak Ryan pada Imron. Kali itu Imron menatap tajam pada Ryan, dan dengan nada tinggi Imron menjawab, “Salahnya siapa situ tadi buka pintu mobil gak lihat lihat? Sudah untung situ nggak saya suruh beresin sampah yang berantakan ini!”. Ryan yang merasa ditantang, makin menjadi, “Loh! Apanya yang beresin sampah itu? Itu sih sudah tugas kacung seperti kamu goblok! Sekarang ini pintu mobil gue yang penyok, urusannya… “. Belum selesai Ryan bicara, Marina yang sudah di situ membentak Ryan, “kamu ini kenapa lagi sih Ryan? Nggak bosen berantem sama orang?”.
Ryan yang masih emosi menjawab dengan nada tinggi “Kacung goblok ini, dorong bak sampah gak liat depan, pintu mobilku diterjang begitu sana…”, dan langsung dipotong Imron, “Situ kalo bicara yang betul ya! Pas saya sudah dekat situ kan yang sengaja buka pintu?”. Marina yang merasa tidak enak, mengeluarkan uang lima puluh ribuan dari dompetnya, dan memberikan pada Imron.”Pak, maaf ya. Ini bukan maksud saya ganti rugi, ini cuma buat pak Imron beli minum”. Imron menolak, “Saya gak perlu uang itu bu Marina. Cuma.. orang ini siapa sih? Tolong ajarin sopan santun bu. Beda sekali tata krama Bu Marina dengan orang brengsek ini “, kata Imron dingin sambil menunjukkan tangannya ke arah Ryan.
“Kamu!!”, bentak Ryan sambil bersiap melayangkan kepalannya ke arah Imron. Marina langsung membentak Ryan, “Apa apaan kamu Ryan? Hentikan semua ini!”. Imron melenggang pergi setelah Ryan masuk ke mobilnya sambil membanting pintu. “Maafkan sekali lagi pak Imron”, kata Marina. “Nggak apa apa bu Marina”, jawab Imron tanpa menoleh.
Marina jengkel sekali pada Ryan yang tak memberinya muka di kampus. “Lu kalo ke sini kerjanya cuma marah marah sama pak Imron, lebih baik lain kali gak usah jemput gua Ryan!”. Ryan yang tak terima, setengah membentak berkata, “Lu kok malah belain si bopeng itu sih? Yang jadi pacarmu itu gua atau si bopeng itu??”
‘PLAK!’. Marina menampar Ryan dengan keras. “Cukup! Minggirkan mobil ini! Gue mau turun!”, bentak Marina. Ryan langung surut, dan memohon pada Marina, “Mar, maafin gue.. gue lagi emosi tadi. Biarkan gue anter lu pulang ya..”. Marina tak perduli dan tetap meminta turun, dan sampai sekitar 5 menit Ryan memohon mohon baru akhirnya Marina luluh juga. Ryan tahu itu ketika Marina tak lagi menyentakkan tangannya ketika Ryan mencoba lagi untuk menggenggam telapak tangan Marina. Dengan tersenyum lega Ryan menjalankan mobil menuju ke rumah Marina…
*******************
Beda dengan Ryan yang sudah bisa tersenyum, Imron masih terbakar oleh amarah. Ia amat jengkel dengan kelakuan Ryan tadi. Duduk di depan gudang, mukanya yang masam terlihat oleh Encep. Dengan heran Encep bertanya, “Kenapa bos?”. Imron yang melihat Encep cengar cengir dengan jengkel membentak, “Lagi jengkel sama orang tau! Berani beraninya cari perkara sama gue, dua kali lagi!”. Encep bertanya, “Siapa bos? Sini gua hajar!”. Dengan sinis Imron berkata “Halah sok jago lu Cep!”.
“Bos, kalo ada yang macem macem, kita kasih pelajaran saja bos!”, kata Encep. Imron mulai setuju, dan menjelaskan kejadian tadi yang menyesakkan dadanya itu. “Untung gue masih bisa menahan diri, kalo tidak ..”, gerutu Imron. “Gini saja Cep, gue ada rencana untuk gebukin si brengsek itu”, kata Imron yang kini juga mulai tersenyum, senyum yang bengis. “Nghajar si Ryan saja bos? Gimana dengan bu Marina? Masa kita biarin aja, kan kesempatan nih!”, tanya Encep penuh harap. “Lu ini nafsu ya kalo liat bu Marina? Ya sudah kalo gitu bantuin gue ngurus si Ryan, nanti lu gue kasih hadiah bu Marina. Gimana?” tanya Imron yang tentu saja segera disetujui oleh Encep.
“Kalian lagi ngomongin apa?” tanya satpam kampus lain yang tiba tiba datang dan nimbrung. “Oh kamu Har. Begini…”, Imron menceritakan semuanya, termasuk rencananya menghajar Ryan, dan keinginan Encep tentang Marina. “Oh begitu toh ceritanya. Gue ada akal nih. Kalo kita lakukan itu di dalam kampus, bisa gawat, kita harus bisa bawa si pecundang itu ke tempatnya Gufron, tukang tambal ban yang setengah kilometer dari gerbang kampus ini. Inget? yang ada gubuknya itu?”, tanya Kahar. Imron dan Encep mengiyakan. Mereka segera berunding, menyusun rencana. Sesungguhnya,
Taring di mulut ular dan sengat di ekor kalajengking,
tak cukup berbisa untuk menandingi racun di hati mereka.
******************
Jam 18.45
Hari yang sama
“Jadi semua udah lu atur rapi Har?” tanya Imron pada Kahar melalui ponselnya.
“Beres Ron, tinggal jalanin…pokoknya lu tunggu aja tanggal mainnya!” kata Kahar di seberang sana, “pokoknya dijamin kunyuk itu pasti kena kali ini”
“Yakin nih si Gufron ga bakal ngecewain?” tanyanya lagi, “kalau gagal kita yang mampus soalnya.”
“Tenang aja Ron dah gua instruksiin semuanya ke dia, pasti beres, dijamin!” kata Kahar dengan penuh keyakinan, “lagian dia juga kan pengen icip-icip tuh, pasti hati-hati lah”
“Ya udah deh, gua percaya aja, jadi ga sabar nunggu lusa nih hehehe…oke gitu dulu yah!” Imron menutup pembicaraan dan mematikan ponselnya.
Di wajahnya tersungging sebuah senyum mesum dan licik, ia lalu bangkit dari toilet yang didudukinya. Toilet duduk itu tutupnya sejak tadi memang tertutup, Imron berada di kamar mandi itu memang bukan untuk buang air melainkan hanya untuk membicarakan rencana busuknya dengan si satpam bejat itu. Ia pun membuka pintu dan keluar setelah menyelesaikan pembicaraannya. Terdengar suara acara berita dari TV di ruang tengah apartemen itu dan suara memotong di dapur kecil yang letaknya menyatu dengan ruang tengah dan meja makan. Ketika sampai di ujung lorong ia melihat Megan, si gadis bule itu, sedang memotong-motong kol untuk membuat salad di dapur berbentuk mini bar itu.
“Oh…hai duduk dulu Pak sambil nonton tivi, ini sebentar lagi beres!” gadis itu membalikan kepala menyadari kehadiran Imron yang sudah keluar dari toilet.
Imron menjatuhkan diri di sofa empuk itu, sambil mendengarkan berita di TV ngobrol-ngobrol santai dengan gadis bule itu. Ya, mahasiswi Amerika yang sedang studi di universitas tempat Imron bekerja itu memang telah akrab dan menganggapnya teman, baik teman biasa dan juga partner seks. Hubungan itu telah berlangsung hampir sebulan lamanya sejak percintaan pertama mereka di apartemen ini dan tentu saja secara sembunyi-sembunyi.
Tiba-tiba ponsel Megan yang di atas meja ruang tengah berbunyi. Sebelum diminta, Imron sudah mengambil benda itu dan menyerahkannya pada gadis itu.
“Thank you” katanya lalu menerima panggilan itu.
Ia berbicara dengan bahasa Inggris dengan orang yang di telepon yang adalah rekannya sesama pengajar di tempat kursus Bahasa Inggris. Sementara Megan ngobrol dengan temannya, Imron memandangi tubuhnya yang dibungkus kaos tanpa lengan warna hijau dan celana pendek bercorak kamuflase yang satu stel dengan atasannya motif ‘army look’. Rambut pirangnya yang panjang saat itu diikat ke belakang sehingga memperlihatkan lehernya yang jenjang. Kaosnya yang agak ketat tak mampu menyembunyikan keindahan payudaranya yang membusung padat itu, juga pahanya yang ramping dan mulus itu sungguh menggugah selera. Pemandangan itu memancing Imron mendekatinya. Ia pun memutar memasuki pintu dapur, berjalan pelan-pelan mendekati gadis itu yang membelakanginya.
“Ok, bye Sylvia….see you tommorow!” Megan menutup pembicaraan ketika Imron telah semeter di belakangnya, ia menaruh ponselnya dan meneruskan memotong sayuran.
Sebentar saja Imron telah berada di belakangnya, dekat sekali sehingga ia dapat mencium harum tubuhnya.
“Hei!” Megan menjerit kaget ketika merasakan sebuah tangan meremas pantatnya dan tangan yang lain merangkul pinggangnya yang ramping, “jangan sekarang Pak”
Imron tidak peduli, ia menciumi tenguk gadis itu yang ditumbuhi rambut-rambut pirang halus. Harum tubuh gadis itu membuat Imron makin terangsang, tangannya mulai merambahi payudara montok dara Amerika itu. Seperti yang telah diduga, Megan tidak memakai bra, sehingga jari-jari Imron dapat merasakan putingnya di balik kaos itu. Gadis itu menggeliat dan mencoba menghindar, tapi penolakannya tidaklah sungguh-sungguh sehingga malah membuat Imron semakin gemas. Imron semakin mendesaknya sehingga tubuh gadis itu kini terjepit antara tubuhnya dan meja dapur.
“Saya lagi kerja…lepaskan Pak!” desah Megan sambil menggerak-gerakkan bahunya untuk menghindari ciuman Imron di sekujur lehernya.
Sekilas memang Megan tampak menolaknya, namun dalam hati ia justru berharap pria itu tidak menghentikan aksinya. Nafasnya terasa semakin berat karena pria itu terus merangsangnya dengan memencet-mencet putingnya dari luar kaosnya, juga menciumi leher dan tenguknya secara intens.
“Non Megan, kan tinggal sebulan kurang lagi Non pulang ke Amerika…saya ntar kangen banget lho!” kata Imron di telinga gadis itu sambil menjilat daun telinganya.
“Hhssshh….but Pak, jangan sekarang!” desisnya lirih.
Imron meneruskan aksinya dengan memeloroti celana pendek gadis itu, pemandangan indah langsung terpampang karena ia tak memakai celana dalam. Pantatnya yang bulat padat membuat Imron tidak tahan untuk tidak meremasnya.
“Oooww!” jeritnya pelan ketika Imron dengan gemas menampar pantatnya tidak terlalu keras.
Megan tidak bisa lagi melanjutkan membuat saladnya, ia meletakkan pisaunya dan kedua tangannya berpegangan di pinggir meja dapur. Tubuhnya bergetar ketika tangan Imron mulai menyusuri celah sempit diantara kedua bongkahan pantatnya yang seksi itu. Jari-jari itu semakin ke bawah, lalu ke depan, menyelinap ke bibir vaginanya dari belakang.
“Hehehe…dicukur yah Non, jadi licin gini?” kata Imron merasakan vagina gadis itu bersih tak berbulu karena memang baru dicukur dua hari sebelumnya.
Megan menggelinjang merasakan kenikmatan mulai terbangun dari bawah sana, apalagi jari-jari pria itu mulai menyusup ke vaginanya serta mulai mengorek-ngoreknya Gadis bule itu menggigit bibir bawah dan mendesah lirih meresapi kenikmatan yang semakin menjalar ke sekujur tubuhnya.
Sementara itu tangan Imron yang lain mulai menyusup masuk lewat bawah sehingga kaos hijau itu pun tersingkap. Megan merasakan telapak tangan kasar dan hangat itu merayapi perutnya yang rata, naik ke bagian bawah payudaranya hingga akhirnya hinggap di salah satu puncaknya. Imron merangsangnya sedemikian lihai sampai gadis bule itu menggeliat dan mendesah nikmat. Rambut Megan yang terikat ke belakang mempermudah bibir tebal Imron menjalari lehernya dan mengendusi tenguknya membuatnya itu kegelian.
“Pak Imron….oowwhh!” desahnya pasrah.
Kemudian Imron membalik tubuh Megan,dan dengan cepat mengangkat tubuhnya serta mendudukkannya di tepi meja dapur. Tangannya menarik lepas celana pendek gadis itu yang masih menyangkut di pahanya lalu melemparnya ke belakang. Megan membuka bajunya sendiri hingga telanjang bulat di depan pria itu. Birahinya sudah cukup tinggi sehingga ia mulai agresif dengan menarik pria itu dan mereka terlibat percumbuan yang panas. Terlintas di ingatannya, di tempat yang sama pula mereka memulai affair ini beberapa waktu yang lalu. Di tengah percumbuan itu, Megan merasakan suatu benda tumpul yang keras menekan vaginanya.
“Eemmhh….mmmhhh!” erangnya tertahan ketika benda itu menekan masuk ke vaginanya.
Ia sangat menyukai milik Imron itu, penis Indonesia satu-satunya yang pernah mampir di vaginanya. Setiap gesekan permukaan batangnya yang keras dan berurat itu dengan dinding vaginanya sungguh mendatangkyan sensasi yang luar biasa. Mereka melepas cumbuan ketika Imron mulai menggerak-gerakkan penisnya maju-mundur. Genjotan Imron membuat gadis itu terbuai dalam arus birahi dan menyerahkan diri sepenuhnya tanpa memandang perbedaan apapun di antara keduanya. Wajah Megan nampak lebih menggairahkan pada saat terangsang seperti ini, matanya yang hijau semakin sayu seakan memohon kepuasan, bibir tipisnya yang basah membuka dan mengeluarkan erangan erotis. Sambil menggenjot Imron mengambil seiris tomat dari piring di sebelah lalu meletakkanya di payudara gadis itu. Megan kegelian merasakan potongan tomat yang basah dan dingin itu di permukaan kulitnya. Sensasi itu semakin nikmat ketika Imron mengunyah tomat itu sehingga sesekali putingnya tergigit.
Kemahiran Imron dalam bercinta mengantarkan dara Amerika itu ke puncak kenikmatan dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Tubuh gadis itu mengejang dan mulutnya mengeluarkan desahan panjang menyongsong orgasme pertamanya. Imron mempercepat sodokannya tanpa mempedulikan Megan yang masih didera orgasmenya. Cairan orgasme gadis itu menyebabkan vaginanya makin licin sehingga penis Imron semakin lancar keluar-masuk di lubang itu. Akhirnya tak lama kemudian, Imron pun menyusul ke puncak. Dengan sebuah erangan panjang, ia menuntaskan nafsunya, penisnya menumpahkan banyak sekali lahar putih kental ke vagina gadis itu.
“Ohh…he really knows to satisfy me!” kata Megan dalam hati.
Selama beberapa saat, Imron membiarkan penisnya menancap dalam-dalam di vagina gadis itu hingga benda itupun menyusut di dalam sana. Mereka berpelukan dan berciuman ringan menikmati sisa-sisa orgasme. Makan malam jadi tertunda akibat pergumulan kecil itu. Imron membantu gadis itu membereskan dapur dan menyiapkan makan malam, setelahnya mereka makan bersama sambil ngobrol-ngobrol tentang kegilaan yang mereka lakukan tadi. Empat puluh menit kemudian pergumulan itu berlanjut di kamar dalam waktu yang lebih lama hingga akhirnya Megan tertidur dalam kelelahannya. Malam itu Imron kembali menginap di apartemen gadis itu, di ranjang empuk, kamar ber-AC dan ditemani gadis cantik. Seringai jahat tergurat di bibirnya sambil memeluk gadis bule yang telah tertidur di sebelahnya itu, tak lama kemudian ia pun turut terlelap bersamanya.
**********************************
Dua hari kemudian
Suatu hari, seperti biasanya, Ryan sedang menunggu Marina di tempat parkir. Suasananya lagi sepi seperti biasanya. Selagi menunggu, medadak Ryan mendengar suara gerobak sampah yang biasanya didorong Imron. Ryan dengan angkuh memandang dari spion mobilnya, dan Imron lewat di sebelah mobilnya. Tak ada yang aneh, sampai ketika di depan Imron menggebrak kap mesin mobil Ryan. Dengan marah Ryan turun hendak menghadang Imron, tapi “BUKK!!”, sebuah kayu besar dipukulkan oleh Encep ke kepala Ryan dari belakang, dan Ryan pingsan. Imron segera mengembalikan bak sampah ke gudang, dan ketika kembali ia melihat Kahar sudah datang dengan Gufron yang membonceng di sepeda motornya. Imron merogoh semua kantong baju dan celana Ryan, dan kunci mobil, dompet serta handphonenya disimpan oleh Imron. Kemudian dengan cekatan Gufron yang memang tukang ban itu melepas ban serep mobil Ryan, dan dengan dibantu Encep, Imron menaikkan Ryan yang tentu saja masih belum sadar itu ke sepeda motornya Kahar. Encep naik ke sepeda motor juga di belakang Ryan, dan memegangi Ryan. Kahar segera melajukan sepeda motornya ke gubuk Gufron, tempat yang sudah direncanakan kemarin.
Imron mengunci pintu mobil Ryan, dan bersama Gufron ia pergi ke gubuknya Gufron. Situasi yang sepi memuluskan rencana mereka. Sampai di dalam, Ryan didudukkan di sebuah kursi, dan diikat erat. Lalu bersama Kahar, Encep kembali ke kampus, dan bersandar di belakang mobil Ryan, menunggu Marina datang. Sedangkan pak Kahar duduk di posnya seolah olah tak ada kejadian apa apa. Sementara itu, di gubuk Gufron, Imron bersiap melakukan pembalasannya terhadap Ryan. Gufron menyiramkan air dari tempat yang biasanya digunakan untuk memeriksa titik kebocoran ban dalam ke muka Ryan. Gelagapan Ryan tersadar, dan setelah menyadari keadaannya, dimana ia melihat Imron yang menyeringai dengan sinis ke arahnya, Ryan menjadi ketakutan. “Apa yang lu lakuin? Lepaskan gua!” bentak Ryan dengan tidak yakin. Imron dan Gufron saling pandang, dan tertawa terbahak bahak. Lalu Imron segera memberikan bogem mentahnya pada ulu hati Ryan, yang langsung terbatuk batuk. Dan setelah Gufron memberikan satu dua pukulan pada Ryan, Gufron segera keluar, berjaga di tempatnya seperti biasa, menunggu orang yang membutuhkan jasa pompa ban ataupun tambal ban. Di dalam, Imron terus menghajar Ryan dengan penuh dendam, sehingga keadaan Ryan sudah babak belur. Terdengar beberapa kali Ryan mohon ampun, tapi tentu saja Imron tak mau melepaskan kesempatan ini begitu saja.
“Ini pelajaran untuk orang orang yang biasa sok jago seperti loe!”, bentak Imron sambil terus melayangkan pukulannya. “Mana kesombongan loe hah? Kok sekarang malah nangis minta ampun?”, bentak Imron. Ia memukul, menampar dan menendang Ryan sesuka hatinya.
Selagi Imron melampiaskan dendamnya, Marina yang sudah selesai mengajar, berjalan ke arah parkiran, dan ia agak heran melihat Encep yang bersandar di belakang mobil kekasihnya. Lebih heran lagi, ia tak melihat keberadaan Ryan. “Pak, bapak lihat teman saya yang punya mobil ini?” tanya Marina pada Encep, yang segera menjawab, “Iya bu, tadi pak Rian titip pesan pada ibu, kalo pak Rian menambalkan ban mobil ke tempat tambal ban yang di sebelah timur itu bu..”. Marina bertanya lagi, “Jauh nggak pak dari sini?”. Encep menjawab, “Nggak bu, Cuma setengah kilometer kira kira. Ibu mau ke sana? Perlu saya antar? Kalo tidak saya mau melanjutkan pekerjaan saya bu, saya masih…”. Marina langsung memotong, “Iya pak, tolong antar saya ke sana bentar pak”. Marina melihat jam tangannya, sekarang pukul 2 siang.
“Baik bu, ikuti saya”, kata Encep dan membalikkan badan, berjalan menuju ke gubuk si Gufron tadi. Ketika melewati pos satpam, Kahar sesuai rencana, menyapa Marina, “Bu, itu tadi ban mobil pak Ryan kempes, itu lagi nambal di sana bu”. Kahar menunjuk ke arah gubuk Gufron, dan Marina menganggukan kepalanya dan berkata, “terima kasih pak”.
Maka dengan diantar Encep, Marina yang makin percaya kalo Ryan memang sedang menambal ban, pergi menuju ke tempat itu. Marina sama sekali tak pernah membayangkan apa yang sedang terjadi, dan apa yang akan terjadi terhadap dirinya. Ia tak tahu Encep sedang tersenyum lebar, dan Gufron yang melihat kedatangan mereka berdua dari jauh, segera masuk dan memperingatkan Imron. Imron segera menyumpal mulut Ryan, dan bersembunyi di balik pintu. Dan Gufron kembali keluar, pura pura baru selesai memompa ban serepnya Ryan.
Marina yang tahu itu memang ban mobil Ryan, segera mendekat dan bertanya, “Pak, mana pemiliknya ban ini? Sudah dibayar belum pak?”. Lagi lagi Marina agak heran karena tak melihat Ryan. “Oh, bapak yang punya itu ada di dalam bu, lagi istirahat. Katanya kepalanya agak sakit. Belum dibayar bu, tapi ya orangnya ka nada di dalam”, kata Gufron. Marina lega sekaligus kuatir. Lega karena sudah tahu dimana Ryan, kuatir karena jarang ia mendengar Ryan sakit kepala. “Boleh saya masuk pak?”, tanya Marina. “Oh boleh boleh, mari silakan masuk!”, kata Gufron sambil membuka gubuknya.
Begitu Marina melangkah masuk, Marina merasa pinggangnya ditekan sesuatu, dan terdengar suara Encep, “Bu Marina, jangan berteriak kalo mau selamat!”. Marina terkejut sekali, selain dirinya ditodong, ia melihat kondisi Ryan yang sudah babak belur. Encep mendorong Marina masuk, sedangkan Gufron kembali menjaga tempatnya, sehingga tidak akan ada orang yang curiga. Toh Imron sudah berjanji, ia akan mendapat bagiannya, yaitu tubuh Marina. Gufron amat tergiur melihat cantiknya Marina sehingga ia memandangnya terus sampai wanita itu masuk.
Di dalam, Marina tahu mereka berdua dalam masalah besar setelah Marina mendapati Imron ada di situ juga. “Ryan… lu gimana… makanya Ryaan.. lu kok selalu cari perkara? Minta maaflah Ryan pada pak Imron…”, kata Marina sambil menangis. “Pak Imron.. maafkan Ryan pak.. saya bersedia mengganti kerugian bapak… “, dan langsung dipotong Imron, “Diam! Saya tak butuh uang ibu!”. Marina tercekat, tak tahu harus bagaimana. Tapi sejenak kemudian Marina kembali memohon, “Pak, tolong lepaskan Ryan pak, maafkanlah dia..”, kata Marina, air matanya berderai. “Enak saja bu, Ibu kan tau orang ini berkali kali menghina saya. Tapi.. kalo ibu ingin saya melepaskan orang ini, saya punya tawaran untuk bu Marina..”, kata Imron. Sebuah pepatah mengatakan,
Jangan menciptakan musuh bagi dirimu sendiri,
Karena sekali permusuhan dimulai, tidak akan berakhir.
Mengganggu orang lain mengakibatkan dirimu diganggu juga,
Kau membawa kesusahan bagi dirimu dan orang yang kau cintai.
“Apa itu pak? Bapak boleh minta apa saja pak, asal lepaskan Ryan”, kata Marina penuh harap. “Apa saja bu?”, tanya Imron dengan menyeringai. “I.. Iya pak”, kata Marina dengan tak yakin. Marina mulai merasa tak enak.
”Hahaha…itulah yang saya harapkan!” Imron tertawa penuh kemenangan, ia maju selangkah dan mengelus pipi wanita itu, “Ibu memang cantik dan penuh pengertian”
“Kurang ajar!” Marina menepis tangan pria itu dengan kesal, ia ingin berteriak namun tidak sanggup karena situasi ini, “Bapak…bapak mau apa?!”
“Semua orang di kampus juga tau Ibu ini dosen favorit, cowok mana yang gak pengen ngerasain ngentot sama Ibu, masa Ibu belum tau apa mau kita sih?” Encep menimpali.
“Aa…apa? Tidak…saya nggak mau!” Marina tertegun, wajahnya memucat mendengar ucapan Encep yang tidak senonoh dan sangat merendahkannya itu, ia mengerti apa yang diinginkan mereka sehingga secara refleks ia menyilangkan tangan di dadanya seolah menutupi tubuhnya dari tatapan mata mereka yang menelanjanginya.
“Jadi Ibu lebih memilih kekasih Ibu ini saya hajar lagi lalu saya kebiri dia hah?” ancam Imron seraya menjambak rambut Ryan yang terikat tak berdaya itu.
“Jangan, lepaskan dia!” Marina hendak merangsek ke depan dengan berlinang air mata, namun Encep dengan sigap mendekapnya dari belakang.
“Eeeiitt…awas Bu, jangan sampai teriak kalau mau semua baik-baik aja!” kata satpam itu.
“Jadi gimana Bu? Pilihannya ada di tangan Ibu” Imron mendekati Marina dan mengangkat dagunya.
“Baik…baik, saya mengerti apa yang kalian mau…tolong jangan sakiti dia lagi” ucapnya sambil terisak.
“Oke kalau gitu Bu, sekarang buka bajunya, ayo jangan malu-malu!” perintah Imron.
Marina tertegun dan menelan ludah mendengar perintah itu, ia memang sudah pernah telanjang di depan Ryan walau tidak sampai berhubungan seks. Kali ini ia harus membuka baju di depan dua pria bertampang sangar ini, sungguh suatu hal yang berat baginya, namun tidak ada jalan lain selain menuruti mereka karena ia tidak ingin pria yang ia cintai dipukuli lagi. Perlahan-lahan, ia pun mulai melucuti pakaiannya sendiri, mulai dari setelan luar, lalu satu persatu baju dan roknya berjatuhan ke lantai.
“Bener-bener mantep, ternyata body bu dosen kita ini seksi juga ya!” kata Imron menatapi tubuh Marina yang tinggal mengenakan bra dan celana dalamnya dengan pandangan nanar, “sisanya buka juga Bu!”
Sambil terisak wanita itu pasrah meraih kait bra nya di belakang, dengan ragu-ragu ia meloloskan bra krem itu melalu kedua lengannya, air matanya nampak semakin meleleh.
“Satu lagi Bu!” sahut Encep yang semakin bernafsu melihat kemolekan tubuh Marina, ia terlihat seperti binatang buas yang sudah tak sabar memangsa buruannya.
Marina membungkuk dan tangannya gemetaran melepas lembaran terakhir yang melekat di tubuhnya. Keduanya berdecak kagum dan jakun mereka naik turun melihat tubuh Marina yang sudah polos itu. Lelaki normal mana tak tergiur dengan tubuh semolek itu dengan payudara 34B yang montok, paha yang mulus dan ramping yang keatasnya membentuk lekukan pinggul yang indah dan pinggang yang ramping. Kini ia hanya bisa menggunakan tangannya untuk menutupi payudara dan vaginanya.
“Dibuka dong Bu, gak usah malu-malu gitu!” Encep menarik lengan Marina yang menutupi payudara dan kemaluannya serta menguncinya di belakang.
“Wehehe…bener-bener pas susunya, liat nih Man montok banget, bulat gini!” kata Imron sambil meremasi payudara kirinya.
“Aahh…jangan Pak!” erang Marina sambil meronta, ia sungguh tak kuasa menahan malu dilecehkan seperti ini apalagi di depan kekasihnya sendiri.
Tangan-tangan kasar mereka mulai bergerilya di sekujur tubuh Marina yang sudah polos itu. Darah dosen muda itu berdesir dan tubuhnya bergetar merasakan sensasi aneh yang melanda tubuhnya.
“Kalau gua suka memeknya…gondrong banget, demen gua yang kaya gini!” kata Encep merabai vagina Marina yang ditumbuhi bulu-bulu lebat.
Jari-jari pria itu mengeseki bibir vaginanya sehingga nafasnya semakin memburu dan tak sanggup lagi menahan desahannya. Tiba-tiba Imron memagut bibirnya, mata Marina terbelakak kaget, ia menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha lepas dari cumbuan Imron, namun pria itu memegangi erat kepalanya.
“Ayo Bu, jangan dingin gitu…kalau Ibu gak bersikap manis jangan salahkan saya ya!” ancam Imron dengan suara pelan di dekat wajah Marina, “ayo bersikap manis layani kita!”
Posisi Marina sangat terpojok, ia bingung harus bagaimana. Kekasihnya disandera dan ia sendiri dipaksa kedua bajingan ini untuk menikmati perkosaan atas dirinya. Beberapa saat kemudian, ia pun menghela nafas dan menguatkan tekad.
“Maafin gua, Ryan, gua gak ada pilihan lain!” jeritnya dalam hati seraya memeluk leher Imron dan menarik wajah bajingan itu ke arahnya.
Dengan menahan rasa jijik ia mencium bibir tebal pria itu. Kali ini ia membuka mulutnya membiarkan lidah Imron bermain-main di dalamnya. Ia pasrah saja mengikuti irama tarian lidah Imron sambil memejamkan mata. Tubuh telanjangnya dihimpit dari depan dan belakang, ia dapat merasakan suatu benda keras menonjol di balik celana Encep bergesekan menyentuh pantatnya. Selama beberapa menit Imron memagut bibirnya sambil tangannya meremas-remas payudaranya. Setelah mulut mereka berpisah, Marina merasa mulutnya sangat kotor.
“Gitu Bu, mulai nikmatin ya…asyik kan!” ejek Imron, “dijamin kita pasti muasin Ibu”
Marina merasa hati dan telinganya sangat panas mendengar cemoohan itu, namun ia telah bertekad untuk melayani nafsu bejat mereka demi keselamatan kekasihnya. Ia menurut saja ketika Imron menyuruhnya duduk di dipan.
“Bukain celana saya Bu…terus sepong kontol saya, biar pacar Ibu liat!” perintah Imron.
Ia melakukan apa yang diperintahkan, jari-jari lentiknya bergerak membuka celana Imron. Tangannya merasakan benda keras dibalik celana itu, ia sempat ragu namun kembali melanjutkan aksinya. Mata Marina terbelakak melihat penis Imron mengacung tegak ke arahnya begitu ia menurunkan celana dalam pria itu. Penis itu terlihat begitu kokoh dengan urat-urat di sekujur batangnya dan kepalanya yang memerah. Belum habis rasa kagetnya Encep juga telah membuka celana dan mengeluarkan penisnya sehingga Marina kini seperti ditodong dua batang penis.
“Jangan bengong, pegang Bu, masukin mulut!” Imron meraih tangan wanita itu dan meletakkan di penisnya.
“Nggak Pak…saya mohon, saya nggak pernah melakukan ini!” Marina memohon sambil meneteskan air mata, baginya oral seks sangat menjijikkan bahkan pada kekasihnya pun ia menolak.
“Oke deh kalau gitu, Cep…coba patahin satu-dua gigi si pecundang itu!” kata Imron menoleh pada Ryan yang terikat tak berdaya.
“Jangan…baik…saya bersedia!” Marina secara refleks meraih penis Encep sebelum pria itu hendak mendekati kekasihnya.
Dosen muda itu terpaksa mengeluarkan lidah dan mulai menyapukannya perlahan ke kepala penis Imron sambil tangan yang satunya mengocok penis Encep. Kedua pria tak bermoral itu tertawa-tawa melihat takluknya mangsa mereka.
“Nah gitu dong Bu…kita juga ga mau main kekerasan…uuh sedapnya!” kata Imron sambil sedikit mendesah karena jilatan Marina, “sekarang emut Bu, lidahnya mainin!”
Imron mendorong penisnya hingga masuk ke mulut Marina.
“Eemmmmhh!” desahnya tertahan dengan mata membelakak kaget.
Benda itu terasa sangat menyesakkan di mulutnya, belum lagi aromanya yang tidak sedap itu. Marina menggerakkan lidahnya dan melakukan hisapan-hisapan kecil seperti yang diinstruksikan pria itu.
“Jangan pake gigi Bu…awas kalau kegigit!” kata Imron, “eeemm…ya gitu Bu bener…enak…yah terus gitu!” tangannya memegangi kepala wanita itu dan membelai rambut pendeknya.
“Masih amatiran yah Ron nyepongnya?” tanya Encep melihat Marina yang masih canggung dan tersiksa melakukan oral seks.
“Iya sih…tapi kalau dilatih pasti lama-lama bisa muasin!” jawabnya, “kayanya si goblok itu belum pernah ngapa-ngapain Ibu yah, makannya sekarang kita ajarin Bu hahaha!”
“Heh…goblok, makannya punya pacar cantik gini ajarin dong, jadi aja keduluan kita!” ejek Encep pada Ryan disambut gelak tawa mereka.
Marina sudah sedikit beradaptasi dengan penis Imron yang telah bertengger sekitar lima menitan di mulutnya. Ia mulai mengulum dan menjilati benda itu serta mengesampingkan rasa jijiknya. Matanya melirik sejenak pada kekasihnya yang terikat di pojok sana, namun ia tidak sanggup memandangnya lama-lama karena malu yang teramat sangat harus melakukan seperti itu di depan pacarnya. Mulanya, Imron memaju-mundurkan penisnya di mulut Marina seperti menyetubuhinya, namun kini Marinalah yang malah memaju-mundurkan sendiri kepalanya sambil menghisap penis pria itu.
“Pinter…ibu memang cepat belajarnya yah…hhhhmm!” gumam Imron.
“Emmhh!” desah Marina tertahan ketika merasakan pahanya dibuka dan disusul rasa geli pada vaginanya.
Ternyata Encep yang sudah telanjang bulat tengah berjongkok diantara kedua pahanya. Pria kurus itu membenamkan wajahnya pada selangkangan Marina dan mulai menjilatinya. Dengan rakus Encep menjilati vagina yang masih rapat dan berbulu lebat itu. Kedua jarinya merenggangkan bibir vaginanya sehingga terkuaklah bagian dalamnya yang merah dan berlendir itu. Tubuh Marina makin bergetar merasakan lidah pria itu mengais-ngais vaginanya terlebih ketika lidah itu menyentuh klitorisnya. Encep membuka paha wanita itu lebih lebar sehingga ia makin leluasa menjilat dan menghisap wilayah sensitif itu. Marina semakin larut dalam birahi akibat perlakuan Encep, tanpa disadari ia semakin asyik menikmati tugasnya mengoral penis Imron. Encep bukan saja memainkan lidahnya di liang kenikmatan itu, jari-jarinya pun ikut bermain disana. Ia menyentil-nyentilkan lidahnya pada daging kecil sensitif itu menyebabkan pemiliknya menggelinjang nikmat.
“Hhhmm…wangi…lebat, masih perawan lagi! bener-bener memek yang mantap!” sahut pria itu menghirup aroma vagina Marina yang terawat baik.
Marina merasakan orgasme mulai melandanya, vaginanya makin berdenyut-denyut hingga akhirnya sssrrrr…keluarlah cairan bening yang hangat diiringi menegangnya tubuhnya. Ia ingin mendesah sejadi-jadinya melepaskan perasaan itu, namun mulutnya terganjal penis Imron sehingga hanya mengeluarkan erangan tertahan. Encep menjilati cairan kewanitaan Marina dengan rakusnya.
“Ssslllrrpp…ssrrrpp…heh gurih banget nih memek pacar lu!” pria itu menoleh ke Ryan dan mengejeknya, “pernah nyoba ga lo!”
Ryan yang terikat di sudut sana merasa geram melihat apa yang mereka lakukan pada kekasihnya. Berbagai perasaan bercampur baur di hatinya, mulai dari rasa bersalah karena telah menyeret kekasihnya dalam kesusahan seperti ini, kemarahan pada kedua orang itu, juga terangsang melihat adegan panas di depan matanya itu. Tanpa dapat dicegah penisnya pun mengeras.
“Tidak apa yang gua pikirin, pacar gua diperkosa…masa gua malah terangsang, sori Mar…ini salah gua!” sesalnya dalam hati tanpa dapat berbuat apapun.
Saat Ryan termenung itu, tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah dua orang dari luar sana. Gufron si tukang tambal ban itu, seorang pria setengah baya yang kurus dan agak pendek, tampangnya lusuh tidak terawat dengan kulit hitam terbakar matahari dan jenggot pendek yang kelihatan jarang dicukur. Di belakangnya nampak seorang satpam bertubuh besar dan berkumis yang tak lain adalah Kahar. Gufron meletakkan kotak peralatannya di sebuah rak, ia baru saja membereskan barang-barangnya sambil menunggu kedatangan Kahar. Baru setelah itu ia masuk ke dalam untuk bergabung dengan Imron dan Encep yang sudah mulai sejak tadi.
“Walah…kita keduluan nih, kok pada udah mulai duluan?” kata Kahar.
“Iya lu sih datengnya lama juga, gua daritadi nunggu di luar udah konak, tapi cuma bisa ngintipin” kata si tukang tambal ban itu sambil menyikut pelan Kahar.
Kedatangan mereka membuat Marina terkejut, ia buru-buru melepaskan emutannya pada penis Imron dan menyilangkan tangan menutupi dadanya secara refleks. Ia panik dan air matanya kembali mengalir membasahi wajahnya membayangkan dirinya akan segera diperkosa empat orang bertampang mengerikan itu. Kedua pria yang baru datang itu mendekatinya tanpa menghiraukan permohonan Marina yang mengiba-iba.
“Tolonglah Pak, jangan perkosa saya!” Marina memelas sambil menggeser tubuhnya di dipan menjauhi mereka.
“Hehehe…harusnya Ibu salahin si pecundang itu dong, dia yang duluan cari gara-gara jadi Ibu terseret” kata Imron meraih lengan kiri wanita itu yang menutupi dadanya.
“Lagian kita udah keburu konak ngeliatin body Ibu jadi harus tanggung jawab dong bikin kita puas” timpal Encep.
Mereka menatapi tubuh telanjang Marina seperti orang kerasukan, tawa dan celoteh mereka membuat wanita cantik itu semakin merinding ketakutan. Ia semakin tersudut hingga tidak bisa mundur lagi. Tanpa perlawanan berarti, mereka menarik tangan dan kakinya lalu membentangkan tubuh bugilnya di dipan itu. Sebentar saja, empat pasang tangan kasar itu sudah menggerayangi tubuhnya.
“Aahhh…jangan!” erangnya dengan tubuh menggeliat saat merasakan jari-jari menyusup ke vaginanya dan bergerak keluar masuk.
“Wuii…becek banget!” sahut Gufron, si tukang tambal ban itu sambil memainkan jarinya di vagina Marina, “mmmm…gurih, bener-bener memek yang mantep!” katanya lagi setelah mengemut jarinya yang berlumuran cairan kewanitaan.
Belum cukup rangsangan dari bawah sana, Encep melumat payudaranya yang sebelah kiri. Pria itu mengisapi daging kenyal itu dan lidahnya menyapu permukaannya. Putingnya yang berwarna coklat mengeras dengan cepat, dari sana juga mengalir sensasi nikmat yang menjalar ke seluruh tubuh ketika pria itu menghujaninya dengan gigitan-gigitan ringan. Si satpam Kahar juga sedang asyik menggerayangi tubuhnya, ia mengecupi dan menjilati paha mulus Marina, kumisnya menyapu kulitnya yang halus sehingga menimbulkan sensasi geli.
“Aahh…jang…mmmhh!” Imron melumat bibir Marina sehingga desahannya terhambat, tangannya meremasi payudaranya yang kanan.
Penjaga kampus itu mencumbunya sambil membelai rambutnya dengan lembut, remasan tangannya pada payudaranya pun demikian erotis dan membangkitkan gairah. Entah bagaimana, pria ini benar-benar membuatnya takluk dan bereaksi di luar kesadarannya. Lidahnya secara refleks saling belit dengan lidah kasap pria itu serta mengesampingkan rasa jijik menelan ludahnya. Selama beberapa menit ia membalas cumbuan pria itu dengan gairah yang tak bisa dikontrolnya. Sementara itu kroni-kroni Imron lainnya terus melancarkan aksinya dalam melampiaskan nafsu binatang mereka. Gufron nampak begitu bernafsu melumat vagina Marina, lidahnya menyusup dalam-dalam ke vaginanya menggelitik seperti ular membuat pemiliknya menggelinjang tak karuan. Imron melepas cumbuannya dari bibir Marina, mata dosen muda itu pun membuka.
“Ayo…ayo misi dulu, waktunya ngejos nih! Kita kasih liat ke kunyuk itu gimana perkasanya kita hahaha!” kata Imron menyuruh Gufron yang sedang menjilati vagina Marina untuk menyingkir dulu.
Imron mengambil posisi di antara kedua belah paha Marina dan menggenggam batang penisnya yang diarahkan ke vagina wanita itu. Marina tahun sebentar lagi keperawanannya akan direngut paksa, namun ia tidak berdaya, selain karena sudah mulai dikuasai birahi, ini adalah keharusan demi menyelamatkan kekasihnya.
“Ya Tuhan, apakah benar pilihan yang harus kuambil !?” jeritnya dalam hati
Ia menggeliat merasakan kepala penis Imron menyentuh bibir vaginanya. Dengan perlahan tapi pasti pria itu menekan penisnya hingga menyeruak masuk membelah bibir vagina wanita itu.
Marina meringis menahan sakit pada vaginanya yang terlalu sempit untuk dijejali penis Imron yang besar dan keras itu. Imron juga merasakan jepitan vagina itu masih sangat ketat seperti melawan penisnya walaupun sudah becek setelah orgasme tadi.
“Aakhh!” erang Marina dengan mata membelakak dan tubuh menggeliat.
Ia merasakan perih pada vaginanya begitu Imron melesakkan penisnya dalam-dalam dan merenggut keperawanannya. Ketika Imron mulai menggerakkan penisnya, ia pun tak kuasa menahan rintihannya. Imron ingin agar wanita ini takluk padanya daripada merintih-rintih kesakitan sehingga ia membiarkan penisnya tertancap dulu selama beberapa saat agar Marina dapat beradaptasi dulu.
“Uuuhh…akhirnya gua perawanin juga nih!” kata Imron penuh kemenangan.
“Sempit toh Ron?” tanya Gufron.
“Lha iya lah…legit banget pasti sip nih…mmmhh!” jawab Imron sambil mulai menggenjotnya pelan.
Tak lama kemudian Imron sudah bergerak maju mundur menggenjot vagina Marina dengan berpegangan pada kedua betis wanita itu. Tiga orang lainnya juga tidak mau ketinggalan menjarah tubuh mulus Marina. Gufron dan Encep masing-masing mengenyot payudaranya sambil tangan mereka menggeyarangi tubuhnya. Marina merasa tangannya ditarik lalu digenggamkan ke sebuah benda keras. Ia menolehkan wajahnya melihat ternyata dirinya telah menggenggam penis si satpam Kahar yang berlutut di sebelah kepalaya.
“Dikocok Bu, tangan Ibu halus sekali nih hehe!” perintahnya.
Tanpa disuruh dua kali, Marina menggerakkan tangannya mengocok penis itu. Jilatan dan rabaan pada sekujur tubuhnya kian membangkitkan libidonya.
Marina mendesah-desah dan menggelinjang liar akibat sentakan-sentakan Imron.
“Aaahhh…aahh…mmhh!” desahannya tersumbat ketika Kahar menjejalkan penisnya ke mulut dosen cantik itu.
Penis Kahar yang besar itu membuat Marina kembali merasakan sesak pada mulutnya, apalagi aromanya yang tidak sedap itu sungguh membuatnya tersiksa. Ia berusaha keras mengeluarkan penis itu dari mulutnya namun satpam itu menahan kepalanya.
“Isep Bu…seperti ke Pak Imron tadi!” perintahnya, “nah gitu…yahhh…pinter Bu!” satpam bejat itu mengerang nikmat merasakan lidah Marina menyapu kepala penisnya.
Pada saat yang sama ia juga merasakan ada yang hangat-hangat basah menyentuh lehernya. Dilihatnya Gufron, si tukang tambal ban itu kini sedang menjilati dan mencupangi lehernya sambil tangannya memilin-milin putingnya.
“Ayo Ron…semangat, dia mau keluar tuh!” Encep menyemangati melihat tubuh Marina yang semakin menggeliat tak terkendali.
Tubuh Marina semakin basah oleh keringat, ia semakin tak sanggup menahan sensasi nikmat yang melanda tubuhnya sedemikian hebat hingga membuat wajahnya memerah. Akhirnya pertahanannya bobol setelah sekitar seperempat jam disetubuhi oleh Imron.
“Mmhhh…eemm….ookkhh!!” erang Marina begitu Kahar menarik lepas penisnya dari mulutnya.
Tubuhnya mengejang dahsyat selama beberapa saat hingga akhirnya terkulai lemas di atas dipan itu. Keempatnya tersenyum senang melihat korban mereka takluk dan mengalami orgasme yang begitu hebat.
“Enak kan Bu?” ejek Imron, “goyangannya liar juga ya kalau lagi ngecrot!”
“Baru pernah ngerasain yang gini ya Bu ya? Hehe!” Gufron menimpali sambil meremas payudara Marina.
“Seperti yang gua bilang Ron…kalau lagi konak semua cewek ya gini, gak perek gak dosen!” sahut Kahar.
Marina hanya bisa terdiam saja memendam kegeraman dalam hatinya, lagipula tubuhnya terasa luluh lantak setelah orgasme pertamanya tadi. Secara jujur, ia pun menikmati orgasme itu, sungguh memalukan, mereguk kenikmatan terlarang dari orang yang memperkosa di depan kekasihnya pula, tapi mengapa…mengapa justru malah muncul semacam dorongan dalam dirinya yang merasa ingin merasakannya lagi, itulah yang berkecamuk di pikirannya.
“Nah sekarang gua Ron, udah kebelet nih!” Kahar menagih jatahnya dan menyuruh Imron menyingkir.
“Weit…sabar Har, nafsu amat, kasih kesempatan ke tuan rumah dulu dong!” kata Imron menoleh ke Gufron.
“Hehehe…akhirnya gua bisa juga ngerasain yang bening gini!” tukang tambal ban itu kegirangan dan segera mengambil tempat di antara kedua paha Marina.
Matanya seperti mau lepas melihat selangkangan Marina yang sudah benar-benar basah. Darah keperawanannya yang baru saja bobol masih nampak meleleh di wilayah tersebut, sebagian menetes ke dipan di bawahnya. Tanpa basa-basi lagi, Gufron yang sudah bernafsu sejak tadi langsung melesakkan penisnya ke vagina wanita itu.
“Eeggh…aahh!” Marina mendesah panjang dan tubuhnya mengejang.
“Uuuhh…ini baru sip…wuihh legitnya!” ceracau si tukang tambal ban itu menikmati jepitan vagina Marina menghimpit penisnya.
Dengan ganas Gufron menggenjot vagina Marina sampai menimbulkan bunyi berdecak. Sementara Imron yang penisnya masih menegang naik ke dada Marina dan menjepitkan penisnya dengan kedua gunung kembar wanita itu. Kemudian mulailah ia memaju-mundurkan penisnya yang licin itu disana. Marina dapat melihat jelas kepala penis yang seperti helm itu maju-mundur seolah hendak menghantam wajahnya.
“Wuehehe…emang kalau toked montok paling enak dipake gitu yah Ron!” kata Encep.
“Iyah…wuih paling seneng gua mainin yang kaya gini, empuk!” kata Imron makin bersemangat.
Tak sampai lima menit, Imron sudah melenguh dan meremas kuat-kuat kedua payudara itu sehingga membuat Marina meringis kesakitan. Cret…cret…beberapa kali kepala penisnya menyemprotkan cairan putih kental mengenai wajah Marina sehingga ia menjerit kecil. Terasa sekali aroma cairan itu yang tajam, ia menutup rapat-rapat bibirnya agar cairan menjijikan itu tidak masuk ke mulut.
“Walah…ngotorin lu Ron, gua belum ngapa-ngapain udah lu semprot peju gitu!” sahut Kahar.
“Wehehe…tenang Har, ntar dibersiin kok” kata Imron, “ayo Bu, ditelan!” ia menyuapkan cipratan spermanya di bibir Marina dengan jari telunjuknya.
Marina menggelengkan kepala dengan wajah memelas, ia sangat jijik dengan cairan kental itu. Namun Imron dan yang lain terus memaksanya membuatnya tak punya pilihan lain, ia pun mengendurkan mulutnya sehingga jari Imron yang berlumuran sperma dapat masuk. Cepat-cepat ditelannya cairan itu agar tak terlalu terasa dimulut.
“Iya gitu Bu…enak ga Bu pejunya?” tanya Encep.
“Aakkhhh…iii…iya, enak!” jawabnya disertai desahan karena Gufron terus menggenjotnya.
“Wahaha…hoi jing…denger ga tuh, pacar lu ternyata suka minum peju!” ejek Imron pada Ryan disusul gelak tawa yang lain.
Pemuda itu yang melihat kondisi pacarnya yang sudah sedemikian kacau semakin tak dapat menahan emosinya. Ia meronta sekuat tenaga namun ikatannya terlalu kuat sehingga ia tetap tak bisa melepaskan diri, malah pergelangan tangannya yang terasa sakit karena terus memberontak. Mulutnya menggumam tak jelas yang agaknya berisi makian. Mereka menyorakinya setiap kali Marina melahap sperma yang disuapkan oleh Imron padanya. Lama-lama ia pun mulai terbiasa dengan rasanya, demi pacarnya ia rela menahan rasa jijik dan penghinaan ini.
“Hiya…telen terus, sehat itu Bu!” kata Kahar.
“Hhhuuhh…oohhh…ngentot…enaknya!!” tiba-tiba terdengar Gufron mengerang semakin tak karuan, nampaknya ia akan segera orgasme, “Uuu….uuhhh…yaahh….keluar Buuu!!” tukang tambal ban setengah baya itu pun menancapkan penisnya dalam-dalam dan menyemprotkan spermanya di dalam sana, matanya membelakak menikmati klimaks yang luar biasa itu.
Giliran ketiga segera diambil oleh Kahar yang sejak tadi memaksa Marina mengocok penisnya. Satpam kekar itu membalikkan tubuh Marina dan mengangkat pinggulnya sehingga dosen cantik itu bertumpu dengan kedua lutut dan sikunya.
“Ayo Bu…emut yang saya!” tiba-tiba sebatang penis yang menegang ditodongkan di depan wajahnya.
Marina mengangkat wajahnya melihat Encep yang menyeringai sambil mengarahkan penis itu ke wajahnya. Dengan pasrah ia menuruti saja perintah satpam itu ketika ia menyuruhnya membuka mulut.
“Eemmhh…yeah…udah pinter ya Ibu nyepongnya uuuhhh…mantep!” Encep mengerang-ngerang menikmati servis oral Marina.
Pada saat yang sama, Kahar sedang melesakkan penisnya ke vagina Marina. Ukuran penisnya yang besar terasa sangat sesak pada vagina Marina yang baru saja diperawani sehingga tidak heran mata wanita itu membeliak-beliak dan mulutnya mengeluarkan erangan-erangan tertahan karena menahan sakit proses penetrasi itu.
“Sedap kan Har?” tanya Imron sambil meremasi payudara kanan Marina yang menggelantung.
“Sama perawan ayu gini emang beda sedapnya…masih sempit banget memeknya!” jawab Kahar.
“Pantatnya juga gua suka…padat gini liat!” sahut Gufron yang sedang beristrirahat sambil mengelusi pantat Marina yang membulat sempurna dan kencang itu.
Kahar semakin cepat memompa vagina Marina dengan penisnya membuat tubuh wanita itu tersentak-sentak keras. Encep yang penisnya sedang dikulum Marina pun terpaksa mengalah karena tidak ingin penisnya tergigit dan ia juga agak kasihan melihat Marina yang nampak kewalahan.
“Aahh…aahh!” Marina menceracau tak terkendali, tangannya mengocoki penis Encep semakin cepat.
Setiap mata melotot dan terangsang hebat melihat bagaimana seorang pria setengah baya bertampang sangar menyetubuhi seorang wanita muda yang sangat cantik dan terpelajar, termasuk juga Ryan yang juga ikut terangsang melihat adegan perkosaan atas kekasihnya itu walau bercampur dengan kemarahan dan kesedihan. Marina merasakan penis besar Kahar memenuhi liang senggamanya serta menjelajahi bagian dalamnya tanpa ada yang terlewat. ‘Plok…plok…plok!’ suara benturan pantat Marina dengan selangkangan Kahar memenuhi gubuk kecil itu. Akhirnya Marina harus takluk pada orgasme yang kembali melandanya. Mulutnya mengeluarkan erangan nikmat tanpa tertahankan ketika mencapai klimaks, tubuhnya yang dikerubuti keempat pria itu berkelejotan melepaskan kenikmatan yang luar biasa. Jamahan tangan-tangan kasar itu juga jilatan mereka pada tubuhnya makin menambah kenikmatan di puncak birahinya.
“Ohh…tidak kenapa aku malah menikmatinya?” keluh Marina dalam hati, “tapi…tapi…nggak bisa!”
Dosen cantik itu semakin tak sanggup mengendalikan diri, ia turut menggoyangkan tubuhnya mencari kenikmatannya. Tanpa perlu disuruh atau diarahkan ia mengocoki penis di genggamannya dan sesekali memasukkannya ke mulut. Tak lama setelahnya, Kahar pun tak tahan dengan himpitan kerasa vagina yang baru diperawani itu. Penisnya menyemburkan banyak cairan sperma ke dalam rahim wanita itu. Marina merasakan rahimnya sudah begitu penuh dengan sperma, yang meleleh di sela-sela vaginanya pun cukup banyak.
“Whhuah…bener-bener yahud memek bu dosen ini, siapa nih mau nyicipin…legit banget coy!” celotehnya mengomentari persetubuhannya barusan.
Setelah si satpam berkumis itu mencabut penisnya, bawahannya, si Encep yang sejak tadi menunggu buru-buru meminta jatahnya. Ia segera menaikkan tubuh Marina yang masih lemas ke pangkuannya dengan posisi memunggungi, dipeluknya dan dirasakan kehangatannya.
“Hehehe…emang sip tuh pacarlu…memeknya bikin gua ketagihan!” ejek Imron sambil menjenggut rambut Ryan.
“Jangan…jangan sakiti dia lagi Pak!” Marina memelas melihat perlakuan Imron itu.
Dosen cantik itu meronta dan melepaskan diri dari dekapan Encep lalu menghambur ke arah Imron. Tanpa menghiraukan rasa malu, ia memeluk Imron dan menciumi bibirnya agar pria itu tidak menyiksa kekasihnya lagi. Kontan adegan itu pun disoraki oleh yang yang lain.
“Wuhui…tuh liat pacarlu yang mau loh, dia emang gatel pengen dientot tapi sayang lu pecundang, ga bisa muasin dia hahaha!” sahut Encep.
Betapa panas hati Ryan melihat kekasihnya bercumbu panas dengan pria lain tepat di depan wajahnya sendiri. Ketika Encep menghampiri dan mendekapnya dari belakang Marina bahkan menengok dan melingkarkan tangannya ke leher pria itu sementara tangan satunya meraih penisnya. Ia melakukan semua ini agar mereka tidak lagi menyiksa kekasihnya, keadaan memaksanya memberanikan diri bertingkah binal agar perhatian mereka lebih kepada dirinya.
“Eemmmhh…Pak!” erangnya merasakan sapuan lidah Encep telak pada leher naik ke telinganya dan elusan tangan pria itu pada vaginanya.
Imron pun tak tinggal diam, tangannya meremasi payudara wanita itu seakan memamerkannya pada Ryan yang terikat tak berdaya. Tak lama kemudian Encep menjatuhkan diri pada sebuah bangku kayu sehingga otomatis Marina yang sedang didekapnya pun naik ke pangkuannya.
“Masukin Bu!” perintahnya dekat kuping Marina.
Tanpa diperintah lagi, Marina segera meraih penis Encep yang telah menegang dan mengarahkan ke vaginanya.
“Aakkhh!” erang Marina karena penis itu mulai menusuk dan membelah liang vaginanya.
Tanpa terasa ia menggeliat keenakan seiring semakin melesaknya penis itu.
“Hhhmm…enak kan Bu?” goda Encep.
“Iyahh…Pak!” jawab Marina yang nafasnya semakin memburu karena gairahnya mulai bangkit kembali.
Marina semakin tak kuasa menahan erangannya ketika Encep menyentakkan tubuh sehingga penisnya mengaduk-aduk dinding vaginanya. Tubuhnya terlonjak-lonjak mengikuti irama sentakan pria itu. Imron mendekati Marina yang sedang naik turun di pangkuan Encep dan menempelkan kepala penisnya di mulut wanita itu yang pasrah membiarkan mulutnya dijejali benda itu. Gufron dan Kahar yang baru memulihkan tenaga pun turut mendekatinya. Kini Marina kembali dikerubuti pria-pria bejat yang bernafsu melahapnya. Tubuhnya mulai bergetar karena rangsangan bertubi-tubi pada sekujur tubuhnya. Cret…cret…penis Gufron yang sedang dikocok dengan tangannya, memuntahkan sperma yang membasahi wajahnya, agaknya tukang tambal ban setengah baya itu memang tidak sanggup bertahan lama dalam seks. Selama beberapa saat lamanya Encep menyetubuhinya dengan gaya berpangkuan hingga akhirnya klimaks. Imron dan Kahar membawa tubuh Marina kembali ke dipan. Sebelumnya si satpam berwajah sangar itu berbaring di atasnya baru menaikkan tubuh wanita itu ke atas badannya.
“Sekarang kita coba dua lubang Bu!” kata Imron dari belakang.
“Jangan Pak…jangan lewat situ….ahhhkk…aahhh…sakit!” erang Marina merasakan penis Imron melesak ke duburnya.
Sementara di bawahnya penis Kahar juga membelah bibir vaginanya dan menerobos masuk ke dalamnya. Air matanya meleleh menahan sakit pada kedua lubangnya. Setelah memberi waktu sejenak untuk beradaptasi keduanya mulai menggenjotnya. Kedua penis itu keluar masuk vagina dan duburnya seperti mesin pompa. Rasa sakit bercampur nikmat membuatnya mendesah tak karuan. Arus kenikmatan ini kembali menyeretnya sehingga Marina pun mulai menikmatinya.
Keempat pria tak bermoral itu terus menggarapnya selama beberapa waktu ke depan, ludah mereka belepotan di sekujur tubuhnya yang mulus, sperma mereka terciprat baik di dalam maupun di tubuhnya. Imron merekam beberapa adegan perkosaan itu dengan ponselnya, mereka bersorak seperti menonton pertandingan setiap kali temannya menggarap hingga mencapai klimaks. Setelah puas melampiaskan nafsu binatangnya mereka meninggalkan tubuh telanjangnya yang awut-awutan di atas dipan. Keringat bercucuran di sekujur tubuhnya, rambutnya sudah berantakan dan nampak sperma meleleh dari vagina dan anusnya. Keempat pria bejat itu mulai berpakaian, ada juga yang minum dan mengisap rokok. Dari mulut mereka mengalir komentar-komentar tentang persetubuhan tadi yang mungkin lebih tepat disebut perkosaan.
“Oke, sekarang seperti yang sudah kita janjikan, kalian boleh pulang, tapi awas jangan macam-macam, ingat gua udah ngerekam yang tadi itu disini” ancam Imron menunjukan ponsel berkameranya lalu melepaskan penutup mulut pemuda itu.
“Bangsat!!” maki Ryan begitu mulutnya terlepas.
“Ryan…Ryan udah…sudahlah…yang penting kita selamat!” Marina tanpa mempedulikan kondisinya yang masih lemas dan belum berpakaian menghampiri kekasihnya dan mendekapnya seolah melindunginya kalau-kalau mereka menghajarnya lagi.
Ia terisak-isak memeluk pemuda itu dan memohon pada mereka agar melepaskannya.
“Baik…Ibu boleh pulang sekarang dan bawa pecundang itu, mending Ibu cepat berpakaian sebelum kita nafsuan lagi hehehe!” kata Imron
“Rekaman itu Pak…tolong…!” Marina memelas dengan suara lirih.
“Minggu depan saya hapus di depan Ibu, soalnya seminggu ini saya masih pengen nyicipin Ibu” jawab Imron santai.
“Apa…hhhrrhh!” Ryan sangat geram mendengarnya namun segera dicegah Marina agar tidak bertindak gegabah.
Marina pun sebenarnya amat marah dengan permintaan yang keterlaluan itu, ia mengepalkan tangan kuat-kuat dan matanya memandangi keempat pemerkosanya itu dengan penuh kebencian. Namun, demi kekasihnya, ia dapat segera menguasai diri dan menyanggupinya dengan berat hati. Setelah berpakaian, Marina membebaskan Ryan dari ikatannya.
“Ryan…kamu…kamu gak apa-apa kan?” tanyanya gugup karena ia masih ingat bagaimana ia telah bersikap binal bak pelacur di hadapan pemuda itu.
Ryan hanya menggelengkan kepala menjawabnya. Dengan langkah tertatih-tatih mereka pun angkat kaki dari gubuk si tukang tambal ban diiringi ejekan para bajingan itu. Saat itu langit sudah gelap, mereka naik ke mobil yang telah diperbaiki dan segera tancap gas. Sepanjang perjalanan keduanya membisu dan tidak berani melihat wajah masing-masing, Marina masih terisak meratapi dirinya.
“Gua tau…gua udah gak pantes lagi buat lu, gua udah terlalu kotor!” ucap Marina dengan suara bergetar, “kalau lu mutusin gua, gua juga udah pasrah”
Ryan tidak menjawab selama beberapa detik, lalu tangannya menggenggam tangan kekasihnya.
“Mar…jangan omong gitu, ini semua emang salah gua sampai lu harus berkorban kaya gini…gua…gua masih pengen sama lu!” jawab pemuda itu, ia juga tak bisa menahan air matanya menetes.
Ryan lalu menepikan mobil yang dikemudikannya dan langsung memeluk Marina. Keduanya berpelukan erat sambil menangis.
“Gua masih harus jadi budak seks…apa lu masih mau nerima gua Ryan?” tanya Marina dalam pelukan pemuda itu.
“Gua terima Mar…gua gak akan ninggalin lu sampai kapanpun” jawab Ryan mengelus rambut Marina.
Ucapan pemuda itu sungguh bagaikan seteguk air di tengah gurun pasir yang memberinya kesejukan dan harapan. Marina lalu mengutarakan rencananya untuk berhenti mengajar di universitas tempatnya bekerja setelah Imron menghapus rekamannya nanti.
Hari-hari ke depan, Marina masih harus melayani Imron dimanapun dan kapanpun diminta. Tak jarang Kahar dan Encep si satpam kampus pun meminta jatah. Perbuatan terkutuk itu biasa terjadi di toilet kampus, gudang, kelas kosong dan lain-lain. Bahkan pernah ketika Ryan menelepon Marina melalui ponselnya diterima oleh Imron yang saat itu sedang menyetubuhinya di toilet.
“Hahaha…halo, nyari pacarlu yah…sori bentar ya, lagi gua pake nih!” ejek Imron dengan penuh kemenangan.
“Lu emang bangsat…hati-hati lu nanti!” balas Ryan lalu memutus hubungan dengan marah.
Tanpa terasa seminggu telah berlalu namun Imron masih belum menghapus rekaman itu dan melepaskan Marina seperti janjinya dulu. Ia masih menunda-nunda dan tetap memakai Marina sebagai pemuas nafsunya. Sementara itu Ryan mulai bersikap dingin dan sulit dihubungi oleh Marina. Beberapa kali ia menghubungi Ryan, namun seringkali telepon tak diangkat atau SMS tak dibalas, kalaupun dibalas hanya berisi jawaban singkat alakadarnya saja. Hingga akhirnya 12 hari setelah perkosaan yang menimpanya, ketika Marina sedang berbelanja di mall sendirian, ia melihat sebuah pemandangan yang membuat hatinya serasa diiris-iris, ia tidak ingin percaya pada pandangannya, namun itu semua nyata. Dilihatnya di sebuah meja food court, Ryan sedang berduaan dengan seorang gadis lain. Mereka terlihat sedang makan dan ngobrol mesra, sesekali Ryan menyuapi makanannya pada gadis itu dan memegang tangannya. Dengan hati hancur ia menghampiri keduanya.
Ryan begitu gugup dan salah tingkah melihat Marina berdiri di samping mejanya, wajahnya menunjukkan kekecewaan dan kesedihan yang amat dalam.
“Lu…lu bener-bener keterlaluan…kenapa lu ga putusin gua dari waktu itu aja?” katanya dengan suara bergetar.
“Ehh…Mar…gua…gua bisa jelasin ini” kata Ryan terbata-bata.
“Cukup…gua ga butuh penjelasan!” Marina begitu emosi sampai tak tahan untuk tak menjerit sehingga mengundang perhatian orang sekitarnya.
Sebelum Ryan berkata lebih lanjut ia langsung membalikan badan dan pergi dari tempat itu dengan menyentakkan kaki. Para pengunjung berkasak-kusuk melihat kejadian itu sehingga Ryan merasa tidak nyaman di tempat itu. Tanpa menghabiskan makannya ia segera beranjak bersama gadis itu. Marina pulang dengan hati hancur, pemuda yang dicintainya hingga demi dirinya ia rela berkorban sedemikian besar itu ternyata hanya bisa memberi harapan palsu padanya. Kalau saja hari itu Ryan memutuskannya lukanya tidak akan sedalam sekarang. Kini ia merasa dunia sepertinya sudah hancur, direnggut paksa keperawanannya lalu dikhianati oleh orang yang dicintainya. Pengorbanannya sungguh merupakan kesia-siaan terbesar dalam hidupnya. Sebuah puisi klasik memberi sindiran pada orang-orang seperti Ryan,
Melihat kematian tuannya,
kuda Raja Chu* melompat ke Sungai Wu.
Tak rela melayani musuh,
Si Rambut Merah** memilih mati kelaparan.
Kalau binatang saja memiliki kesetiaan,
betapa rendah mereka yang tak tahu balas budi
Sejak itu Ryan tidak pernah menghubunginya lagi, bahkan SMS atau telepon permintaan maaf pun tidak pernah ada. Tanpa sadar ia kini mulai menikmati tugasnya sebagai budak seks. Sakit hati dan frustasinya mendapat tempat pelarian melalui kepuasan terlarang bersama Imron dan kroni-kroninya. Ia semakin tidak ragu-ragu atau terpaksa lagi melayani nafsu setan mereka, ia tidak pernah lagi mengungkit-ungkit janji Imron menghilangkan rekaman perkosaannya. Wanita cantik dan terpelajar itu kini telah menjadi budak seks Imron cs. walaupun dalam kesehariannya ia terlihat tanpa cela.
Keterangan:
* Raja Chu adalah gelar Xiang Yu (232-202 SM), seorang panglima perang pemberontak pada akhir Dinasti Qin. Setelah kalah dalam pertempuran terakhirnya ia terdesak hingga ke pinggir sungai. Seorang tukang perahu menawarkan jasa untuk melarikan diri dengan menyeberangi sungai. Namun ia bertekad untuk bertempur hingga akhir daripada kembali ke kampung halaman sebagai pecundang. Ia hanya menyerahkan kudanya yang telah menemaninya berperang selama bertahun-tahun pada si tukang perahu dan meminta agar merawatnya dengan baik. Musuh-musuh Xiang menyusulnya ke tepi sungai itu dan mengepungnya, di tengah keterpojokannya, ia menggorok lehernya dengan pedangnya sendiri. Saat itu perahu yang membawa kudanya telah di tengah sungai dan kuda itu melompat ke air dan mati tenggelam menyusul tuannya.
** Si Rambut Merah adalah nama kuda kesayangan Guan Yu, jenderal legendaris Zaman Tiga Negara. Setelah Guan Yu kalah dalam sebuah pertempuran dan dihukum mati Sun Quan, raja Wu Timur, ia diserahkan pada Ma Zhong, salah seorang jenderal Wu, sebagai hadiah. Namun, di tempatnya yang baru kuda itu tidak mau makan maupun minum hingga akhirnya mati kelaparan tak lama kemudian.
LABEL: SERIAL NIGHTMARE CAMPUS
Nightmare Campus 12: My Guilty Pleasure
Gedung kuliah bersama, Universitas ******
“Uuhh-eemmhhh….aaahh!” desah gadis itu saat penis hitam Imron keluar masuk di vaginanya.
Gadis itu berdiri dengan sedikit menunggingkan pantatnya sambil kedua tangannya berpegangan pada meja dosen di ruang kuliah itu. Kaosnya telah terangkat hingga ke atas dada, demikian pula dengan bra-nya, sehingga tangan kasar Imron dengan leluasa menggerayangi kedua payudaranya.yang berukuran sedang dan padat berisi. Sementara bawahannya ia sudah tidak memakai apa-apa lagi, nampak celana sedengkul dari bahan jeans dan celana dalamnya tergeletak di sebuah bangku kuliah. Gadis itu merasakan putingnya semakin mengeras saja karena terus dirangsang oleh Imron dengan menggesek-gesekkan jarinya, memilin-milinnya atau memencetnya sehingga ia makin tak sanggup menahan desahannya. Sodokan-sodokan Imron pun semakin cepat menyebabkan meja tempat gadis itu menumpukan tangannya ikut bergetar. Mulut Imron mendekati wajahnya dari belakang, lalu ia disibakkannya rambut panjang itu ke sebelah. Sebuah jilatan pada telinganya membuat gadis itu bergidik geli, lidah itu terus menggelitik telinganya yang sensitif lalu turun menciumi tenguknya. Imron menghirup leher gadis itu yang tercium aroma harum parfum berkelas. Wajah si gadis semakin bersemu merah pertanda dilanda birahi tinggi.
“Non Sieny…ganti gaya yah !” kata Imron setelah sepuluh menitan menggenjot gadis itu dalam posisi berdiri.
Gadis yang dipanggil Sieny itu mengangguk, Imron menarik lepas penisnya dari vagina gadis itu lalu mendudukannya di tepi meja.
“Bajunya lepas aja Non” katanya seraya melucuti satu-satunya pakaian terakhir yang masih menyangkut di tubuh indah itu.
Sieny mengangkat kedua lengannya membiarkan kaos itu melolosi tubuhnya, kini yang tersisa di tubuhnya tinggal kalung, jam tangan, dan cincin yang melingkar di jari manisnya. Sebuah jeritan kecil meluncur dari mulutnya ketika Imron kembali melesakkan penisnya ke vaginanya. Sambil menggenjot, Imron mendekatkan wajahnya ke wajah Sieny, namun gadis itu memalingkan wajah sepertinya risih dicium si penjaga kampus itu. Sekali lagi Imron mencoba melumat bibir gadis itu, kali ini ia tidak bisa menghindar lagi, si penjaga kampus itu berhasil memagut bibirnya dan memegangi kepalanya. Imron terus menjilati bibir gadis itu yang terkatup seolah terpaksa menerima ciumannya. Rangsangan yang menjalari seluruh tubuh membuat Sieny akhirnya luluh juga, bibirnya mulai membuka dan membiarkan lidah Imron menyapu rongga mulutnya. Dari mulutnya yang berpagutan terdengar desahan-desahan yang tertahan. Tanpa malu-malu gadis itu melingkarkan tangannya memeluk pria seumuran ayahnya itu sehingga tubuh mereka menempel erat. Mereka terlibat percumbuan yang sangat panas, lidah mereka saling beradu dan saling belit sampai air liur menetes-netes di pinggir bibir.
Tak lama kemudian mereka pun saling melepas ciuman karena merasa nafasnya makin berat. Imron mendorong sedikit tubuh Sieny ke belakang sehingga punggungnya dengan meja membentuk sudut 45 derajat. Dengan posisi demikian payudara gadis itu semakin membusung, Imron pun segera mencaplok payudara kanannya dengan mulutnya, bagian kasar lidahnya menggeseki puting kemerahannya sehingga semakin tegang dan menghantarkan lebih banyak rangsangan ke seluruh tubuh, belum lagi hisapan-hisapan Imron pada gumpalan daging kenyal itu.
“Aahhh…Pak…enak !” erang Sieny dengan wajah menatap langit-langit.
Sementara di luar sana matahari semakin tenggelam dan langit mulai gelap, semakin sedikit cahaya yang masuk ke ruang kuliah itu melalui jendela kaca sehingga suasana disana semakin remang-remang. Di tingkat empat gedung kuliah bersama itu hanya tinggal mereka bertiga di ruang kuliah itu. Bertiga?…ya bertiga, ternyata bukan hanya Sieny dan Imron yang di ruang itu, di sebuah bangku kuliah seorang pemuda sedang duduk dan mengisap rokoknya sambil menyaksikan liveshow di hadapannya. Sabuk dan resleting celana panjang pemuda itu telah terbuka, tangannya yang lain masuk ke dalam mengocoki penisnya. Pemuda itu nampak sangat terangsang, ia semakin cepat mengocok penisnya dan mengisap rokoknya semakin terburu-buru. Imron semakin ganas menyetubuhi Sieny yang kini telah terbaring di meja, kedua buah dadanya berguncang-guncang dengan keras seirama goyangan tubuhnya, rambut panjangnya yang coklat terjuntai kebawah. Imron menjulurkan tangannya meremasi payudara yang menggemaskan itu tanpa memperlambat sodokannya.
“Gua udah mau…aaahh-ah…Pak…Wil, gua keluar…aahh!” erang Sieny makin menjadi.
“Sama Non…hhuugh…uuhh…Bapak juga!” Imron menghentakan pinggulnya semakin cepat sampai tumbukan selangkangan mereka menghasilkan bunyi tepukan.
Tubuh Sieny mengejang tak terkendali sambil mengeluarkan erangan panjang dari mulutnya. Cowok yang sedang menontonnya merasa kepala penisnya makin basah, adegan di depan matanya itu sangat melambungkan birahinya.
“Uaahh…dikit lagi Non!” lenguh pria itu mempercepat sentakannya.
“Di luar Pak…please…di luar…aahh!” pinta gadis itu lirih.
Imron semakin tak tahan dengan kontraksi dinding vagina gadis itu yang meremas-remas penisnya disertai siraman cairan kewanitaannya yang hangat. Sambil mendesah panjang Imron mencabut penis itu dari vagina Sieny, spermanya bercipratan membasahi perut dan permukaan kemaluan gadis itu yang ditumbuhi bulu-bulu yang tercukur rapi.
“Ooohh!” erangnya sambil mengocok penisnya sendiri hingga menyusut dan semprotan spermanya berhenti.
Sieny tergolek lemas di meja dengan bercak-bercak sperma di perut, kemaluan dan pahanya. Buah dadanya naik turun seirama nafasnya yang terengah-engah. Pemuda itu yang kelihatannya semakin horny memapah gadis itu turun dari meja dan mendudukannya di bangku tempatnya duduk tadi.
“Selesaiin yang gua Sien!” pintanya seraya menyodorkan penisnya yang telah dia keluarkan dari balik celana dalamnya.
Ia meraih penis itu lalu membuka mulut dan memasukkan penis pemuda itu ke mulutnya, diemutnya sambil menggerakan kepala maju-mundur.
Tidak sampai lima menit, pemuda itu sudah mengerang nikmat, tangannya memegangi kepala gadis itu. ‘Cret…cret…!’ penis itu beberapa kali menyemprotkan sperma di dalam mulut Sieny. Gadis itu berkonsentrasi melakukan hisapannya, dari gayanya sepertinya ia sudah mahir melakukan jurus penutup itu. Tidak setetespun cairan sperma pemuda itu meleleh keluar dari sela-sela bibirnya. Penis itu berangsur-angsur menyusut dan pemiliknya menarik lepas benda itu dari mulut Sieny.
“Aaahh…yess!” dengusnya dengan menghembuskan nafas panjang.
Ia memasukkan kembali penisnya yang telah bersih itu ke balik celana dalamnya lalu menarik kembali celana panjangnya yang melorot.
“Tissu dong!” pinta Sieny pada pemuda itu dengan suara lemas.
Pemuda itu membuka tas jinjing wanita yang diletakkan di sebuah bangku kuliah dan mengeluarkan sesatchet tissu yang lalu ia berikan pada gadis itu.
“Makasih Pak, inget ini rahasia kita yah!” pemuda itu menjabat tangan Imron.
“Iya saya juga terima kasih, nggak nyangka bisa dikasih kesempatan main sama Non Sieny yang cantik ini” timpal Imron membalas jabatan tangannya.
Sieny diam saja, sepertinya ada ganjalan di hatinya. Setelah mengelap keringat dan membersihkan ceceran sperma Imron dengan tissue, ia mulai memunguti pakaiannya dan memakainya.
“Nih Pak buat Bapak!” pemuda itu menyodorkan selembar uang 50.000 pada Imron, “ingat ya Pak, ini cuma antara kita bertiga, en cuma seks, Bapak ngerti kan?”
“Hehe…iya Den beres deh pokoknya, gak usah kuatir” Imron terkekeh dan menolak dengan halus pemberian pemuda itu.
“Ah, udah, ambil-ambil nih!” pemuda itu memaksa menaruh uang itu di tangan Imron, “tadi itu seru banget, anggap aja terima kasih” Imron pun akhirnya menerima uang itu.
Setelah Sieny selesai berpakaian dan merapikan kembali rambutnya, pemuda itu mengajaknya pergi. Mereka pun berpamitan pada Imron dan meninggalkan ruang kuliah itu, Sieny masih nampak canggung ketika permisi pulang. Sebuah seringai mesum dan jahat mengembang di wajah Imron setelah kedua muda-mudi itu meninggalkannya.
“Hehehe…nambah satu lagi, yang namanya rejeki, gak dicari pun kalau udah waktunya bakal datang sendiri” soraknya dalam hati.
Suatu kejadian yang cukup unik menurutnya ketika sore tadi memergoki pasangan itu sedang bermesraan di dalam mobil di basement parkir. Tadinya ia bermaksud memeras mereka dengan tujuan bisa menikmati gadisnya seperti yang biasa ia lakukan. Namun tanpa disangkanya, meskipun mereka awalnya kaget karenat tertangkap basah, si cowok itu malah menawarkan padanya untuk bersetubuh dengan pacarnya dengan ditonton olehnya. Gadis itupun setuju saja meskipun malu-malu dalam melakukannya. Mereka bilang kebetulan ingin mencoba variasi seks dengan melibatkan pihak ketiga. Terbukti perasaan Willy, pemuda itu, campur-aduk antara cemburu, tegang, dan horny, melihat pacarnya sendiri disetubuhi oleh orang lain. Setelah membereskan ruangan itu dan keluar, ia mengunci pintu dan melangkahkan kakinya menyusuri koridor yang telah sepi sehingga suara langkah kakinya terdengar. Imron berjalan pulang dengan hati puas sambil memikirkan cara menikmati gadis itu di kemudian hari dan menjadikannya sebagai budaknya.
“Heh Ron, mau pulang nih?” sapa Encep, si satpam kampus, ketika Imron melintasi pos satpam di dekat gerbang samping kampus.
“Iya duluan yah, sendirian lu nih malem? Si Kahar udah balik ya?” Imron balas menyapa.
“Ada kok, di dalem sana tuh, lagi hanget-hangetan” jawab Encep memelankan suaranya dan nyengir mesum.
“Oh…jadi lu disuruh jaga nih ya?” Imron tersenyum lebar, “sama sapa tuh?”
“Sama anaknya Pak Heryawan yang cantik itu loh, gua lagi nunggu gilliran nih, dah ngaceng nih titit daritadi huehehe”
Imron menempelkan telunjuk di depan bibir tebalnya, lalu berjalan mendekati pos satpam yang tirainya ditutup itu. Ia menekan handle pintu perlahan-lahan dan mendorongnya tanpa menimbulkan suara. Di dalam pos ia mendengar bunyi-bunyi wanita mendesah tertahan dan gumaman pria dari balik tembok tak berpintu tempat ganti baju dan dipan untuk beristirahat. Ia pun melangkahkan kakinya mengendap-endap ke sumber suara. Melalui sebuah cermin berukuran setengah badan yang tergantung di dinding Imron melihat pantulan adegan panas dari seberang cermin itu. Di atas dipan nampak Ivana sedang duduk menyamping di pangkuan Kahar yang asyik melumat payudaranya. Gadis itu hanya tinggal memakai bra biru muda yang telah terangkat ke atas dan rok yang juga tersingkap, sementara si satpam itu hanya tinggal memakai celananya saja. Sambil menyusu, tangan Kahar mendekap tubuh gadis itu dan meremas payudaranya yang sebelah dan tangan satunya sedang menyusup masuk ke balik roknya. Ivana mengapitkan paha menahan geli karena tangan itu menggerayangi selangkangannya.
“Ssshhh…Pak, jangan…nngghh!” erang Ivana, tangannya memegangi tangan si satpam yang merogoh masuk ke dalam roknya, namun tak kuasa menahan gerakannya. Lidah satpam itu menjilati sekujur payudaranya hingga basah kuyup, lalu bergerak lagi menciumi samping tubuhnya, diangkatnya lengan gadis itu agar bisa menjilati ketiaknya yang tak berbulu dan menyebabkan gadis itu merinding geli karena sensasinya.
“Ngentot melulu lo…bukannya jaga!” sahut Imron yang tiba-tiba muncul.
Kontan keduanya pun terkejut bak disambar petir, Ivana sempat menjerit dan refleks menutupi dadanya yang terbuka.
“Ngehe lu Ron! masuk ga bilang-bilang terus nongol kaya setan!” omel Kahar yang wajahnya sempat tegang karena kaget.
“Ehehehe…sori, sori, gua lagi jalan pulang, sekalian mampir sini” kata Imron menenangkan, “udah sana terusin aja, gua ga ikutan kok, capek…eh, Har, bagi rokok dong!”
“Hu-uh, dasar, gua kira sapa…tuh ambil aja di saku gua!” katanya seraya menoleh ke kemeja satpamnya yang tergantung di gantungan baju.
Ivana menatap kesal pada pria yang baru datang itu, tidak akan pernah hilang dari ingatannya bagaimana pria itu memerasnya dengan skandal ayahnya hingga ia terjerumus ke lembah nista seperti sekarang.
“Eehh…jangan Pak…nanti!” pintanya ketika Kahar memeluk kembali tubuhnya.
“Ah Non ini, kita semua kan udah pernah sama-sama ngentot malu apa sih!” kata Kahar menaikan lagi gadis itu ke pangkuannya.
Kahar mengangkat rok gadis itu lalu tangannya merogoh masuk lewat bagian atas celana dalamnya. Wajah Ivana memerah dan matanya berkaca-kaca, ia sangat malu dan terhina diperlakukan seperti pelacur seperti itu. Desahan lirih keluar dari mulutnya ketika jari-jari si satpam menyentuh bibir vaginanya sementara tangannya yang satu meremasi payudaranya. Imron terkekeh melihat adegan mereka sambil menyelipkan sebatang rokok ke bibirnya lalu menyalakannya.
“Non Ivana udah 4 bulan gini kok masih malu-malu yah hehehe!” ejek Imron.
“Makannya gua suka yang gini Ron, namanya malu-malu kucing nih tapi kalau udah naik goyangnya asyik, bikin gua nafsu!” timpal Kahar.
Telinga Ivana sungguh panas mendengar ejekan mereka yang merendahkannya itu, namun bagaimanapun ia tak sanggup berbuat apapun untuk melawan, kadang di saat seperti ini ucapan-ucapan tak senonoh itu diakui atau tidak malah membuatnya terangsang. Sebagai budak seks ia sudah terbiasa dengan semua itu dan dalam hati kecil ia pun menikmatinya walau kadang nuraninya menjerit, si penjaga kampus bejat itu telah menjeratnya dengan erat seperti jaring laba-laba dengan skandal ayahnya dan dirinya sehingga sulit baginya untuk lolos. Ia memalingkan wajah ke samping, tidak kuasa menatap Imron yang memandanginya dalam kondisi demikian.
“Baru mulai Har?” tanyanya dengan menghembuskan asap dari mulut.
“Iya seperempat jam kali, taunya lu datang ngagetin” jawab Kahar sambil terus menggerayangi tubuh gadis itu, “lu sendiri abis main juga? Kok ga ikutan?”
“Hehehe…bisa dibilang gitu, ya cape kerja juga sih, cape beresin lapangan baru dipakai tanding tadi siang”
Kedua pria bejat itu ngobrol-ngobrol santai diiringi desahan Ivana yang semakin dilanda birahi karena jari-jari si satpam yang terus keluar masuk di vaginanya. Barulah setelah rokoknya habis, Imron bangkit berdiri dan pamitan.
“Ok deh, gua pulang dulu deh, mau mandi seger terus istirahat” pamitnya, “Non Ivana saya tinggal dulu yah biar lebih enjoy” katanya seraya mengangkat dagu Ivana hingga wajahnya menengadah ke arahnya.
Imron menunduk dan melumat bibir gadis itu, mata Ivana terpejam menahan jijik, namun lidahnya sedikit beradu ketika lidah pria itu menjilatinya. Air mata menetes dari sudut matanya namun di saat yang sama birahinya bergolak menuntut kepuasan. Imron mencumbunya selama tiga menitan sambil tangannya juga meremas payudaranya hingga akhirnya dia melepas pagutannya lalu berbalik badan.
“Dah cabut dulu yah, moga puas!” katanya sambil melambai.
“Wei sekalian bilang tuh ke si Encep jaganya yang bener, kalau orang lain masuk kan gawat!” sahut Kahar.
Imron tidak menjawabnya dan berjalan keluar dari pos satpam itu. Setelah pamitan pada Encep ia pun meneruskan perjalanannya kembali ke rumah kontrakannya. Malam itu ia tidur dengan puas karena berhasil menambah nama baru dalam daftar korbannya.
#########################
“Sien…jangan diem aja gitu dong, gua kan cuma mau mewujudkan sensasi kita aja” kata Willy di mobil sambil memegang tangan pacarnya, “gua tetap sayang ke lu, gak akan ada yang berubah, tadi itu cuma seks, ya kan?”
Sieny terdiam beberapa saat, lalu menyahut, “Iya gua tau itu…tapi gimana yah kaya ada yang ngeganjel di hati, lu tau kan sebelumnya gua belum pernah ngelakuin sama yang lain selain lu, jadi ya…gimana gitu, gua juga susah omongnya, apalagi ngelakuin sama orang yang kaya gitu”
“Coba lu bedain seks sama perasaan deh, anggap aja dia itu vibrator” kata Willy, “lagian kan lu juga yang awalnya berfantasi pengen gituan yang hot dengan penis gede yang bikin ngegelepar kepuasan”
Sieny mulai tersenyum ditahan mengingat fantasi gilanya yang pernah ia ungkapkan pada pacarnya.
“Tuh…tuh senyum apa, kok ditahan, horny lagi lu yah” goda Willy mengangkat wajah Sieny yang tertunduk malu menyembunyikan senyumnya, “omong-omong lu hot banget tadi loh, bener-bener bikin gua turn on, horny tapi cemburu, ga karuan dah pokoknya rasanya liat lu digituin sama tuh orang”
“Gila yah, liat gua digituin malah horny!” kata Sieny mencubit paha Willy.
Mereka akhirnya tertawa-tawa, saling cubit dan pukul ringan hingga akhirnya Willy menyuruhnya berhenti karena sedang nyetir.
“Lu juga berpikiran sama kan? Lu ga pake perasaan waktu main tadi?” tanya Willy meraih telapak tangan pacarnya.
“Ya nggak lah, gua juga cuma anggap itu seks aja, tapi grogi aja mungkin baru pertama kali gituan sama yang lain sih”
Hanya sepuluh menit dari kampus tak terasa akhirnya mobil yang mereka tumpangi telah tiba di depan apartemen Sieny. Gadis itu pun berpamitan dan bersiap turun.
“Sien” Willy memegang lengannya sebelum ia membuka pintu, mata mereka saling bertatapan, “gua sayang lu”
Mereka pun berciuman mesra sambil berpelukan, tangan Willy meremas lembut buah dada pacarnya dari luar pakaiannya. Tak lama kemudian mereka memisahkan diri karena sadar tempat itu cukup terbuka walaupun tidak banyak orang yang lewat.
“I love you too, Wil” Sieny tersenyum manis sebelum membuka pintu dan keluar dari Honda Jazz biru tua itu.
Setelah melambai pada mobil Willy yang meninggalkannya, Sieny pun berjalan memasuki pekarangan apartemen. Apartemen kelas menengah atas itu memang menjadi tempat tinggal beberapa mahasiswa perantauan dari Universitas ******** yang berduit. Sieny sendiri sudah menempati kamarnya di lantai delapan itu selama empat tahun sejak ia mulai kuliah.
‘Ting!’ lift yang dinaikinya telah tiba di lantai delapan.
Ia mengeluarkan kunci dan memasuki kamar itu, kamar yang termasuk standard room (kelas dua/menengah) itu mempunyai fasilitas yang lumayan, termasuk mini bar, ruang tamu dengan TV-nya, sebuah gudang, dan sebuah kamar beranjang double. Ia memasuki kamar dan menyalakan lampunya. Setelah menaruh tas jinjingnya, Sieny mulai melepaskan pakaiannya satu-persatu hingga bugil, kemudian ia juga melepaskan jam tangan dan cincinnya yang diletakannya di meja rias. Diraihnya kaos longgar dan celana pendek yang tergantung di balik pintu lalu keluar dari kamar menuju kamar mandi. Sebelum masuk ia memasukkan pakaian yang dipakainya tadi ke dalam keranjang cucian di sebelah pintu kamar mandi.
Sieny menyibak tirai bathtub dan masuk ke dalam, ia lalu menyalakan shower dan mengatur suhunya. Siraman air hangat dari gagang shower menerpa tubuhnya memberi rasa segar serta menghilangkan kepenatan dan lengket-lengket pada tubuhnya. Ketika mengambil sabun dari tempatnya tiba-tiba sebuah tangan hitam memegang tangannya dan tangan lainnya yang mendekap tubuhnya dari belakang meraih payudaranya.
“Pak Imron?” katanya saat menoleh ke belakang.
Pria itu tersenyum, tubuhnya yang berisi sudah telanjang bulat, sebuah bekas luka di dadanya memberi kesan macho, penisnya telah menegang maksimal. Ia terhenyak melihat keperkasaan pria itu sehingga pasrah saja ketika dipeluk erat. Desahan halus keluar dari mulutnya saat Imron mulai menyabuni bagian payudaranya. Imron menggosokkan sabun itu memutari gundukan payudara Sieny berujung pada putingnya yang ia gosok perlahan hingga menimbulkan seperti sengatan listrik kecil yang membuat darah gadis itu berdesir. Tangan Imron yang lain turun ke vaginanya dan mulai mengelusi bibir bawahnya. Sieny menggigit bibir bawah dan desahannya makin tak tertahankan. Jari Imron yang mengelus vaginanya melakukan gerakan menusuk secara tiba-tiba.
“Aahhh !!!” Sieny menjerit, ia terbangun dan menemukan dirinya sedang berendam di bathtub.
Buaian air hangat yang menyegarkan tubuh membuatnya setengah tertidur sampai memimpikan pria itu. Merasa sudah cukup berendam, ia pun bangkit dan keluar dari air, diraihnya shower untuk membasuh tubuhnya dari sisa-sisa sabun. Setelah mengeringkan tubuhnya dengan handuk ia memakai kaos gombrong dan celana pendek yang biasa dipakainya tidur itu, kaos itu menggantung sejengkal di atas lututnya menutupi celana pendeknya. Usai menggosok gigi dan mengeringkan rambutnya dengan hair-dryer ia keluar dari kamar mandi. Lampu-lampu ia matikan dan terakhir lampu sepuluh watt di atas ranjangnya, setelahnya ia menarik selimut dan memejamkan matanya.
Waktu menunjukkan pukul 7.50, belum terlalu malam memang, tapi ia sudah ingin tidur karena hari ini cukup melelahkan dari fitness ketika baru memulai hari, dilanjutkan mencari-cari bahan skripsi yang melelahkan lalu menunggu dosen pembimbingnya untuk mengkonsultasikan skripsinya, terakhir persetubuhan liar di ruang kuliah yang menjadi pengalaman baru dan mendebarkan baginya tadi. Sieny (23 tahun) sudah dua tahun lebih berpacaran dengan Willy (25 tahun), mahasiswa dari universitas lain yang juga ternama, ia mengenal pemuda itu melalui seorang temannya di dugem ketika acara campus night. Itu adalah pacaran yang ketiga kali baginya namun pada pemuda itu lah ia menyerahkan keperawanannya. Willy sendiri sudah tidak perjaka ketika itu, ia pernah bercinta dengan pacar sebelumnya dan beberapa wanita teman one night stand, semua itu ia akui pada Sieny. Pada awalnya Sieny ragu menerima cinta pemuda yang kata temannya termasuk playboy itu, namun karena pendekatan Willy begitu gencar, hati Sieny pun akhirnya luluh juga. Dari segi fisik Willy termasuk diatas rata-rata, demikian pula dari segi ekonomi, ia berasal dari keluarga menengah atas, sambil kuliah ia mulai merintis usaha dengan beberapa temannya membuka toko HP. Selama berpacaran mereka sudah melakukan hubungan badan dalam berbagai variasi dan gaya. Dua bulan yang lalu terlintas ide nakal di benak mereka ketika sedang menonton sebuah film hentai yang memperlihatkan adegan seorang wanita digangbang di hadapan suaminya, gadis itu menangis namun juga menikmati perkosaan atas dirinya sementara suaminya juga menontonnya dengan marah namun penisnya menegang. Mereka mengungkapkan fantasi masing-masing mengenai seks yang liar di luar batas imajinasi seperti di film-film dan membandingkan dengan kehidupan seks mereka yang mulai membosankan. Pada akhirnya terjadilah kejadian sore itu tanpa disengaja.
######################
Empat hari kemudian
Perpustakaan Universitas *******, jam 11.25
Siang itu sedang di perpustakaan, Sieny sedang mencari buku referensi untuk skripsinya di sebuah rak buku di sudut perpustakaan. Ia membuka-buka halaman buku tebal yang dipegangnya mencari apakah ada yang bisa dipakai.
“Cari apa Non? Mungkin bisa saya bantu?” sebuah suara pelan dari belakang disertai tepukan di pundaknya mengagetkan gadis itu, hampir saja buku yang dipegangnya terjatuh.
“Haduh Bapak, ngagetin aja” Sieny menghembuskan nafas sambil mengelus dada, “ada apa sih Pak?” ia masih agak malu memandang wajah pria itu mengingat peristiwa empat hari sebelumnya.
“Lagi bersih-bersih, kebetulan lewat sini aja terus ketemu Non” jawab Imron terkekeh, ia memegang kemucing di tangannya, pandangannya menyapu tubuh gadis itu dari ujung rambut hingga kaki membuatnya nervous.
“Masih inget Non yang kemarin itu? asyik yah?” tanya Imron dengan suara pelan.
“Udah ah Pak, jangan ngomong gitu!” sergah Sieny dengan wajah memerah, “saya lagi sibuk nih!” ia mengembalikan buku tebal itu ke tempatnya dan beralih ke rak lain untuk menjauhi pria itu.
“Please dong, pergi, jangan kesini!” doanya dalam hati setelah menjauhinya.
Diambilnya sebuah buku lain dan dibukanya, matanya melihat ke buku kadang melirik ke sampingnya sehingga ia bahkan tidak tahu apa isi buku itu. Jantungnya berdebar semakin cepat melihat Imron mengikutinya dengan berjalan santai sehingga tidak mengundang perhatian orang lain. Betapa ia berharap ada orang lain datang kesini agar pria itu tidak macam-macam lagi, namun saat itu perpustakaan tidak terlalu ramai terutama di deretan rak tempatnya berdiri. Memang tak jauh dari situ ada beberapa orang mahasiswa sedang membaca dan membuat tugas di sebuah meja panjang, namun mereka nampaknya sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
“Non kayanya bingung? Atau mungkin Non malu ketemu saya?” tanya Imron di belakangnya sambil pura-pura membersihkan dengan kemucingnya.
“Pak, tolong jaga sikap dong!” kata Sieny dengan setengah suara tanpa menengok ke belakang, matanya terus melihat sekeliling takut kalau ada yang memergoki.
Sieny tercekat, nafasnya serasa berat ketika merasakan sebuah tangan meremas pantatnya. Ia terkejut dan malu namun tidak berani berteriak ataupun melawan.
“Jangan begitu Pak, tolong hentikan, ini tempat umum!” bisiknya pelan, wajahnya makin memerah.
Belum habis rasa kagetnya, Sieny sudah merasakan terpaan AC pada paha belakang dan pantatnya. Ternyata Imron telah menyingkap rok hitam selututnya dari belakang.
“Tenang Non, kita di sudut aman, mending Non awasin orang-orang di meja sana!” kata Imron dekat telinga gadis itu.
Tangan itu semakin berani meraba-raba paha dan bongkahan pantatnya yang membulat sempurna. Sentuhan erotis itu semakin mempermainkan perasaan Sieny antara takut, malu, marah, sekaligus horny, sesungguhnya dalam hati kecilnya pun ia masih ingin mengulangi sensasi persetubuhan empat hari yang lalu.
“Non seneng kan diginiin, saya tau Non pengen lagi” hembusan nafas pria itu terasa betul menerpa telinganya dan membuat bulu kuduknya merinding.
“Hhhmmhh…nggak Pak…jangan gini!” Sieny memohon dan berusaha menahan agar tidak mendesah.
“Nggak apa? Nggak salah maksudnya? Kalau Non ga suka kok diem aja bukannya kabur?”
Wajah Sieny makin merah mendengar ejekan itu, memang sebenarnya ia tinggal pergi saja kalau mau, namun entah mengapa ia tidak bisa…atau mungkin tidak ingin.
Imron menggerayangi semakin jauh, melihat tidak adanya penolakan dari Sieny ia bahkan berani menarik turun celana dalamnya. Ia menunduk dan memeloroti celana dalam putih beraksen pink itu perlahan-lahan sambil mengelusi paha mulus gadis itu. Sieny sendiri walaupun mulutnya terus meminta Imron berhenti, entah mengapa malah mengangkat kakinya membiarkan celana dalamnya dilolosi pria itu. Setelahnya Imron berdiri lagi dan memasukkan benda itu ke saku celananya. Kembali disingkapnya rok selutut itu dari belakang, kini Sieny semakin merasakan dingin pada paha, pantat, dan selangkangannya. Tangan Imron dari pantat mulai merambat ke bawah diantara kedua pada gadis itu.
“Ssshhh…eemm!” Sieny mendesis lirih sambil menggigit bibir bawah begitu jari-jari pria itu menyentuh bibir vaginanya.
Ia terus mengawasi keadaan di seberangnya melalui celah-celah rak walaupun matanya merem-melek dan pandangannya mulai tidak fokus. Sekilas terlintas lagi di memorinya ketika melakukan seks kilat di toilet hotel ketika menghadiri sebuah undangan pernikahan, namun sensasinya masih kalah dibanding yang sekarang ini, di tempat umum yang jauh lebih terbuka. Seumur hidup belum pernah terpikir melakukan aktivitas seksual di tempat seperti ini, penuh risiko dan memicu adrenalin yang mendatangkan kepuasan tersendiri. Imron terus menggosok-gosokkan jarinya pada vagina Sieny sambil pura-pura membereskan buku agar tidak memancing perhatian orang lain. Sieny merasakan semakin becek di bawah sana, apalagi kini jari pria itu mulai menyusup ke vaginanya melakukan gerakan memutar-mutar seperti mengaduk. Semakin tidak tahan saja ingin mendesah sejadi-jadinya kalau saja tidak ada siapa-siapa, kening dan dahinya mulai mengeluarkan keringat walaupun udara disitu ber-AC, wajahnya pun semakin merona menahan nikmat.
“Pak…stop, ada yang kesini!” Sieny memperingatkan dengan setengah suara ketika melihat di kejauhan sana seorang mahasiswa berjalan mendekati tempat mereka.
Imron bereaksi cepat buru-buru mengeluarkan tangannya dari antara paha gadis itu, rok itu pun kembali jatuh menutupi pahanya. Kemudian ia melangkahkan kaki menjauhi gadis itu dengan berlagak merapikan buku seolah tidak terjadi apa-apa, demikian pula Sieny yang berpura-pura membaca buku di tangannya walaupun tidak tahu apa yang dibacanya. Mahasiswa berkacamata itu ternyata memang benar menuju ke daerah itu, ia mencari-cari sesuatu diantara deretan buku-buku, namun ia pergi tak lama kemudian karena tidak menemukan apa yang dicarinya. Sieny sempat nervous ketika pemuda itu memperhatikan dirinya sejenak, ia takut orang itu tahu apa yang barusan terjadi, padahal pemuda itu hanya mengagumi kecantikannya seperti halnya pria-pria lain.
“Pak celana dalam saya kembaliin dong!” pintanya sambil menghampiri Imron dengan bersandiwara seperti sedang mencari buku.
Imron saat itu mengulum dan menjilati jari-jarinya yang belepotan lendir.
“Eeemm…gurih Non!” katanya yang membuat Sieny mengerutkan dahi, “susul aja saya ke atap, kalau saya kembaliin disini keliatan orang kan gawat Non, disana aman”
“Eh…Pak !” protesnya, namun ia tidak berani bersuara lebih keras melihat Imron yang lalu berbalik badan dan meninggalkannya.
Kurang ajar benar pria ini pikirnya dalam hati, tapi tadi itu…sungguh membuatnya seperti melayang. Sieny termenung beberapa saat lalu memutuskan keluar dari perpustakaan untuk menyusul penjaga kampus itu. Hatinya berdebar-debar saat melewati orang-orang yang ditemuinya, ia khawatir bagaimana jika ada yang menyadari bahwa ia tidak memakai celana dalam dan selangkangannya basah.
Sieny masuk ke lift dan menekan tombol 14, lantai teratas gedung itu sebelum atap. Lift itu pun membawanya naik, semakin lift itu bergerak naik, semakin tegang perasaannya. Pintu lift membuka, hanya tinggal dia sendiri di dalamnya, yang lain telah turun di lantai sebelumnya. Lantai ini hampir tidak ada pengunjung pada hari-hari biasa karena hanya terdapat teater, yang biasanya dipakai untuk acara seminar, drama, atau pertunjukkan, Sieny sendiri jarang menginjakan kaki di lantai ini. Tempat itu begitu sepi sampai suara sepatu haknya ketika melangkah pun terdengar jelas. Ia bahkan tidak tahu dimana jalan menuju ke atap namun tetap melangkahkan kakinya ke belakang teater sambil mengira-ngira disanalah tempat yang harus ditujunya. Akhirnya sampailah ia ke belakang panggung dan menemukan sebuah tangga besi yang menuju ke sebuah pintu yang setengah terbuka. Langkahnya terasa semakin berat dan detak jantungnya semakin cepat saat menaiki satu demi satu anak tangga itu. Didorongnya pintu itu perlahan dengan tangan sedikit gemetar. Ia melongokkan kepalanya keluar, tapi tidak ada siapapun di luar sana. Baru pertama kalinya bagi Sieny menjejakkan kakinya di tempat tertinggi di kompleks universitas ini. Gadis itu berjalan keluar, angin disana cukup besar juga sampai rambutnya yang diikat dan roknya melambai-lambai tertiup angin.
“Non Sieny!” sebuah suara memanggilnya dari atas, “saya kira nggak dateng”
Gadis itu menoleh ke arah tangki air melihat Imron menuruni tangganya.
“Hahaha…maaf ngagetin, saya tadi meriksa air sambil nungguin Non!” katanya sambil memegang kedua lengan gadis itu.
“Pak saya kesini cuma mau minta kembali celana dalam saya!” Sieny menepis tangan pria itu dari lengannya.
“Santai Non…santai, Non baru pernah kesini kan? Kenapa gak nikmati dulu pemandangan dari sini?” kata Imron dengan tenangnya, “kita juga bisa mengulang yang kemarin itu disini”
“Jangan macam-macam Pak, ini kelewatan!” Sieny mulai kesal, suaranya mulai meninggi.
“Lho macam-macam gimana Non, kan Non sama pacar Non yang ngajakin juga!”
“Itu cuma seks, tolong Bapak mengerti dikit dong!” tangkisnya
“Nah itu dia, seperti yang Non bilang, cuma seks, kita kan ngelakuinnya hanya berdasarkan nafsu, gak ada cinta-cintaan dan Non nikmatin banget kan?” balas Imron, “kenapa kita gak mengulang lagi kan cuma seks, saya gak suruh Non putus sama pacar Non, Non sama saya juga gak saling cinta ya kan !” Imron mencecarnya sambil mendekati Sieny yang tidak bisa menjawab dan hanya bisa mundur-mundur hingga terdesak ke arah tangga tangki air, “saya tau Non juga pengen nyobain lagi main sama saya, cuma malu, ya kan?”
Betapa merah dan panas wajah gadis itu, ia merasa dirinya ditelanjangi oleh Imron yang mengetahui hasrat liarnya.
“Saya…bukan perempuan kaya gitu!” bantahnya dengan wajah tertunduk malu.
Imron membelai pipi Sieny dan mengangkat dagunya, ditatapnya wajah gadis itu yang bingung. Tiba-tiba Imron dengan cepat menempelkan bibir tebalnya pada bibir gadis itu, mata Sieny terbelakak kaget, ia mendorong dada pria itu namun tangan Imron yang lain sudah keburu memeluknya erat. Imron mengangkat paha kiri Sieny hingga sepinggang menyebabkan gadis itu secara refleks memeluk tubuhnya agar tidak jatuh. Setelah itu barulah dia sadar kenapa malah memeluk pria ini?
Imron terus merangsang gadis itu dengan mengelus-elus pahanya yang terangkat dan menjilati bibirnya. Perlahan-lahan bibirnya pun mulai membuka, lidah Imron langsung masuk dan menyapu langit-langit mulutnya. Sieny yang tadinya meronta mulai pasrah, darahnya berdesir karena permainan lidah dan elusan pada pahanya. Merasa mendapat lampu hijau, Imron meraih kancing kemeja kuning gadis itu dan mepretelinya satu-persatu dengan cepat tanpa melepas ciuman. Nafas mereka semakin mendengus dan menggebu-gebu. Jantung Sieny semakin berdegub ketika merasakan telapak tangan kasar pria itu menyusup ke balik bra-nya dan meremas payudaranya dengan gemas.
“Eemmhh…eemm!” gadis itu melenguh tertahan karena tangan si penjaga kampus itu meremas pantatnya dan menimbulkan sensasi geli.
Ciuman Imron mulai turun ke dagunya, lalu ke leher membuat gadis itu semakin gelisah, terlebih tangan pria itu kini merambah kemaluanya yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi.
“Pak…oohh…jangan Pak!” desah Sieny antara menolak dan tidak.
Jari-jari Imron menyusup ke labia mayoranya dan mulai menggosok-gosok klitorisnya. Sieny merasa kakinya sudah tak bertenaga hingga tubuhnya bersandar sepenuhnya pada tangga besi di belakangnya. Tiba-tiba Imron mengangkat tubuhnya, pantatnya didudukkan di salah satu anak tangga di belakangnya, ia agak terkejut dan buru-buru berpegangan pada besi penyangga sudut untuk menjaga keseimbangan. Kini tubuhnya terduduk agak tinggi dengan dada sejajar wajah pria itu. Imron melepaskan kancing bra-nya yang terletak di depan sehingga tereksposlah sepasang gunung kembar berputing merah itu. Terpaan angin di atas gedung itu semakin terasa pada tubuhnya yang semakin telanjang. Baru pernah ia merasakan bercinta di tempat seperti ini.
Mulut Imron langsung mengarah ke payudara Sieny begitu bra itu terbuka. Lidahnya menjilati dan mengisap gundukan daging kenyal itu secara bergantian. Gadis itu mendesah lirih sambil tangan kanannya menekan kepala Imron ke dadanya. Imron mengigit-gigit kecil puting kemerahan itu sehingga semakin keras dan pemiliknya keenakan. Sementara itu tangannya masuk ke dalam rok diantara kedua paha gadis itu, tangan itu merayap perlahan mengelusi paha mulus itu hingga akhirnya menyentuh vaginanya lagi. Kurang lebih lima menitan Imron menyusu sambil mengais-ngais vagina Sieny lalu ia menurunkannya dari tangga. Sieny menyandarkan punggungnya ke tangga itu dan mengatur nafasnya yang turun-naik, birahinya sedang tinggi-tingginya akibat rangsangan pada sekujur tubuhnya tadi. Imron membuka sabuk dan resletingnya di hadapannya celana panjang itu pun melorot, Sieny menelan ludah melihat tonjolan penis dan zakar dibalik celana dalam pria itu.
“Hehe…liat ini Non!” kata Imron memegang batang penisnya yang baru dikeluarkan dari balik celana dalam, “Non ingat kan pernah ngerasain ini?”
Wajah Sieny menegang terpaku melihat penis hitam besar yang kepalanya kemerahan dan disunat itu.
“Ayo dipegang dong Non!” pintanya sambil nyengir mesum.
Sieny merinding, hatinya berkecamuk seribu satu perasaan, apakah ia harus melanjutkan sejauh ini? Apakah sudah terlalu jauh terjerumus dalam fantasi liarnya sendiri? Ia sungguh bingung sehingga tak bisa berkata apapun. Melihat mangsanya bimbang, Imron mengambil inisiatif, diciumnya pipi Sieny perlahan sambil tangannya meraih tangan gadis itu dan diarahkan ke penisnya. Gadis itu diam, tanpa sadar tangannya sudah menggenggam penis itu.
“Oh God!” jeritnya dalam hati ketika membelai batang itu.
Benda itu begitu panjang dan keras, terasa benar tonjolan urat-uratnya, denyutnya, dan aliran darahnya. Kalau dibanding milik Willy, kekasihnya, ini jauh lebih perkasa. Imron menggerakkan tangan gadis itu mengocoknya.
“Pake mulut Non, disepong, emut seperti permen!”
“Nggak…saya nggak mau!” ini adalah penolakan keduanya, kemarin waktu dikelas itu Sieny juga menolak mengoral penis itu, ia merasa tidak pantas melakukannya pada orang lain selain Willy, apalagi pada penis yang hitam dan kepalanya kemerahan itu, rasanya geli dan jijik.
Namun kali ini seperti ada dorongan dalam dirinya yang tidak dimengertinya, ia seolah menjadi hamba yang bersedia menuruti apapun yang diminta tuannya. Mulutnya memang berkata tidak, tapi ia diam saja ketika pria itu menekan bahunya dan menyuruhnya berlutut. Kini penis itu hanya lima centi di depan wajahnya, lubang kencingnya seperti mulut pistol yang menodong padanya.
“Ayo Non, rasain, jangan malu-malu, kan ini cuma seks kata Non juga!” kata Imron.
Dengan sedikit Sieny menciumi penis dalam genggamannya itu, ada rasa asin dan aroma tidak enak sehingga ia memundurkan kembali kepalanya.
“Jangan ragu, ayo Non harus jilat, emut, rasain enaknya!” perintahnya sambil menahan kepala gadis itu.
Sungguh ia merasa dilecehkan, apa haknya si penjaga kampus itu memerintahnya seperti itu, memangnya dia siapa? Tapi ia tetap melakukannya, ia tidak mengerti mengapa harus seperti itu, apakah hasrat liar telah sedemikian menguasainya hingga melupakan harga diri dan martabatnya sebagai wanita terpelajar dan berstatus menengah atas.
Sieny memulai dengan mengulum buah pelir pria itu yang ditumbuhi bulu-bulu tebal sambil memijati batang penisnya dengan tangan. Gila…setan apa yang telah merasukinya, ia merasa jijik, benci dan muak pada dirinya, namun dorongan untuk meraih kepuasan bersama pria ini begitu besar. Ia melanjutkan servis oralnya dengan menjilati sekujur batang itu yang berurat, bentuknya yang panjang dan keras itu membuat libidonya semakin terpacu, ia membayangkan bagaimana bila penis yang sudah menegang dengan perkasa itu sekali lagi mengoyak-ngoyak dirinya.
“Uuhhh…sedap Non, bener-bener ahli, udah pengalaman ya Non?” desah Imron sambil mengelus rambut indah Sieny.
Jilatannya akhirnya sampai ke ujung penis Imron yang disunat dan mirip jamur itu. Lidahnya menjilati wilayah itu, teknik yang biasa dipraktekannya pada pacarnya yang membuatnya mengerang keenakan, Imron pun tak terkecuali, ia menceracau tak karuan merasakan sensasi geli dan nikmat akibat sapuan lidah gadis itu pada kepala penisnya. Kemudian Sieny membuka mulutnya untuk memasukkan penis itu.
“Hhmmm…mmm!” terdengar gumaman dari mulut Sieny yang sedang mengulum penis si penjaga kampus itu.
Kepalanya bergerak maju-mundur sambil memegang batang itu. Sambil mengisap ia memutarkan lidahnya mengitari kepala penis itu sehingga membuat Imron semakin keenakan. Dipeganginya kepala gadis itu dan sesekali ditekan seakan menyuruhnya memasukkan penis itu lebih dalam lagi ke mulutnya. Ada mungkin seperempat jam Sieny melakukan oral seks terhadap pria itu sampai merasa pegal pada mulutnya, maka ia menggunakan tangan mengocok batang itu dan mengurangi kulumannya. Ia merasakan batang di dalam mulutnya itu semakin berdenyut saja.
Imron yang masih ingin mereguk kenikmatan lebih banyak tidak ingin orgasme secepat itu, maka ia pun menarik lepas penisnya dari mulut Sieny dan meraih lengan gadis itu untuk mengangkat tubuhnya hingga berdiri. Dengan agak kasar dan buru-buru memepetnya ke tangga tangki air. Sieny agak terkejut dengan gerakan yang tiba-tiba itu namun ia pasrah mengikuti permainan yang dipimpin gemilang oleh si penjaga kampus itu. Ia membalas ciuman Imron dengan aktif ketika pria itu melumat bibirnya. Imron menyingkap rok yang menutupi tubuh bagian bawahnya, penisnya kini telah bersentuhan dengan kemaluan gadis itu. Dengan bibir tetap saling berpagutan, ia mendorong pinggulnya hingga penisnya melesak masuk ke dalam vagina gadis itu. Keduanya mengerang merasakan alat kelamin mereka saling beradu. Imron menggenjotnya dengan mengangkat paha kiri gadis itu, sementara Sieny bersandar ke belakang dengan kedua tangan terangkat dan berpegangan pada anak tangga diatasnya.
“Mendesah aja Non…merintih sepuas Non, kita diatas, ga ada siapa-siapa, ekpresiin kenikmatan ini sepuas Non!” kata Imron melihat Sieny yang cenderung menahan-nahan suara desahannya dengan menggigit bibir.
Sieny pun melepaskan dengan liar segala derita birahi yang melandanya, ia mendesah dan merintih histeris, suaranya menyatu dengan hembusan angin di atap gedung. Tubuhnya menggelinjang menjemput kenikmatan, pinggulnya turut bergoyang dalam irama nafsu birahi yang menerjangnya. Sebuah seringai terpancar di wajah Imron melihat mangsanya yang sudah berhasil ditaklukan. Cengkraman erat vagina Sieny pada penis Imron yang besar dan perkasa itu menyuguhkan sensasi luar biasa pada diri mereka masing-masing, terutama Sieny yang merasakan kenikmatan ini jauh lebih dahsyat yang dibanding dengan pacarnya sendiri.
Imron melepaskan pegangan gadis itu pada anak tangga dan diletakkan ke bahunya yang bidang. Lalu tiba-tiba ia mengangkat kaki gadis itu yang satunya lagi, Sieny pun terkejut dan spontan memeluk leher pria itu agar tidak jatuh. Dengan penis masih menancap di vagina, ia menggendong gadis itu dengan menopang pantatnya dan berjalan perlahan-lahan.
“Mau apa Pak?!” tanya Sieny bingung.
“Pindah tempat Non, biar bisa sambil liat pemandangan” jawabnya menyeringai.
Ternyata Imron membawanya hingga ke pinggir atap yang dilindungi oleh tembok setinggi pinggang orang dewasa dan ke atasnya oleh pagar kawat setinggi semeter lebih. Imron memepetkan tubuh gadis itu ke pagar kawat lalu meneruskan genjotannya.
“Oohh…aakkhh…uugh!” desah Sieny makin tak karuan.
Ia menolehkan wajah ke samping dan melihat pemandangan di bawahnya, mobil-mobil yang lalu-lalang di jalan depan kampus nampak kecil seperti mainan, demikian juga orang-orangnya. Sungguh suasana bercinta nan eksotis, baru pertama kali ia mencobanya di tempat terbuka dan ketinggian seperti ini.
“Enak kan Non ngentot di atas gedung?” tanya Imron yang dijawab Sieny dengan anggukan, “pernah main yang seru gini sama pacar Non?” tanyanya lagi.
“Nggak Pak…eenngghhh…uuhhh !” jawab gadis itu di tengah desahannya.
Tubuh Sieny makin menggelinjang, lendir yang keluar dari kewanitaannya semakin banyak dan menyebabkan penis itu semakin lancar menusuk-nusuknya. Hingga pada suatu titik ia merasakan tubuhnya menggigil dan kontraksi otot vaginanya semakin cepat, ketika sudah diambang orgasme itu, Imron melah menurunkan frekuensi genjotannya hingga akhirnya berhenti sama sekali.
Sieny merasa tanggung namun ia sungkan mengatakan isi hatinya. Imron menurunkan tubuh gadis itu hingga kakinya kembali menyentuh tanah, kemudian membalikkan tubuhnya. Kini Sieny dalam posisi menghadap pagar kawat sehingga bisa melihat langsung pemandangan dari ketinggian di depan matanya, ia menyangkutkan jari-jarinya diantara celah-celah kawat pagar, pantatnya agak menungging ke arah Imron.
“Non masih mau kan?” tanya Imron dekat telinganya sambil membuka sabuk dan resleting rok gadis itu, rok itu pun meluncur jatuh dan bawahannya sudah tidak tertutup apapun lagi, “mau kan Non, jawab dong!” tanyanya lagi, kali ini sambil meremas payudaranya.
“Iya…hhhsshh…mau Pak, mau!” tanpa malu-malu karena tak kuat menahan keinginan untuk orgasme, Sieny menjawab terengah-engah.
Kembali Imron menjejali vagina gadis itu dengan penisnya yang masih tegak dan keras. Sambil bepegangan pada pinggang ramping gadis itu Imron terus menyodok-nyodokan penisnya. Sentakan-sentakan kuat itu menyebabkan tubuh Sieny ikut bergoncang-goncang, demikian pula pagar kawat tampatnya bertumpu. Desahan-desahan nikmat keluar dari mulutnya, matanya setengah terpejam sambil melihat ke bawah, ia membayangkan bagaimana kalau saja orang-orang di bawah sana melihat ke arahnya atau mungkin ada yang sedang meneropongnya dari gedung lain. Sungguh rasa penasaran, hasrat dan gairahnya yang terpendam tertumpah semua saat itu. Tangan pria itu merambat ke atas hingga memegang payudara kanannya, meremas, lalu menggesek-gesek putingnya dengan jari-jarinya. Sieny semakin tak sanggup menahan gelombang birahinya, ia semakin melenguh-lenguh dan nafasnya semakin memburu, sebentar lagi puncak kenikmatan itu akan dicapainya. Namun pada momen menentukan itu, sekali lagi Imron menghentikan genjotannya, pria itu memang sedang mempermainkan birahinya.
Sieny terpaksa menggerakkan sendiri pinggulnya agar tetap bergesekan dengan penis pria itu yang kini tersenyum penuh kemenangan.
“Non emang doyan kontol yah, Non suka kan sama kontol saya hehehhe!” ejek Imron yang membuatnya semakin malu.
“Nggak Pak…nggak…aahhh…jangan omong gitu…aahh!” Sieny menggeleng dan membantah ejekan Imron yang sangat melecehkannya itu.
“Habis apa Non…saya tau Non jenuh sama pacar Non…Non juga lebih puas main sama saya betul kan!?’ cecarnya kali ini sambil menjilati daun telinga gadis itu yang beranting.
“Tidak…eengghh…saya bukan…”
“Pelacur” sergah Imron sambil menusukkan penisnya dalam-dalam, “ya Non emang bukan pelacur, Non itu budak seks, budak dari hasrat liar Non sendiri!”
Sieny tidak bisa berkata apa-apa lagi untuk membalasnya karena memang perkataan Imron memang benar dan sejujurnya ia sangat menikmati persetubuhan dengan si penjaga kampus itu sejak kontak pertama mereka tiga hari lalu, pria itu begitu mahir memuaskannya dengan gaya dan variasinya yang khas.
“Dengar ya Non, saya bisa ngeliat Non sebenarnya punya hasrat liar, Non pengen memek Non dimasukin kontol siapa aja, tapi Non cuma malu karena dibatasi status sosial, ras, dan norma-norma umum, apa saya salah Non ? kalau semua itu gak ada atau kita lupakan sejenak Non mau kan ngentot sama siapa aja?”
“Itu nggak benar Pak…tidak…ahhh….ahh!” Sieny meraung-raung sambil tangannya memukul-mukul pagar kawat, baru kali ini ia ditelanjangi habis-habisan luar-dalam yang membuatnya direndahkan serendah-rendahnya namun disaat yang sama juga terangsang hingga titik puncak.
“Jangan pura-pura lagi Non, ini buktinya Non sendiri yang goyang seperti haus kontol gini !” Imron dengan kasar melepaskan kemeja dan bra yang masih menempel di tubuhnya, “lepasin, lepasin dulu Non semua batasan-batasan itu kalau Non mau ngerasain kenikmatan seks yang sempurna”
“Oohh…ayo Pak, puasin saya…saya…saya gak tahan lagi…mmhh!” Sieny akhirnya memohon supaya diantar ke puncak kenikmatan oleh si penjaga kampus itu.
Betapa malunya ia sampai harus memohon seperti itu, tapi memang ia sudah tak sanggup lagi menahan keinginan untuk orgasme.
“Jadi Non seneng kan ngentot sama saya?” Imron terus melecehkannya.
“Iya Pak…iya…aahh…seneng banget, tolong puasin saya!” ceracau Sieny membuang segala perasaan malu dan batasan-batasan itu seperti yang dikatakan Imron tadi.
“Non mau kan saya apain aja? Non mau jadi budak seks?” tanya Imron lagi tanpa menghentikan genjotannya.
“Iya…aahh…terserah Bapak aja!” erang gadis itu semakin tak bisa menahan nikmatnya.
Panas juga wajah dan telinga Sieny karena terus-terusan diejek begitu, terlebih ia tak bisa membantah apapun. Imron tertawa penuh kemenangan dan mempergencar genjotannya. Tubuh gadis itu tersentak-sentak dan makin terdesak ke pagar, payudaranya yang montok itu kini tertekan pada pagar kawat. Tidak seorangpun yang sedang lalu-lalang di bawah gedung atau jalan menyadari sedang terjadi adegan panas di ketinggian itu karena terlalu tinggi dan tidak terlihat, namun bagi kedua insan yang sedang berasyik-masyuk itu, setiap momen menjadi sensasi tersendiri. Desahan gadis itu semakin menjadi ketika gelombang orgasme itu kembali menerpanya, tubuhnya menggelinjang dahsyat seakan melepaskan segala nikmat yang tadi tertunda. Akhirnya ia mendesah panjang dan seluruh otot-otot tubuhnya mengejang, yang datang kali ini adalah multiorgasme sehingga tubuhnya berkelejotan tak terkendali, sungguh luar biasa seperti melayang ke surga saja rasanya, dari pengalaman seks selama dua tahun dengan kekasihnya saja belum pernah mengalami yang seperti ini. Matanya merem-melek dan pandangannya seperti berkunang-kunang selama terhempas gelombang orgasme itu, sensasi itu berlangsung selama 2-3 menit lamanya hingga akhirnya tubuhnya melemas seperti tak bertulang, kalau saja Imron tidak mendekapnya mungkin ia sudah ambruk ke tanah.
Saat itu Imron belum mencapai klimaks, ia melanjutkan hujaman-hujamannya terhadap liang vagina gadis itu. Lima menit kemudian barulah penisnya menumpahkan lahar panas di dalam vagina Sieny.
“Uuggghh…asyiknya!” lenguh Imron sambil menekan dalam-dalam penisnya yang menyemburkan sperma.
Penis Imron masih menyodok vaginanya namun kecepatannya kian menurun. Di paha dalam Sieny nampak cairan kewanitaannya yang bercampur dengan sperma pria itu meleleh keluar dari selangkangannya. Setelah genjotan Imron berhenti, ia mendekap tubuh gadis itu dan mundur beberapa langkah lalu menjatuhkan pantatnya pada sebuah tembok pembatas. Dipangkunya tubuh gadis itu dengan penis masih menancap di vaginanya walau sudah mulai kendor karena mulai menyusut. Imron memeluknya sambil memijat pelan payudaranya. Sieny merasakan betapa banyak cairan orgasme yang keluar dan sperma Imron yang tertumpah di dalam sana hingga sebagian meleleh keluar dan terasa basah. Perlahan-lahan penis Imron mulai melembek dan akhirnya ia menurunkan gadis itu dari pangkuannya. Sieny merasa dirinya begitu menjijikan, apa yang dilakukannya barusan benar-benar seperti perempuan murahan yang haus seks, tapi toh segalanya sudah telanjur dan ia menikmatinya, apakah ini yang disebut guilty pleasure? Ia termenung dengan mata menatap langit biru seolah sedang menunggu jawaban dari atas sana.
“Ini Non pakaiannya, jangan bengong aja ntar masuk angin!” Imron yang telah memakai kembali celananya menyodorkan pakaiannya yang telah dia pungut.
Sieny tersadar dari lamunannya dan buru-buru menerima pakaiannya, ia mulai merasakan terpaan angin di itu membuatnya menggigil.
“Eh…Pak? Mana celana dalam saya, BH-nya juga kok hilang?” tanya gadis itu kebingungan karena tidak menemukan pakaian dalamnya.
“Saya pegang dulu ya Non, supaya kita bisa ketemu lagi.” Imron mengeluarkan kedua pakaian dalam itu dari sakunya sambil tersenyum lebar.
“Apa?! Cukup sampai sini Pak! Ini sudah kelewatan!” kata Sieny agak membentak.
“Weiss…weis…jangan marah gitu Non, tapi kalau cantik biar marah juga tambah cantik” Imron memegang dagu gadis itu dan menatapnya, “kita kan sama-sama menikmati Non, termasuk pacar Non juga, ingat yang saya bilang tadi lupakan batasan-batasan norma supaya bisa menikmati sepenuhnya, lepaskan hasrat liar Non sebebas-bebasnya”
Sieny memandang kesal padanya, ia mau tak mau harus menuruti keinginan bejat si penjaga kampus ini, namun diakui atau tidak sebenarnya ia masih ingin diperlakukan seperti budak seks olehnya.
“Gimana kalau besok sore kita bertemu lagi Non? Saya punya sesuatu yang lebih seru untuk Non” tanyanya
“Nggak…ga bisa, besok saya ada urusan”
“Kalau lusa bagaimana?”
“Mmmm…iya, tapi…tolong rahasiakan semua ini Pak, saya mohon” pintanya memelas.
“Saya tunggu Non di ruang multimedia gedung kuliah bersama, jam enaman aja, udah sepi” kata Imron membalik badan dan mengelus pantat gadis itu, “Oke, saya duluan, supaya ga ada yang curiga, kalau turun nanti jangan lupa tutup pintunya yah Non” sambungnya memperingati sambil berjalan menjauh.
Akhirnya tanpa mengenakan dalaman, Sieny memakai kembali kemeja dan roknya serta segera merapikan diri.
Setelah itu berbenah, Sieny beranjak dari tempat itu, ia merasa agak jengah tidak memakai dalaman di keramaian kampus seperti itu, putingnya terasa mencuat tegang di balik kemeja, untungnya tidak terlalu tipis dan warnanya biru langit sehingga tidak terlalu tembus pandang. Hal itu sekaligus menimbulkan perasaan tegang dan gairah yang menggebu-gebu. Ia tidak pernah membayangkan dirinya, seorang mahasiswi yang anggun dan modis, berani tidak mengenakan dalaman di kampus. Jantungnya semakin berdebar-debar ketika melewati serombongan mahasiswa yang sedang menunggu kuliah di sebuah koridor, terlebih ketika berpapasan dengan beberapa orang yang dikenalnya dan terpaksa menyapa. Sebenarnya sebagai salah satu bunga kampus ia sudah biasa diperhatikan dan dikagumi pria, namun karena saat itu sedang dalam keadaan tegang, tatapan pria di sekitarnya serasa menelanjanginya. Ia was-was apakah mereka tahu dirinya tidak memakai dalaman atau dapatkah mereka melihat belahan pantatnya tercetak di rok. Ia pun mempercepat langkahnya dan bersikap sewajar mungkin ketika harus menyapa orang, dalam hati ia berharap segera tiba di apartemennya. Sepuluh menitan jalan kaki dengan hati deg-degan akhirnya tiba juga di apartemennya. Begitu menutup pintu kamar ia langsung menghembuskan nafas panjang, lega sekali, rasanya seperti maling yang harus mengendap-ngendap agar bisa meloloskan diri tanpa diketahui orang saja. Ia menjatuhkan diri ke sofa empuk, matanya melirik ke meja melihat sekotak rokok dan lighter milik Willy yang tertinggal. Sebenarnya ia sangat jarang merokok bahkan berusaha menjauhinya akhir-akhir ini, namun tangannya meraih kedua benda itu. Diselipkannya sebatang rokok pada bibirnya yang tipis, lalu disulutnya dengan lighter. Puufff…mulutnya menghembuskan asap, pikirannya nerawang merenungkan kegilaan yang baru saja dilakukannya.
#############
“What!!….apa lu bilang? Jadi lu gituan lagi sama si penjaga kampus itu?” Willy terkejut ketika mendengar pengakuan pacarnya.
Saat itu mereka sedang di mobil dalam perjalanan menuju ke sebuah hotel untuk menghadiri sebuah undangan pernikahan salah satu teman. Sieny memutuskan untuk mengakui perbuatannya kemarin dengan penjaga kampus itu, namun ia tidak mengatakan bahwa pakaian dalamnya sedang disita oleh pria itu dan besok berjanji akan bertemu lagi, terlebih mengenai kepuasannya yang luar biasa melebihi ketika bercinta dengan kekasihnya, ia masih malu dan tidak enak mengatakan yang satu itu, ia sendiri merasa sudah melangkah terlalu jauh. Sedangkan Willy, entah mengapa, mendengar pengakuan kekasihnya itu ia malah terangsang dan bergairah walau ada rasa marah dan cemburu juga.
“Gimana awalnya Sien? dia apain aja lu?” tanyanya penasaran.
Sieny pun menceritakan dari awal ketika bertemu di perpustakaan hingga diajak naik ke tempat tertinggi di kampus itu. Penis Willy mengeras dan terangsang habis mendengar cerita pacarnya ini. Sambil mendengarkan tangannya menyingkap gaun malam Sieny dan mengelusi pahanya.
“Akhirnya dia kembaliin celana dalamlu Sien?” tanyanya setelah Sieny menceritakan persetubuhan di atap gedung itu.
“Eerrr…iya…akhirnya dia kembaliin!” ia harus berbohong di bagian ini karena tidak ingin Willy mengorek lebih jauh lagi.
“Wow…edan juga, lu bikin gua horny aja Sien” Willy menyusupkan tangannya lebih dalam hingga menyentuh kemaluan kekasihnya yang masih tertutup celana dalam.
“Aahh!” Sieny mendesah dengan tubuh bergetar, “udah ah…nyetir yang bener sana! Udah hijau tuh!” ia mengeluarkan tangan pacarnya.
Willy pun buru-buru menggeser gigi dan menginjak gas karena agak terlambat menyadari lampu telah menyala hijau.
“Duh mau apa lagi sih Wil?” Sieny meronta ketika Willy memeluknya setelah tiba dan memarkirkan mobilnya di sebuah tempat agak sepi di basement.
“Bentar aja Sien, gua horny berat nih!” sahut Willy sambil menyibak lebih tinggi rok kekasihnya dan menggelusi vaginanya dari luar, sedangkan tangan satunya menurunkan gaun itu lewat bahunya, payudara Sieny yang hanya tertutup cup pada gaun malam berdada rendah langsung terbuka.
“Ssshh…aaahhh, jangan dong Wil, tar ada yang liat…mmmhh!” gadis itu mendorong-dorong kepala kekasihnya yang asyik mengenyoti payudaranya, sepasang kaki jenjangnya saling bergesekan menahan geli akibat belaian pemuda itu pada selangkangannya.
Jemari Willy mulai menyusup lewat pinggir celana dalam kekasihnya, di dalam sana sudah lembab dan sedikit becek karena terangsang. Sieny menggeliat merasa seperti tersengat listrik ketika jari-jari itu mengelus bibir vaginanya lalu menyusup masuk ke dalamnya. Desahan seksi terdengar dari mulutnya membuat pemuda itu semakin gemas apalagi mengingat-ingat cerita barusan. Tangannya menarik lepas celana dalam Sieny yang menggerakkan kaki membiarkan celana dalam mini berwarna krem itu terlepas dan jatuh di lantai jok depan.
“Uuhh…jangan, ntar make up gua luntur!” Sieny menahan wajah Willy dan memalingkan wajah ketika pemuda itu hendak memagut bibirnya.
Willy mengerti alasan itu namun ia masih bernafsu, sebagai gantinya ia menurunkan gaun itu yang sebelah lagi. Sieny pun kini topless dan pasrah membiarkan pacarnya menikmati kedua payudaranya. Matanya tetap awas memperhatikan keadaan diluar, ia tidak ingin kepergok lagi seperti di kampus beberapa hari lalu. Ia pun berinisiatif menarik tuas jok dan mendorong sandaran dengan punggungnya agar bisa setengah berbaring.
Puas bermain-main dengan payudara kekasihnya sampai basah kuyup dan meninggalkan bekas cupangan, Willy mengangkat paha kanan kekasihnya itu lalu secepat kilat membenamkan wajah pada selangkangannya. Ia memainkan lidahnya menyentil-nyentil klitoris Sieny membuatnya semakin menggelinjang dan mengerang nikmat. Sieny tak sanggup menahan sensasi geli yang luar biasa di bawah sana, tangannya meremas-remas payudaranya sendiri dan mulutnya memanggil-manggil nama kekasihnya itu. Hingga akhirnya tubuhnya melengkung ke atas ketika orgasme itu datang. Willy melumat kemaluan pacarnya itu seperti mau menelannya, mulutnya menyedoti cairan orgasme yang keluar secara kontinyu. Sieny menahan diri agar tidak menjerit atau bergerak terlalu liar yang menyebabkan mobil ikut bergoyang dan mengundang perhatian.
“Udah Wil, kita terusin nanti aja yah!” Sieny mengangkat kepala cowoknya yang masih asyik melahap sisa-sisa cairan orgasmenya.
Ia cepat-cepat merapikan kembali gaunnya, namun ketika mengambil celana dalam dan hendak memakainya, Willy mencegahnya.
“Sien…jangan…gimana kalau lu ga usah pakai itu, supaya lebih seksi gitu” katanya, “pasti exciting banget kaya cerita lu tadi itu.”
“Hihihi…terserah lu deh, kayanya lu emang seneng ya yang kaya gitu” Sieny tertawa kecil dan tidak jadi memakai celana dalamnya.
Mereka pun keluar dari mobil bergandengan tangan menuju ruang pesta. Ketika tiba di pintu masuk tempat menulis buku tamu, Sieny merasa deg-degan juga dalam hatinya, namun ia dengan cepat membiasakan diri.
“Sien…kalau ada orang tau gimana tuh hehe!” bisik Willy.
“Sssttt…diem ah!” Sieny mencubit lengan pacarnya itu.
Selama pesta Willy begitu menikmati kecantikan kekasihnya dalam balutan gaun malam yang seksi dan tidak memakai dalaman. Ia bangga orang-orang memandang kagum pada pacarnya ini.
Akhirnya setelah makan dan potret bersama, mereka pun bersalaman dengan pengantin untuk pamit pulang. Namun keluar dari ruang pesta Willy bukannya menuju ke basement melainkan ke sebuah toilet di lorong hotel yang sepi.
“Mau kemana nih? Duh jangan cepet-cepet gitu dong, sepatu gua kan hak!” protes Sieny karena Willy berjalan cepat sambil menarik pergelangan tangannya, “oh no, please Wil, jangan…jangan, pesta udah mau bubar!” tolaknya menyadari kekasihnya ingin mengajak bercinta di toilet hotel seperti beberapa bulan lalu.
“Makannya cepet, gua udah kebelet banget!” kata Willy bersemangat.
Willy membuka pintu toilet pria, setelah memastikan di sana tidak ada orang lain lagi, ia menarik kekasihnya masuk ke dalam. Tempat itu seperti toilet-toilet di hotel berbintang pada umumnya, sangat bersih terawat dengan tiga tempat kencing berdiri, sebuah wastafel panjang, dan empat bilik. Willy membawa masuk kekasihnya ke bilik paling ujung. Tanpa buang-buang waktu lagi, setelah mengunci pintu ia segera mencuim bibir Sieny dengan ganas sambil tangannya membuka sabuk dan resletingnya terburu-buru. Pemuda itu pun memelorotkan celananya, lalu ia menyibak rok kekasihnya dan mengangkat paha kirinya. Ciuman Willy mulai turun ke lehernya, tiba-tiba, ‘bless…aaakkh!!’ Sieny menjerit kecil tanpa bisa tertahan saat sebuah benda tumpul menyeruak masuk ke vaginanya.
“Uuhh…Wil, jangan ngagetin dong, tar ada yang denger!”
Pemuda itu tersenyum saja dan mulai menggoyangkan pinggulnya menggenjot kekasihnya. Sieny merintih merasakan nikmat tak terkira, ia berusaha mengendalikan suaranya agar tidak terlalu keras. Genjotan Willy makin lama makin ganas, Sieny tidak tahan lagi sehingga ia melumat bibir pemuda itu agar erangannya teredam dan tidak kelepasan. Percintaan dalam situasi tegang ini sungguh menambah kenikmatan.
“Aah…Wil, gua udah mau!” desah Sieny dengan berbisik.
”Tahan Sien…kita keluar bareng ya” kata Willy mencoba mengatur tempo
Willy menggerakkan pinggulnya semakin cepat, terkadang ia memutar-mutar pinggulnya sehingga penisnya mengaduk-aduk vagina kekasihnya.
“Mmhh…gua ga tahan lagi…aahh…ahhh!” desahnya panjang diikuti dengan orgasmenya.
Tubuh Sieny menegang dan kepalanya menengadah ke atas. ‘cret…cret’ dirasakannya sperma kekasihnya tertumpah di rahimnya. Willy juga telah orgasme, tubuhnya mengejang dan memepet kekasihnya, nafasnya terengah-engah menikmati persetubuhan kilat yang baru saja mereka lalui. Keduanya melakukan French kiss sejenak lalu dengan cepat merapikan pakaian masing-masing.
“Rambut gua dah rapi kan? Muka gua aneh ga?” tanya Sieny setelah membenahi diri.
“Nah…dah beres, rapi lagi deh!” katanya seraya menyibak ke belakang beberapa helai rambut Sieny yang agak kusut.
Willy membuka pintu dan memantau keadaan di luar, setelah yakin masih sepi ia baru memanggil kekasihnya keluar. Mereka pun berjalan bergandengan tangan dengan hati plong karena baru menuntaskan syahwat masing-masing, mereka saling senyum pada pasangan masing-masing. Ketika mengantri keluar parkir mereka membahas permainan kilat barusan.
“Sien…gua jadi tambah nefsong aja tadi sambil ngebayangin lu dientotin orang-orang kelas bawah kaya yang lu ceritain itu” ucapnya.
Gadis itu memalingkan wajahnya ke jendela, ia malu sekali dan teringat lagi persetubuhannya dengan Imron dan janjinya besok.
“Kapan-kapan kita ajak si penjaga kampus lu itu lagi yuk, gua mau ngeliatin lu digituin lagi sama dia” usul Willy sambil meraih tangan kekasihnya, “gimana?”
Tanpa diduga Sieny menyentakkan tangannya hingga terlepas dari genggaman Willy.
“Cukup! Lu kira gua apaan sih!? Pelacur yang harus ngikuti fantasi gila lu!?” hardik Sieny dengan nada tinggi.
“Nggak Sien bukan gitu…tapi lu kan juga…juga…!”
“Gua juga menikmati? Lu mau bilang itu kan!? Lu kira waktu gua ngelakuin itu sama dia gua enak-enak aja gitu?? Tau ga sih kita ini tambah kebablasan!”
“Bukan tapi kan lu juga bilang pengen nyoba hal-hal baru waktu ml?”
“Iya tapi ini sudah kelewatan Wil, gua juga punya perasaan…bukan nafsu doang…lu pikir enak apa harus ML sama penjaga kampus di depan pacar gua?!” kata Sieny penuh emosi.
“Iya iya…sori Sien, gua emang kelewatan” Willy meminta maaf, ia memahami kemarahan pacarnya dari suaranya yang meninggi.
Willy baru sadar mobil di depannya sudah bergerak maju dan ia segera menginjak gas begitu mendengar mobil di belakang mengklaksonnya. Sepanjang perjalanan mereka diam membisu, pandangan Sieny hanya pada pemandangan di jendela mobil. Willy yang sudah hafal dengan sifat Sieny bungkam seribu bahasa sambil menunggu mood kekasihnya itu pulih. Tiba-tiba Willy merasakan ponselnya di saku celananya bergetar, ia segera mengambilnya dan menerima panggilan.
“Oohh gitu…jadi besok siang aja bisanya?” ia melayani pembicaraan di telepon sambil membawa mobil agak ke pinggir agar bisa menyetir lebih pelan.
Setelah beberapa saat berbicara, ia pun menyudahi pembicaraan dan menutup ponselnya.
“Sien, sori yah, gua emang kelewatan” katanya sambil menggenggam tangan kekasihnya, ia diam tidak menepisnya pertanda kemarahannya sudah turun “tapi lu kan masih harus ke kampus, kalau ketemu orang itu lagi harus gimana?”
“Gua coba ngehindar, lagian gua kan tinggal setengah tahun kurang lagi terus lulus, ke kampus cuma buat bimbingan aja,” jawabnya, “tadi kenapa?”
“Itu…kayanya besok siang udah harus ke Surabaya, tiketnya cuma ada jam itu”
“Lu ga lama kan disana?” tanya Sieny, “gua ga tau kenapa ada feeling gak enak aja jadinya”
“Gak kok, Jumat siangnya lamaran, sore gua udah balik” jawabnya mengenai masalah dirinya harus pergi menghadiri lamaran pernikahan salah seorang sepupunya.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di depan gerbang apartemen Sieny. Awalnya Willy ingin ikut masuk dan bercinta sebelum besok pergi meninggalkannya, namun Sieny menolak dengan alasan perlu istirahat.
“Hati-hati yah besok!” katanya sambil mencium pipi pemuda itu sebelum membuka pintu dan turun dari mobil.
############################
6: 12, ruang dosen, gedung fakultas teknik
Dalam ruang yang lampunya sudah sebagian dimatikan itu, tubuh Diana terbaring di atas sebuah meja panjang dengan seluruh kancing kemeja terbuka dan cup bra tersingkap ke atas, demikian pula roknya yang sudah terangkat sampai pinggang dan celana dalamnya tergelatak di lantai. Sementara di sebelahnya, Imron sedang membungkuk dan melumat payudaranya dengan penuh nafsu.
“Eemmm….sssllrrppp….sssrrpp!” bunyi suara hisapan dan jilatan itu.
Mulut Imron berpindah mengisap payudara yang satunya, tangannya terus mengobok-obok vagina dosen cantik yang wajahnya mirip Olga Lydia itu, jarinya keluar-masuk dan menggeseki klitorisnya. Diana mendesah tertahan dengan tubuh menggeliat-geliat diterpa kenikmatan.
“Hehehe…gimana Bu, enak kan?” tanya Imron mengangkat kepalanya dari dada Diana dan tersenyum menjijikkan.
Perasaan malu dan kotor menyergap Diana, wajahnya memerah karena tak sanggup berbuat apapun melawan nafsu binatang si penjaga kampus itu. Begitulah nasibnya, seorang wanita baik-baik dan berpendidikan tinggi, juga seorang istri bagi suaminya, kini telah menjadi budak seks yang harus merelakan tubuhnya dipakai sekehendak hati pria itu.
“Sudah Pak Imron, saya suami saya sedang menunggu di rumah!” Diana memohon.
Ironis memang di hari ulang tahun pernikahan mereka ini, ia masih harus melakukan perbuatan terkutuk itu.
“Kan masih jam segini Bu, santai aja” kata Imron kalem, “lagian ibu kan lebih puas main sama saya daripada suami Ibu”
“Pak, jangan omong sem…hhhmmhh!” sebelum Diana menyelesaikan protesnya, Imron sudah melumat bibirnya memotong kalimatnya.
Anehnya, Diana malah membalas ciuman Imron, naluri seksnya telah bekerja mengalahkan akal sehatnya. Mereka berciuman panas sambil berpelukan, jari-jari Imron makin cepat mengorek-ngorek vaginanya.
Di tengah percumbuan itu, Imron merasakan ponselnya bergetar di kantung celananya, berhenti sekali lalu bergetar lagi. Ia menegakkan tubuh wanita itu hingga terduduk di tepi meja, lalu melepaskan ciuman tanpa menghentikan permainan jarinya di vagina wanita itu. Tangannya yang satu mengambil ponsel di saku celananya, sebuah senyum tergurat di wajahnya melihat dua kali misscall nomor tak dikenal di ponselnya.
“Aaakkhh…aahh!” Diana semakin tidak tahan karena jari-jari Imron semakin cepat keluar masuk vaginanya.
Akhirnya dengan sebuah desahan panjang menandai ia mencapai orgasmenya, dipeluknya Imron dengan erat. Cairan kewanitaannya meleleh keluar membasahi meja di bawahnya. Tak lama kemudian tubuh Diana pun melemas lagi, pelukannya terhadap Imron mengendur dan nafasnya ngos-ngosan. Imron menarik jarinya dari vagina dosen cantik itu lalu menjilati cairan yang membasahi jarinya.
“Lihat Bu, basah banget!” ucapnya sambil menunjukkan jari-jarinya yang basah, “Udah hari ini segini aja, Ibu boleh pulang, saya juga ada perlu.”
Diana bengong juga mendengar Imron melepaskannya, ia bersyukur Imron tidak berlama-lama menikmati tubuhnya hari ini karena ia telah berjanji pulang lebih awal untuk merayakan ulang tahun pernikahannya. Ia segera turun dari meja dan buru-buru membenahi diri.
“Hehe…Ibu sepertinya ngejar sesuatu, ada apa Bu?” tanya Imron sambil mengelus dagu dan mengangkat wajah Diana.
“Ini hari pernikahan kami, tolong Pak jangan persulit saya” kata Diana agak bergetar.
“Ooh…jadi gitu, pantesan Ibu pengen cepet-cepet…ya udah sana pulang!” kata Imron, “salam buat suami Ibu dari saya yah!” tangannya meremas pantat wanita itu dengan kurang ajar.
Diana hanya bisa memendam kekesalan melengos pergi meninggalkannya. Setelah itu Imron pun mematikan lampu dan keluar dari ruang itu serta menguncinya.
########################
Sieny duduk di bangku panjang lantai enam gedung kuliah bersama, hanya dirinya seorang diri di tempat itu. Lampu telah menyala menerangi koridor itu karena langit sudah mulai gelap. Ia baru saja pulang dari gym sore itu, tapi ia tidak segera pulang ke apartemennya, entah mengapa kakinya seperti melangkah sendiri membawanya ke kampus dan menunggu di tempat yang dijanjikan penjaga kampus itu kemarin lusa. Memang ada alasan menemui pria itu, yaitu meminta kembali celana dalam dan bra yang disitu itu, tapi benaknya terus terbayang-bayang saat-saat intim bersama pria itu dan terus terang….ia masih ingin merasakannya lagi.
“Lupakan segala batasan dan norma untuk meraih kenikmatan yang sesungguhnya” kata-kata Imron itu terus terngiang-ngiang di memorinya.
“No…no, gua kesini hanya mengambil barang gua yang dia sita!” batinnya sedang bergumul hebat.
“Kau budak seks, perempuan binal, gak punya harga diri, pezinah!!” seolah ia mendengar suara-suara yang berseru seperti itu padanya.
Betapa keresahan melanda hatinya, ia sendiri tidak tahu kenapa ia malah mengikuti ajakan pria itu bertemu. Kedua tangannya memeluk kepalanya sendiri dan menunduk ke bawah seperti orang sakit kepala.
“Tidak…aku bukan perempuan seperti itu…aku bukan pelacur!!” jeritnya dalam hati.
“Itu kan katamu Sien, buktinya ngapain kau menghubungi nomor yang dia berikan untuk memanggilnya, kau masih mau merasakan kontolnya kan Sien?! Kau memang budaknya, budak…budak…!!” suara itu terus mencecarnya sehingga ia tidak tahan menitikkan air mata.
Ia baru bangkit dari bangku dan baru memutuskan untuk pulang saja ketika penjaga kampus bejat itu sudah muncul dan menghampirinya.
“Aha…Non ternyata datang juga ya…saya kira gak bakal datang lagi!” sapanya, matanya menatap dari atas hingga bawah tubuh Sieny yang memakai kaos dan celana panjang ketat dari bahan jeans yang mencetak bentuk paha dan pinggulnya.
“Nggak Pak, sudah cukup, saya kesini buat minta kembali barang saya!” bantah gadis itu kesal.
“Sabar Non, sabar, pasti saya kembaliin kok…omong-omong Non ga enak badan? Saya liat kaya cape gitu sampe nunduk-nunduk” kata Imron dengan kalemnya.
“Cuma ambil itu aja Non? Atau masih pengen ginian lagi?” Imron menunjukkan jempolnya yang diselipkan diantara telunjuk dan jari tengah.
Wajah dan telinga gadis itu memerah karena kekurangajaran pria itu, ingin rasanya menamparnya tapi ia serasa tidak sanggup melakukannya.
“Gini Non, kita masuk aja dulu, bicarain di dalam, kan ga enak kalau kita keliatan orang disini!” Imron berjalan ke pintu dan membuka kuncinya.
Bak dihipnotis, Sieny menurut saja diajak masuk ke dalam, ia baru tersadar setelah mendengar suara pintu ditutup dari belakangnya. Ia menengok dan melihat pria itu tersenyum menyeringai padanya.
“Boleh saya minta barang saya Pak? Sudah cukup ini semua” pintanya dengan suara lemah, dalam hatinya masih bergumul hebat saat itu.
“Nanti pasti saya kembaliin, tapi Non tau gak saya ajak kesini untuk apa?” Imron mengeluarkan sebuah cd dari balik seragam karyawannya, “Saya pengen ajak nonton bareng ini!”
Walau resah melandanya, ia menurut saja ketika Imron menggandeng tangannya dan membawanya ke deretan tempat duduk yang berbentuk setengah lingkaran seperti tribun mini, di seberang deretan kursi tersebut terdapat layar besar untuk menampilkan gambar dari infocus di atas langit-langit. Ia mengambil tempat duduk di deretan agak belakang.
“Tunggu yah Non, saya stel dulu filmnya!” Imron menuju ke audio visual di belakang deretan kursi itu.
Infocus menyala menembakkan gambarnya ke layar. Film dari vcd yang ditunjukkan Imron tadi pun dimulai. Sieny terkesiap melihat adegan di layar yang memperlihatkan seorang wanita cantik duduk di sofa diapit dua orang pria setengah baya, yang satu berperut tambun dan satunya berpeci dan tubuhnya bongkok. Kedua pria itu lalu melucuti satu demi satu pakaian wanita itu yang hanya bisa pasrah tak berdaya. Wanita itu kelihatannya berusaha menutupi wajahnya dari sorotan kamera namun tangannya dipegangi oleh kedua pria yang mengerubunginya dan kamera tetap mengarah padanya. Si pria bongkok itu melumat buah dada wanita itu yang sudah terbuka sementara si pria tambun menggerayangi tubuh mulusnya sambil menciumi leher dan pundaknya.
“Hehehe…gimana? Seru kan Non?” tanya Imron menghampiri dan duduk di sebelahnya, “ini bukan film bokep biasa Non, ini nyata dan pemainnya ada di kampus ini, coba liat perempuan itu kan dosen disini, di ekonomi, namanya Rania.”
Penjelasan Imron membuat Sieny semakin tertegun dan tak sanggup berkata apa-apa. Pantas wanita itu sepertinya familiar, ternyata dosen disini, tapi bagaimana mungkin bisa terlibat film seperti ini? Seribu satu pertanyaan memenuhi benaknya, sudah sedemikian gilakah dunia ini?
“Itu yang bapak-bapak gendut masa Non juga ga tau?” tanya Imron lagi sambil memijat paha Sieny, gadis itu menggeleng, “itu kan Pak Dahlan, ketua jurusan arsitektur, ya dosen disini juga, ini syutingnya di rumah beliau, kalau yang pake peci itu pembantunya”
“Nggak…ini nggak mungkin Pak, gak mungkin dosen disini bikin film kaya gini!” kata Sieny menggeleng-geleng kepala tak percaya semua ini.
“Nggak mungkin gimana Non, ini nyata mereka melakukannya, sama seperti kita” Imron mendekap tubuh gadis itu dan meremas payudaranya.
“EEehh…jangan Pak!” ia meronta tapi hanya setengah hati.
Imron mulai mencium bibir Sieny, gadis itu mengelak tapi ia memegangi kepalanya, bibirnya yang tebal itu mulai menyapu lembut bibir gadis itu yang dikatupkan rapat-rapat.
“Santai Non, kalau tegang gini mana enjoy?” kata Imron sambil terus menciuminya.
“Jangan…mmhhh!” suara Sieny terpotong oleh pagutan pria itu.
Teringat lagi kata-kata Imron waktu itu, “Lupakan segala batasan dan norma untuk meraih kenikmatan yang sesungguhnya.”, ia pun memejamkan mata menikmati percumbuan itu. Imron begitu lihai mengobarkan nafsunya sehingga tanpa sadar gadis itu membalas ciumannya. Sieny merasakan pertahanannya runtuh sedikit demi sedikit, ia sendiri telah berjanji pada kekasihnya untuk menghindar dari Imron dan tidak melakukan perbuatan itu lagi, tapi ledakan birahinya dan kerinduannya akan kenikmatan seperti kemarin tidak bisa dibendung lagi, lagian toh kekasihnya juga yang pertama kali menyuruhnya bercinta dengan penjaga kampus ini.
“Maaf Wil, gua ga bisa nolak…gua ga punya kekuatan untuk itu!”
Imron melucuti pakaian Sieny satu-persatu hingga bugil, dipandanginya tubuh telanjang gadis itu dengan penuh kekaguman. Sementara itu gambar di layar sedang memperlihatkan Rania sedang mengoral penis dan tampak tangannya sedang mengocok penis yang lain. Kamera mensyutingnya secara close up sehingga terlihat jelas penis itu maju mundur seperti menyetubuhi mulutnya. Ketika sedang terpana menonton adegan itu, Sieny merasakan kedua kakinya direnggangkan. Ia melihat ke bawah, ternyata Imron telah berjongkok diantara kedua kakinya.
“Oohhh!!” tanpa buang waktu Imron sudah menjilati vaginanya yang becek sehingga membuatnya mendesah tak tertahankan.
Sieny menggeliat liar di kursi merasakan lidah penjaga kampus itu menyapu bibir vaginanya, menggelitik klitorisnya dan menyedotinya. Sungguh sensasi yang luar biasa apalagi sambil menyaksikan adegan panas di layar.
Sebuah tangan Imron menjulur ke atas dan mencaplok payudara kirinya, tangan itu mulai meremas dan memilin-milin putingnya. Nampak di layar Rania masih sibuk mengoral penis Pak Dahlan, si dosen bejat sementara Thalib asyik mengenyoti payudaranya sambil tangannya menggerayangi tubuh mulus itu.
“Yah Pak…eeenggh enak…aaahh!” desah Sieny tidak malu-malu lagi, ruang ini kedap suara sehingga ia tidak ragu-ragu mengeluarkan suaranya tanpa perlu ditahan-tahan.
Bukan hanya lidah pria itu yang beraksi di vaginanya, jari-jarinya pun turut bermain sehingga semakin membuatnya terbuai akan kenikmatannya. Berkali-kali lidah dan jari pria itu merangsang daging kecil sensitifnya. Hingga akhirnya tubuhnya mengejang dan ia mendesah panjang, Imron mengisap cairan orgasme yang memancar keluar dengan bernafsu. Kedua paha mulus gadis itu mengapit erat kepalanya karena menahan rasa geli dari gelombang orgasme ini.
“Ini baru pemanasan Non, masih banyak yang asyik!” Imron bangkit berdiri, mulutnya belepotan cairan orgasme gadis itu.
Sieny terbaring di kursi dengan nafas tersenggal-senggal, sementara Imron membuka celana di hadapannya. Ia tertegun melihat penis yang telah mengacung tegak itu mengarah padanya, sebelum diminta ia sudah terlebih dulu menggenggam batang itu mengikuti naluri seksnya.
“Bagus gitu manis, sekarang diemut kaya waktu itu yah!” Imron tersenyum sambil membelai rambut gadis itu.
Tanpa diminta lagi, Sieny membuka mulut dan memasukkan penis itu ke mulutnya, diemutnya. Ia menggerakkan lidah menjilati kepala penis itu lalu ke seluruh permukaannya membuat pemiliknya mendesah nikmat. Birahi mengalahkan rasa jijik dan malunya sehingga ia melakukan oral seks itu tanpa canggung lagi.
Sekitar sepuluh menit Sieny melayani penis Imron dengan tangan dan lidahnya, ia melakukan semuanya dengan lihai hingga akhirnya Imron menarik lepas penisnya.
“Sebentar Non”, katanya sambil mengeluarkan ponsel dari saku bajunya yang bergetar.
“O iya…iya Pak udah di depan yah, saya ga denger sori…oke sekarang saya buka ya!”
“Sekarang Non saatnya, dijamin Non ga akan lupa pengalaman ini!” katanya menyeringai sambil menutup ponsel.
“A-apa…apa maksud Bapak?” tanya Sieny.
“Yuk ikut saya Non, saya tunjukin!” Imron menarik lengan gadis itu dan menyeretnya.
Sieny walau bimbang tetap mengikuti kemana pria itu membawanya. ‘Tok-tok-tok!’ suara ketukan di pintu membuatnya terkejut dan takut.
“Siapa itu Pak, kita ketahuan” katanya dengan terbata-bata.
“Tenang Non, tenang, itu emang saya yang manggil kok, ini yang saya bilang kejutan itu” jawabnya santai, “sekarang Non bukain ya pintunya”
“Apa? Ini gila, saya gak mau Pak!” Sieny meronta dan menyentakkan lengannya yang dipegangi Imron namun pria itu terlalu kuat mencengkramnya, “lepaskan saya Pak, sudah cukup semua ini!”
“Eit…eit, kan Non sendiri yang pengen kenapa sekarang malah mau mundur?” Imron mendekap tubuh gadis itu untuk meredam rontaanya.
Tanpa mempedulikan penolakan dan rontaan gadis itu, Imron mendekap dan menyeret gadis itu ke pintu lalu dengan tangan yang satu ia membukakan pintu. Pak Dahlan dan si satpam Kahar yang muncul di depan pintu melotot lebar-lebar melihat Imron menyambut mereka sambil mendekap seorang gadis cantik yang dalam keadaan telanjang bulat.
Keduanya buru-buru masuk dan kembali menutup pintu, mereka melongo menyaksikan keindahan tubuh Sieny yang sengaja dipertontonkan Imron pada mereka dengan menelikung kedua tangannya ke belakang, payudaranya yang montok itu nampak makin membusung indah. Sieny sendiri juga terkejut karena salah satu orang itu tidak lain adalah ‘aktor’ yang filmnya sedang diputar di layar itu.
“Wah…wah…lu emang pinter pilih barang Ron, mantap bener satu ini!” Pak Dahlan berdecak kagum sambil meremas payudara kiri Sieny.
“Ini salah satu kecengan gua, akhirnya kesampaian juga impian gua, lu emang top Ron!” puji Kahar.
Sieny meronta berusaha melepaskan diri dari kerubutan tiga pria berwajah sangar ini, rontaannya baru berhenti ketika tangan-tangan kasar itu menjamahi tubuhnya. Birahi mulai kembali menguasai dirinya, apalagi lidah Imron menggelitik leher dan telinganya dari belakang. Baru kali ini ia melakukannya secara keroyokan, walau merasa harga dirinya benar-benar jatuh ia tak bisa menyangkal kenikmatannya.
“Namanya siapa Dik, kok Bapak jarang liat ya?” tanya Pak Dahlan tanpa menghentikan jamahannya di setiap lekuk tubuh yang indah itu.
“Sieny Pak” jawabnya lirih.
“Kocokin ini dong Non Sieny!” sahut Kahar membawa tangan gadis itu memegang penisnya yang entah kapan dia keluarkan.
Sieny menelan ludah melihat penis besar berurat itu, benda itu juga terasa berdenyut-denyut dalam genggamannya. Mmmm…tiba-tiba bibir Pak Dahlan sudah menempel di bibirnya, tanpa perlawanan, ia membuka bibir membiarkan lidah pria itu masuk dan bermain-main di mulutnya. Ia merasakan benar-benar menjadi budak seks yang dapat diperlakukan sekehendak hati ketiga pria ini, namun anehnya hal itu malah membuat gairahnya semakin naik.
Sieny makin tenggelam dalam permainan mereka, sedikit demi sedikit ia makin menyerahkan dirinya diperbudak oleh mereka. Ia berlutut dikerubungi ketiga pria bejat itu, tanpa diminta ia membukakan sabuk dan resleting celana Pak Dahlan lalu mengeluarkan penisnya dari balik celana dalamnya.
“Nah gitu baru pinter, udah lu didik berapa lama Ron, nurut banget nih cewek!” komentar Pak Dahlan sambil berkacak pinggang.
“Baru kok belum juga dua minggu, emang dasarnya doyan kontol aja, saya cuma ngajarin supaya ga malu-malu” jawab Imron.
Tawa memuakkan memenuhi ruangan ini disertai komentar-komentar yang menjijikkan yang membuat perasaan gadis itu makin campur aduk. Ia menjilati penis si satpam di genggamannya tanpa menghiraukan harga dirinya, penis itu dijilatinya dari ujung hingga pangkalnya sampai benda itu basah oleh liurnya.
“Wuih…nyepongnya jago nih!” sahut Kahar kembali disambut tawa yang lain.
Tak lama kemudian, Pak Dahlan yang hanya dikocok oleh tangan gadis itu meninggalkan mereka sejenak. Ia masuk ke ruang audio-visual lalu kembali dengan membawa sebuah bangku lipat.
“Ayo duduk sini Dik, Bapak mau jilat-jilat dikit dulu!” perintahnya.
Ketiganya membantu gadis itu yang sudah lemas duduk di kursi. Pak Dahlan mengambil posisi diantara kedua pahanya, ia membenamkan wajahnya di selangkangan gadis itu dan mulai melumat vaginanya. Sieny bergetar merasakan kenikmatan dari vaginanya yang dijilati lidah hangat dosen bejat itu. Imron menggerayangi tubuhnya dengan tangannya yang kasar, sesekali mulutnya nyosor menyusu pada payudaranya. Sementara ia juga masih harus melayani penis si satpam dengan mulutnya. Kenikmatan datang bertubi-tubi dari seluruh penjuru tubuhnya, ia baru merasakan nikmatnya digangbang seperti ini.
Sementara di layar nampak adegan Rania sedang menaik-turunkan tubuhnya yang dipangku Pak Dahlan dengan posisi memunggungi, si bongkok, Thalib terus mengenyoti payudaranya bergantian, sesekali ia juga melumat bibir dosen cantik itu. Kemudian kamera meng-close up alat kelamin Rania dan Pak Dahlan yang sedang menyatu, penis gemuk pria itu basah mengkilap akibat cairan persetubuhan mereka. Namun mereka yang di ruang itu lebih fokus pada Sieny daripada adegan di layar. Jilatan-jilatan Pak Dahlan pada klitorisnya membuat Sieny merasa tubuhnya seperti meriang, kedua belah paha mulusnya mengapit erat kepala pria itu karena menahan geli.
“Mmhh…eemmm!” desahan tertahan terdengar dari mulutnya yang sedang mengulum penis si satpam.
Sieny merasakan dorongan untuk memuaskan ketiga pria ini semakin besar. Ia dengan agresif memutar lidahnya mengitari batang penis itu, cukup sulit juga karena benda itu terlalu besar untuk ukuran mulutnya yang mungil. Ia semakin tak sanggup menahan rangsangan dari bawah sana, kewanitaannya semakin berdenyut dan siap mengucurkan cairan orgasme lagi seiring dengan jilatan dan hisapan Pak Dahlan yang makin intens.
“Asyik kan Non, Non suka kan?” bisik Imron di telinganya sambil tangannya mengelusi punggungnya yang mulai berkeringat.
Dengan penis si satpam yang masih di mulutnya, gadis itu mengangguk pelan, hilang sudah segala rasa malunya saat itu. Tak lama kemudian, Pak Dahlan menyudahi oral seksnya padahal saat itu Sieny sudah akan mencapai puncak, sehingga ia merasa tanggung. Pak Dahlan sebenarnya sudah tahu hal ini namun ia sengaja mempermainkan nafsu gadis itu.
“Yuk turun, cukup deh pemanasannya!” kata Pak Dahlan menurunkan tubuh gadis itu hingga terbaring di lantai beralas karpet hijau tipis.
Sieny mendesah lirih saat Pak Dahlan menggesek-gesekkan penisnya pada bibir vaginanya untuk mempermainkan nafsunya.
“Pakk…aahh!” desah Sieny ketika kepala penis itu menyundul-nyundul bibir vaginanya yang merekah dan becek, tangannya meraih batang penis itu seakan sudah tidak sabar ditusuk.
“Udah gatel yah Dik hahaha…udah pengen dimasukin kontol?” goda Pak Dahlan yang terus menggesek-gesek kepala penisnya.
“Iya Pak…ssshh…masukin Pak, saya kepengen!” jawab Sieny mengikuti dorongan birahinya.
“Non ini gatel banget ya, lu emang asli penakluk cewek Ron, salut gua!” puji Kahar.
“Udahlah ga usah banyak omong lagi, kita ngentot aja sampai puas!” kata Imron lalu melumat payudara kanan gadis itu.
Tubuh gadis itu menekuk ke atas dan mulutnya mengeluarkan desahan ketika penis gemuk Pak Dahlan masuk membelah bibir vaginanya, tangannya meremas rambut Imron yang sedang mengenyot payudaranya menahan nikmat.
“Uuhhh…gini nih kesukaan saya, memek yang legit, mantap banget deh!” komentar Pak Dahlan, sebuah komentar tak senonoh yang tidak pernah keluar bila sedang mengajar di kelas.
Sieny juga ikut menceracau tak karuan namun terhenti oleh pagutan Kahar pada bibirnya. Lidah si satpam beraksi sepuasnya di dalam mulut gadis itu. Sieny pun tidak tinggal diam, lidahnya turut beradu dengan lidah pria itu dan masuk ke mulutnya tanpa mempedulikan nafasnya yang tidak sedap karena bau rokok murahan. Sambil berciuman tangan Kahar tidak pernah absen menggerayangi lekuk-lekuk tubuh gadis itu. Ketika sampai di payudara, jari-jarinya mencubit-cubit putingnya hingga makin mengeras.
Pak Dahlan yang sedang menyetubuhi Sieny merasakan bahwa sebentar lagi gadis ini akan mencapai orgasme dari vaginanya yang semakin berkontraksi memijati dan menyedot penisnya. Lendir yang keluar dari kewanitaannya menyebabkan penis itu semakin lancar keluar masuk dan mengeluarkan bunyi kecipak, serta memberi kehangatan dan kenikmatan lebih bagi pemiliknya. Imron dan Kahar menyeringai melihat Sieny mendesah tak karuan di ambang orgasmenya.
“Non nafsu banget, Non ini perek atau mahasiswa sih? Diperkosa kok malah enjoy?” ejek Imron.
“Jawab Non…kita pengen tau jawabannya!” timpal Kahar mencubit putingnya melihat Sieny hanya memalingkan wajahnya yang memerah, sungguh memalukan rasanya, ia telah menjerumuskan dirinya sendiri sampai sehina ini tapi malah menikmati.
“Aahh…yahh…saya-saya…perek…saya cewek murahan!” Sieny menjerit kecil karena cubitan Kahar pada putingnya, jawaban itu pun terlontar begitu saja dari alam bawah sadarnya.
Sieny merasakan tubuhnya semakin mengejang seperti ada yang mau meledak di dalam sana, orgasmenya sebentar lagi akan tiba, ia mengepalkan tangannya dan bersiap mendesah sepuas-puasnya. Namun betapa kecelenya ia karena tiba-tiba Pak Dahlan menghentikan genjotannya sehingga ia tak jadi orgasme. Matanya yang sayu memandang pria itu dengan pandangan memohon agar menuntaskan yang telah ia mulai.
“Uuhh…ayo dong Pak, saya nggak tahan!” mohon Sieny dengan membuang segala rasa malunya karena sudah tak kuat menahan keinginan untuk orgasme.
Ketiga pria itu tertawa-tawa mendengar permohonan Sieny yang sudah takluk.
“Hahaha…jadi Dik Sieny udah ga tahan nih, pengen Bapak entot terus?” tanya Pak Dahlan mengejeknya.
“Iyah Pak tolong puasin saya!” keluh gadis itu sambil tangannya memegangi telapak tangan Imron yang meremas dadanya seolah memintanya terus merangsangnya dengan sentuhan-sentuhan erotis.
Pak Dahlan pun meneruskan genjotannya dengan lebih bertenaga. Sieny akhirnya mengejang saat gelombang orgasme datang menerpanya dengan dahsyat. Vaginanya berkontraksi cepat mengempot dan menghisap penis Pak Dahlan. Tubuhnya menggeliat dalam kerubutan ketiga pria itu. Pak Dahlan semakin mempercepat tempo genjotannya sehingga Sieny pun merasa tubuhnya terbang semakin tinggi. Dosen bejat itu pun akhirnya tak tahan juga, penisnya serasa diremas kuat oleh dinding vagina Sieny yang bergerinjal-gerinjal dan kehangatan cairan orgasmenya. Penisnya memuntahkan sperma hangat ke rahim gadis itu, ia menekan dalam-dalam penis itu selama mengeluarkan isinya hingga akhirnya penisnya menyusut lalu ditariknya lepas. Sieny merasa cairah putih kental itu masih meleleh keluar di sela-sela bibir bawahnya, tubuhnya masih lemas setelah orgasme tadi, ia memejamkan mata dan mencoba mengatur nafasnya yang sudah ngos-ngosan. Dalam waktu relatif singkat gairah Sieny timbul lagi karena cumbuan-cumbuan si satpam dan kenyotan Imron pada payudaranya, serta jamahan-jamahan tangan mereka. Melihat gadis itu sudah bangkit lagi nafsunya, tanpa buang waktu lagi Kahar segera menaikkan tubuh mulus itu ke pangkuannya. Penis itu melesak masuk ke dalam vagina Sieny diiringi desahannya, wajahnya menengadah dan mulutnya ternganga lebar. Penis besar berurat itu terasa sesak dan sedikit perih, namun kenikmatan yang melanda sekujur tubuhnya mengimbangi rasa sakit itu.
“Uufffhh…memeknya seret banget Non, enak!” dengus Kahar merasakan himpitan dinding vagina gadis itu yang ketat.
Erangan Sieny kembali memenuhi ruangan ketika pria itu mulai menyentak-nyentakkan pinggulnya ke atas dengan frekuensi semakin cepat. Kahar lalu membaringkan tubuhnya di lantai memberi tempat bagi Pak Dahlan, si dosen bejat itu, yang meminta Sieny melakukan cleaning service pada penisnya. Tanpa ragu, gadis itu meraih penis yang sudah setengah loyo dan basah itu dan mulai menyapukan lidahnya ke batangnya, lalu dimasukkan ke mulut, dikulum sebentar, demikian seterusnya dengan variasi yang membuat pria tambun itu merem-melek. Perlahan-lahan penis itu pun mulai mengeras lagi. Kini Sienylah yang lebih aktif memicu tubuhnya naik turun di atas penis pria itu mencari kenikmatannya, sementara Kahar tidak perlu lagi menyentakkan pinggul, ia hanya tinggal menerima enaknya sambil tangannya bergerilya menggerayangi payudara dan paha gadis itu. Tak lama kemudian, setelah membersihkan penis dosen bejat itu, Imron mendorong punggung Sieny hingga pantatnya lebih menungging.
“Lubang sininya ini masih nganggur kan Non, saya coblos yah!” katanya sambil menempelkan kepala penisnya ke pantat gadis itu.
“Ya Tuhan, bisa mati gua!” katanya dalam hati melihat penis Imron yang ereksi maksimal itu akan menerobos pantatnya karena seumur-umur belum pernah ia melakukan anak seks, “jangan kasar Pak…uuggghh….aduuhh…aaahh!!” erangnya saat Imron melesakkan penisnya pelan-pelan ke anusnya.
“Uuuhh…masih perawan yah Non? Edan sempitnya hhhssshh!” desis Imron merasakan sempitnya lubang belakang gadis itu.
“Tahan sebentar Non, nanti juga enak, Non pasti belum pernah dicoblos dua lubang sekaligus ya?” kata Kahar yang berbaring di bawahnya, telapak tangannya saling genggam dengan tangan gadis itu yang sedang menahan perih.
Pak Dahlan, si dosen bejat itu duduk di kursi sambil cengengesan melihat adegan penetrasi ganda itu, sesekali ia memberi instruksi dan komentar seperti sutradara saja. Akhirnya setelah beberapa kali melakukan tarik dorong, Imron berhasil menancapkan penisnya di anus gadis itu.
“AAhhh…aaaaahh!” desahan Sieny makin keras ketika kedua pria itu mulai menyetubuhinya.
Ia merasakan kedua lubang bawahnya dibuka selebar mungkin, penis-penis besar itu terasa sesak sekali sampai setiap gesekannya sangat terasa. Rasa perih pada selangkangan dan anusnya mulai sirna karena bercampur dengan kenikmatan luar biasa. Kedua penis besar itu mampu menjelajah setiap mili liang kenikmatannya hingga menyentuh G-spotnya. Sensasi itu kian menghanyutkannya ke dalam lautan birahi.
“Ceritain Non gimana rasanya dientot rame-rame? Suka gak?” kata Imron sambil terus menyodok-nyodokkan penisnya.
“Suka Pak…sshhh…lebih kenceng…saya gak tahan enak bangethhh!” desah Sieny, ia tidak peduli lagi harga dirinya, kata-kata itu keluar begitu saja, begitu polos tanpa dibatasi norma-norma dan batasan apapun.
Kahar asyik menggerayangi atau menyedot-nyedot payudara gadis itu yang bergelayut di atas wajahnya. Butir-butir keringat membasahi tubuh dan wajah cantiknya, rambutnya pun sudah agak berantakan menutupi sebagian wajahnya.
“Uuuhh-uhhh…saya mau keluar lagi Non…sempit banget gila…mmmhh!” erang Imron yang semakin tidak tahan penisnya seperti diremas dengan sangat kuat oleh dubur gadis itu yang baru pertama kali dibobol.
Si penjaga kampus bejat itu pun akhirnya orgasme dan menumpahkan spermanya di pantat Sieny. Semprotan sperma yang keras dan hangat itu memberi sensasi nikmat pada gadis itu sehingga merasa dirinya terbang semakin tinggi menembus batas. Hal ini juga semakin mendekatkannya pada orgasme. Setelah Imron mencabut penisnya, Sieny kini tinggal melayani si satpam. Ia menegakkan kembali tubuhnya dan semakin cepat menaik-turunkan tubuhnya diatas penis pria itu.
“Aahhh…mau keluar Pak, sodoknya yang kuat Pak…oohhh…oohhh!” Sieny menceracau tak karuan sambil meremasi payudaranya sendiri karena kenikmatan itu dirasanya semakin memuncak.
Sebuah desahan panjang diiringi tubuhnya yang mengejang menandakan ia telah mencapai puncak kenikmatannya. Ia ambruk di atas tubuh si satpam, namun pria itu masih terus menyentak-nyentakkan pinggulnya ke atas tanpa menunjukkan tanda akan orgasme.
“Ya Tuhan…kuat sekali nih orang, masih keras gini juga!” keluh gadis itu dalam hati.
Kemudian Kahar melepaskan penisnya lalu berpindah ke belakangnya, penis itu masih berdiri tegak dan berlumuran cairan orgasme yang menetes-netes. Kahar mengangkat pinggul gadis itu hingga menungging dan mengarahkan penisnya.
“Oohh!” erang Sieny dengan mata membelakak dan mengepalkan tangan ketika penis pria itu kembali mempenetrasi vaginanya.
Kahar menyodok-nyodokkan penisnya dengan brutal sampai tubuh gadis itu terdorong-dorong ke depan dan desahannya makin tak karuan.
“Plok…plok…plok!” demikian bunyi yang timbul dari tumbukan pantat Sieny dengan selangkangan pria itu.
“Mau ngecrot Non…saya mau ngecrothhh!” erang satpam itu mempercepat sodokannya, tangannya meremasi payudara gadis itu makin liar sehingga menimbulkan rasa perih.
Sieny yang mulai bergairah lagi juga turut menggoyangkan pinggulnya membuat tusukan penis itu semakin terasa. Akhirnya dengan satu lenguhan panjang, pria itu menancapkan penis itu sedalam-dalamnya dan menyemburkan isinya mengisi rahim gadis itu. Mata Sieny merem-melek merasakan cairan kental hangat itu membanjiri bagian dalamnya.
Segera setelah Kahar mencabut penisnya dan memisahkan diri dari Sieny, si dosen bejat, Pak Dahlan menggantikannya. Gadis itu pasrah saja ketika lelaki tambun itu menaikkan tubuhnya ke pangkuannya berhadapan.
“Ayo…sekarang goyang yah!” perintah Pak Dahlan setelah penisnya terbenam dalam vagina gadis itu.
Sieny mulai menaik-turunkan tubuhnya sehingga penis Pak Dahlan mengocok-ngocok vaginanya. Pak Dahlan mengelus punggung Sieny yang sudah berkeringat, dadanya bergesekan dengan buah dada yang montok itu. Sieny semakin mendaki naik ke puncak birahinya, gerak-naik turun tubuhnya pun makin cepat. Selang beberapa menit kemudian tubuhnya berkelejotan, sebuah erangan panjang menandai orgasmenya yang kesekian kali. Beberapa detik kemudian ia terkulai lemas di pelukan si dosen bejat itu.
“Gimana rasanya Dik? Enak?” tanya Pak Dahlan memandang dekat-dekat wajah cantiknya sampai hidung mereka bersentuhan.
“Enak sekali Pak…saya suka” jawabnya lemas.
Selanjutnya pria itu menurunkan tubuh Sieny, ia berlutut di lantai dikerubuti ketiga pria itu. Ia terhenyak melihat penis-penis mereka yang tegang dan terarah padanya.
“Ayo Non, silakan dipilih mana yang mau dinikmati duluan!” kata Imron.
Rupanya dikerubungi laki-laki telanjang seperti ini menimbulkan sensasi tersendiri bagi Sieny, ia merasakan hasrat liar yang terpendam dalam dirinya menjadi kenyataan walaupun dalam situasi yang sebenarnya tidak ia inginkan. Ia meraih penis Imron dan mulai menjilatinya, sementara tangannya meraih kedua penis lain dan dikocok. Ia melakukannya dengan berpindah-pindah dari penis satu ke penis lain hingga akhirnya satu persatu menyemprotkan spermanya. Yang pertama keluar adalah Pak Dahlan, ia orgasme dalam kocokan tangan gadis itu, spermanya muncrat membasahi pipi kiri dan rambutnya. Tak lama kemudian yang lain pun menyusul sehingga Sieny sedang dimandikan oleh sperma.
“Minum Non pejunya…oohh!” erang Kahar lalu menjejali mulut Sieny dengan penisnya.
Walau agak kelabakan Sieny berusaha menghisap penis Kahar yang masih mengeluarkan isinya sampai benda itu perlahan-lahan menyusut dalam mulutnya, baru setelahnya ia mengeluarkan penisnya.
“Wuuiihh…Non ini demen minum peju yah ternyata!” kata Imron yang penisnya terus dikocok oleh Sieny seakan ingin mengeluarkan semua isinya.
Setelah tak mengeluarkan sperma lagi, Sieny membuka mulutnya dan mengulum penis Imron, membersihkannya hingga bersih mengkilap. Cairan putih kental itu tidak saja membasahi wajahnya, tapi juga menetes-netes ke leher dan dadanya. Rasa malu mulai timbul lagi di hatinya, dia teringat bagaimana dia bertingkah seperti pelacur barusan membiarkan dirinya menjadi objek seks ketiga pria tak bermoral ini, juga mulai terbayang lagi wajah kekasihnya, tapi…bagaimanapun tadi itu sungguh suatu pengalaman seks yang luar biasa, kata hatinya, kata-kata Imron dan kekasihnya kembali berkecamuk di pikirannya.
“Anggap aja dia itu vibrator…lupakan dulu batasan-batasan itu…ini kan cuma seks, bukan perasaan…kau pelacur Sien…cewek gila seks!” Sieny makin pusing mendengar semua itu terngiang-ngiang di kepalanya.
Malam itu, Pak Dahlan, si dosen bejat mengantarkannya pulang dengan mobilnya, Imron turut menemani. Sesampainya di depan gerbang, ia turun tanpa berkata apapun pada mereka dengan karena sedang dilanda kebingungan. Hari-hari berikutnya ia kembali terlibat affair dengan penjaga kampus itu di kampus. Harga dirinya yang masih tersisa hanya mendramatisir keadaan. Ia bersikap menolak ketika Imron mengajaknya masuk ke toilet, namun segala ocehannya bungkam ketika pria itu melumat bibirnya. Segalanya langsung luruh begitu pria itu melanjutkan serbuan-serbuan erotisnya. Bahkan pernah Imron berkunjung dan menginap di apartemennya. Ia tidak tahu apakah ia masih harus menyembunyikan semua ini dari kekasihnya karena hubungan seks dengan kekasihnya pun mulai terasa hambar.
######################
Enam hari kemudian.
Apartemen Sieny, jam 10.37
‘Ting-tong!’ bel di kamar itu berbunyi.
“Ya siapa?” tanya Sieny yang menghampiri speaker untuk menanyakan siapa yang datang.
“Gua” jawab suara di seberang sana.
“Ohh…Wil, naik aja!” Sieny menekan tombol pintu depan mempersilakannya masuk.
Tak lama kemudian terdengar pintu diketuk dan gadis itu bergegas membukanya. Sieny memeluk kekasihnya itu dan memberikan ciuman ringan di bibirnya, namun Willy sepertinya cuek dan melepaskan pelukan kekasihnya lalu menjatuhkan diri ke sofa. Dari wajahnya yang agak kusut sepertinya ia sedang ada masalah.
“Kenapa say?” tanya Sieny membelai rambutnya dengan lembut.
“Nggak papa…cuma masalah kerjaan biasa!” jawab pemuda itu singkat.
Sieny memeluknya erat menghiburnya seperti biasa kalau sedang ada masalah, pemuda itu pun balas memeluknya, ia mengelusi punggung gadis itu dan merasakan kekasihnya itu tidak memakai bra. Mereka berpelukan dan tidak bersuara selama beberapa menit sebelum tangan Willy mulai merambah ke depan menggerayangi payudara kekasihnya dari luar kaosnya.
“Aahh…Wil, jangan gini ah!” Sieny meronta dan mendorong pelan tubuh kekasihnya.
Namun Willy terus merangsek dan hendak menciumnya, Sieny menggeleng-gelengkan kepalanya menolak “Wil jangan sekarang please!” tolaknya halus.
Tiba-tiba Willy menjambak rambut Sieny dengan keras sehingga ia merintih kesakitan.
“Emang kenapa? Lu udah ketagihan ngentot sama si penjaga kampus itu kan sampai udah capek sama gua?” tanyanya marah sambil menarik rambut kekasihnya lebih keras lagi.
“Hah…Wil…elu…!?” Sieny gagap karena kaget bercampur takut karena memang sekitar setengah jam sebelumnya Imron baru saja meninggalkan apartemennya setelah melewati malam yang liar bersamanya.
“Jawab Sien, lu selama ini suka diam-diam main sama orang itu kan!?” pemuda itu bertanya lagi di dekat wajahnya.
“I…iya, iya Wil!” jawab Sieny dengan wajah meringis menahan sakit, ia tidak bisa menyembunyikannya lagi.
“Jadi gitu yah, gua gak nyangka lu ternyata cewek gatel gak tau diri.” Ia melepaskan jambakannya dan bangkit berdiri dengan menatap marah pada kekasihnya itu, “lu ingat…ingat apa yang lu bilang pulang dari pesta itu? Tapi ternyata lu juga yang…aahhh…!” Willy meletakkan tangan di dahinya, demikian geram sampai tak bisa meneruskan kata-katanya.
“Gua emang salah Wil…gua gak bisa nolak abis orang itu yang maksa, gua gak tau harus gimana?” katanya mulai meneteskan air mata.
“Kapan terakhir lu main sama dia?” tanyanya lagi.
“Eeemm…kemarin lusa, di kampus”
“O ya? Bukannya kemarin malam sampai dia tidur disini juga? Kan tadi orangnya baru ketemu gua baru keluar dari apartemen ini.”
Sieny hanya bisa terbengong dan tak bisa berkata apa-apa lagi, ia mencoba berbohong sedikit untuk membela diri tapi ternyata kekasihnya mengetahui lebih dari itu.
‘Plak! Aauu!’ Sieny menjerit dan memegangi wajahnya yang terkena tamparan kekasihnya itu.
“Sampai disaat-saat gini aja lu masih berani bohong, apa lagi yang bisa gua pegang dari lu Sien!” dengan geram Willy menundingnya, “Lu emang bener-bener perek, gua kecewa sama lu, gua gak mau denger apa-apa dari lu lagi, gua juga udah gak mau ketemu lu lagi!” habis berkata ia langsung berbalik badan berjalan ke arah pintu.
“Asal tau aja nyari cewek yang lebih baik dari perek kaya lu tuh ga sulit buat gua!” tambahnya sambil membuka pintu, lalu ‘Blam!’ suara pintu dibanting.
Sieny terduduk lemas di lantai, ia terisak-isak dengan membenamkan kepalanya di sofa. Dadanya terasa sesak, sakit di pipi dan kulit kepalanya belum ada apa-apanya dibanding sakit di hatinya. Bagaimana tidak, pria itu lah yang awalnya menjerumuskannya seperti ini dengan menyuruhnya bercinta dengan orang lain dengan ditonton olehnya demi sebuah variasi seks. Pemuda itu yang mengajaknya bermain-main dekat pasir apung birahi, namun ketika dirinya terperosok ke pasir apung itu, pemuda itu bukannya kasihan dan menolongnya, justru malah menyalahkan dan mencercanya. Makian ‘perek’ dan tamparan orang yang pernah dicintainya itu sungguh merupakan pukulan berat baginya, seumur hidup baru pernah ia diperlakukan demikian. Ia juga mempersalahkan dirinya sendiri yang tidak bisa mengendalikan diri dan takluk oleh gairah liarnya. Ada sebuah sajak mengatakan:
Kenikmatan sementara menghancurkan kehidupannya;
Hubungan yang indah ia serahkan pada orang lain.
Wahai mereka yang tak mampu mengekang nafsu,
Ambillah pelajaran dari kejadian ini!
#####################
Dua minggu kemudian
Rumah Pak Dahlan, jam 20.12
Desah kenikmatan dan suara ranjang berderit memenuhi kamar yang didominasi wallpaper krem dan berhiaskan perabotan bercorak klasik itu. Sesosok tubuh berpunggung bongkok seperti onta sedang naik-turun menindih tubuh mulus di bawahnya.
“Uuhhh…terus Pak, lebih cepet, mmhhh…aahhh!” erang gadis itu, wajahnya yang cantik merona merah karena sedang dilanda birahi.
Gadis itu memeluk pria bongkok yang mirip Quasimodo itu erat-erat sambil sesekali berciuman dengannya. Tubuh mereka terus berpacu hingga akhirnya gadis itu mencapai orgasmenya dan mendesah panjang, kuku tangannya menancap di punggung pria bongkok itu. Tak sampai lima menit kemudian, pria itu juga sepertinya akan orgasme, namun ia mencabut penisnya dan buru-buru naik ke dada si gadis. Dikocoknya penis itu sejenak lalu,
“Ooohh…keluar Non!!” lenguhnya sambil menyemprotkan sperma yang membasahi wajah, leher dan dada gadis itu.
Gadis itu dengan rakus menelan dan menjilati sperma yang menempel di sekitar bibir tipisnya. Kemudian jarinya yang lentik menyeka cairan putih yang tercecer di dadanya dan lalu mengemutnya. Diraihnya penis pria itu ketika pemiliknya mendekatkan benda itu ke mulutnya, tanpa diperintah lagi, ia membuka mulut dan membersihkan penis yang mulai mengecil itu dengan hisapan dan jilatannya. Si bongkok itu langsung terkulai lemas di sebelah gadis itu setelah penisnya dibersihkan.
“Puas banget ngentot sama Non Sieny…apalagi isepannya wuih mantep deh!” puji Thalib, si tukang kebun bongkok itu, “kalau udah ngerasain Non rasanya ga pengen yang lain deh!”
“Gombal, bukannya udah banyak ngembat cewek lain juga!” Sieny tersenyum kecil.
“Iya…maksud Bapak, sama Non itu paling enak, beda ama lainnya hehehe!”
“Non, omong-omong pacar Non tau gak kalau Non suka ginian?” tanya Thalib sambil mengelus lembut payudaranya.
“Pak, tolong yah jangan ungkit-ungkit yang satu ini!” jawab Sieny ketus, wajahnya tiba-tiba menjadi cemberut dan menepis tangan pria itu dari dadanya.
“Eh…Non, kenapa? Maaf Bapak ga sengaja!” kata Thalib terbata-bata, “lho Non, mau kemana nih? Kok jadi sewot gitu sih?” ia meraih tangan Sieny yang turun dari ranjang, namun gadis itu menghentakkan tangannya dan berjalan ke pintu tanpa berkata apapun.
“Non…Non!” panggil Thalib, namun Sieny tidak menghiraukannya ia keluar dan menutup pintu dengan setengah dibanting. Thalib yang masih lemas hanya bisa mendongkol ditinggal sendirian di kamar.
Dengan hati masih panas Sieny melangkahkan kakinya ke arah tangga turun, tubuhnya masih polos tanpa selembar benangpun, ia sangat sebal diingatkan lagi pada kenangan buruk dengan pacarnya yang baru membuat hatinya hancur belum lama ini. Dari tangga, telinganya sudah mendengar suara desahan di lantai bawah, tepatnya berasal dari ruang tengah. Di tempat itu, ia melihat dua pasang pria dan wanita sedang asyik mereguk kenikmatan birahi, televisi yang menyala nampaknya sudah tidak diperhatikan lagi. Di sebuah sofa panjang Pak Dahlan sedang berbaring sambil menikmati Joane, si bispak kampus, yang sedang melakukan woman on top di atasnya, sesekali bibir mereka berpagutan. Sementara di sofa sebelahnya, Imron sedang duduk bersandar, seorang gadis cantik berlutut di antara kedua pahanya yang dibuka dan mengoral penisnya. Gadis itu tidak lain adalah Devi, foto model dan artis pendatang baru, juga teman dekat Joane yang sama-sama telah menjadi budak seks Imron.
“Ooohh…sip Non!” lenguhnya sambil mengelus rambut gadis itu, “Eh…Non Sieny, kok turun? Udahan mainnya?” sapanya begitu melihat Sieny.
“Mo minum!” jawabnya singkat sambil melengos ke dapur.
Dua menit kemudian ia kembali sambil meneguk air dari gelas, ia menghampiri Imron dan duduk di sebelahnya setelah meletakkan gelas di meja.
“Si Thalib mana Non? Kok ditinggal?” tanya Imron.
“Hhhh…nyebelin, payah, mending sama Bapak aja, kita threesome, ok?” sebuah senyum nakal menghiasi wajah cantiknya.
Kemudian ia turun dari sofa dan berlutut di lantai berlapis karpet itu, dan menarik lengan Devi yang sedang mengoral penis Imron.
“Dev, yuk sini!” katanya seraya memutar tubuh gadis itu saling berhadapan dengannya.
Keduanya berpelukan dan bibir mereka makin dekat dan akhirnya berpagutan. Lidah mereka saling bertautan dan payudara mereka saling berhimpit menciptakan pemandangan yang erotis.
“Biar saya bersihin Ci” kata Devi lirih lalu mulutnya mulai turun ke leher Sieny menjilati ceceran sperma yang masih tersisa.
“Mmhh…Dev!” desah Sieny ketika mulut Devi mencapai payudaranya dan mulai menciuminya.
Sieny merebahkan tubuhnya di karpet membiarkan Devi mengenyot payudaranya, tubuhnya menggeliat ketika jari-jari Devi memasuki vaginanya.
“Aaahh!” tiba-tiba Devi medesah dan tubuhnya menggeliat, ia menengok ke belakang.
Ternyata Imron sedang melesakkan penisnya ke vaginanya, kembali ia mulai ribut merintih ketika Imron mulai memacu pinggulnya. Sieny menarik Devi dalam dekapannya dan kembali memagut bibirnya. Demikianlah kelima orang di ruang tengah itu pun hanyut dalam lautan birahi. Kehilangan cinta membuat Sieny hidup mengikuti keinginan nafsunya, ia kini telah menjadi salah satu pelacur bagi Imron dan teman-teman bejatnya. Gairah liar dalam dirinya dari hari ke hari semakin tak terkendali, ia bahkan mulai menjual dirinya pada om-om dengan tarif tinggi. Memang uang bukanlah tujuan utamanya, ia melakukannya sekedar untuk pelarian dari kepahitan hidupnya, ia merasakan ada semacam kepuasan tersendiri bila ada orang bersedia membayar mahal untuk menikmati tubuhnya atau dinikmati gratis oleh mereka yang dari strata sosial di bawahnya
Untuk informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi Customer Service kami di :
PiN BB : 7F19FD2F
WA : +66.984.849.737
YM : Genkpoker_cs1@yahoo.com
YM : Genkpoker_cs2@yahoo.com
FP : @GENKXPOKER
Link : http://bit.do/cngMh
Alternatif Link :


Comments
Post a Comment